Wednesday, March 20, 2019

KETIKA SAUDARA KITA BERBUAT DOSA DAN TERANCAM MASUK NERAKA KENAPA KITA TIDAK PEDULI ?


Oleh Siswo Kusyudhanto
Peristiwa pembantaian sebagian Umat Islam di New Zealand membuat banyak Umat Islam di seluruh dunia menangis sedih dan berdoa untuk mereka para korban dan juga keluarga yang ditinggalkan.
Semoga mereka selalu dirahmati Allah Ta'ala, aamiin.
Karena [eristiwa ini tiba-tiba solidaritas Umat Islam berada diposisi puncaknya karena mereka peduli dengan nasib saudaranya yang ditimpa kemalangan.
Jika saja peristiwa tersebut tidak terjadi mungkin kategori peduli Umat Islam kepada Umat Islam lainnya dalam kadar biasa-biasa saja, seperti hari lainnya.
Padahal kematian adalah tragedi kecil dalam pandangan Islam, karena kematian adalah sebuah perpindahan perjalanan kepada fase selanjutnya yakni alam kubur, dan tragedi terbesar dan terburuk dalam fase seorang Muslim adalah jika mereka menjadi penghuni neraka.
Maka perlu kita tanyakan kepada diri kita masing-masing sebagai seorang Muslim, apakah kita masih merasa peduli dan rasa sayang ketika ada saudara-saudara kita melakukan sesuatu yang mengarahkan mereka kepada jalan menuju neraka?.
Apakah kita peduli dan kemudian berusaha membantu seorang Muslim yang notabene saudara kita ketika dia tidak dapat membaca Al-Quran sama sekali?
Apakah kita peduli dan merasa sayang kepada saudara kita untuk menasehati dan mengajaknya meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat yang dilarang oleh Allah dan RasulNya?.
Apakah kita peduli dan berusaha mengingatkan mereka ketika diantaranya melakukan riba yang jelas merupakan dosa besar yang dapat menjadi tiket seseorang menjadi penghuni neraka?.
Apakah juga kita peduli dan berusaha mengingatkan saudara kita ketika dia mengerjakan amalan-amalan yang masuk amalan bid'ah, ini juga merupakan perbuatan yang dapat memasukkan seseorang kedalam neraka.?
Apakah kita peduli dan berusaha mengingatkan saudara kita ketika dia berbuat amalan kesyirikan yang merupakan kejahatan yang tidak diampuni oleh Allah Ta'ala dan dapat membuat pelakukan kekal di neraka?
Dan banyak lagi kepedulian dan rasa sayang yang perlu ditanyakan kepada kita atas apa yang dikerjakan atau yang terjadi kepada saudara kita sesama Muslim selama ini.
Semoga tulisan ini menginspirasi dan membuat kita makin peduli dan sayang kepada sesama Muslim, karena antara Muslim satu dan lainnya adalah bersaudara.
Waa'allahua'am.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits yang dibawakan oleh an-Nu’mân bin Basyîr Radhiyallahu anhu :
مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهْرِ وَالْحُمَّى. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِي وَمُسْلِمٌ (وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ).
Perumpamaan kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling menyayangi dan saling berlemah-lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur.
[HR. Bukhâri dan Muslim, sedangkan lafalnya adalah lafazh Imam Muslim].

JANGAN MUDAH MENGATAKAN SESEORANG MATI SYAHID


Dalam sebuah kajian Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah menerangkan pentingnya menjaga lidah kita untuk tidak mengatakan si fulan mati syahid, atau si fulanah mati syahid, karena bukan hak kita menentukan dan mengetahui seseorang mati syahid, hak akan hal ini mutlak ada didalam kekuasaan dan pengetahuan Allah Ta'ala.
Dan hal seperti ini mungkin sering kita jumpai akhir-akhir ini, mereka mengatakan si fulan mati syahid atau si funalah mati syahid, padahal hal itu belum tentu benar, perilaku seperti ini sebenarnya sudah terjadi sejak jaman Nabi Muhammad Shalalallahu alaihi wa Sallam.
Jagalah lidah kita dari perkataan yang kelak dapat menjadi fitnah bagi diri kita kelak.
Allah Ta’ala berfirman :
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. [Al-Isra’:36]
Janganlah karena dorongan emosional, lalu kita berbicara tanpa ilmu yang berakibat mencelakakan kita sendiri.
Dahulu di zaman Nabi sempat muncul beberapa kejadian yang membuat sebagian sahabat mengeluarkan vonis kebahagiaan di akhirat kepada beberapa sahabat yang lain, namun dengan segera Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menampik persaksian mereka itu, karena hal semacam ini tidak ada yang tahu termasuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kalaulah tanpa berita wahyu dari langit Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan mengetahui.
Suatu ketika seorang sahabat mulia Utsman bin Madz’un meninggal dunia, segeralah seorang wanita mempersaksikan baginya kemuliaan di Akhirat, namun dengan segera Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menukas persaksiannya. Kisah berharga tersebut termaktub dalam kitab Shahih Al-Bukhari, bahwa seorang wanita bernama Umul ‘Ala, wanita Anshor yang pernah berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkisah bahwa saat itu dibagikan undian orang-orang muhajirin, maka kami mendapatkan bagian Utsman bin Madz’un sehingga kami menempatkannya di rumah kami, tapi ia dirundung sakitnya yang menyebabkan kematiannya, maka ketika beliau wafat dan dimandikan lalu dikafani dengan kain kafannya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk, aku-pun mengatakan,
“Rahmat Allah atas dirimu wahai Abu Saib (Utsman bin Madz’un), persaksianku terhadap dirimu bahwa Allah telah memuliakan dirimu”, maka serta merta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Darimana kamu tahu bahwa Allah telah memuliakannya”. Akupun mengatakan, ”Ayahku sebagai tebusanmu Wahai Rasulullah, lalu siapa yang Allah muliakan?” Rasulullah menjawab: ”Adapun dia maka telah datang kematiannya, demi Allah aku benar-benar berharap untuknya kebaikan, demi Allah saya sendiri tidak tahu -padahal aku ini adalah utusan Allah- apa yang nantinya akan diperlakukan terhadap diriku”. Umul ‘Ala mengatakan: Demi Allah aku tidak lagi memberikan tazkiyah (persaksian baik) setelah itu selama-lamanya.
Coba renungi kisah ini, siapakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, siapakah Utsman bin Madz’un dan siapakah Umul ‘Ala.
Adapun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sudah jelas bagi kita siapakah beliau, adapun Utsman bin Madz’un maka beliau termasuk orang–orang yang pertama masuk Islam (as-sabiqunal awwalun) Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa beliau adalah orang yang ke 14 dalam masuk Islam, beliau ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia) bersama anaknya, beliau termasuk pasukan perang Badar. Demikian biografinya sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam kitab al-Ishabah. Ummu ‘Ala sendiri adalah Shahabiyyah (sahabat wanita) yang mulia periwayat hadits Nabi, dan salah seorang wanita yang berbai’at kepada Nabi, siap untuk tunduk patuh kepada titahnya.
Marilah kita renungkan, seorang wanita mulia bersaksi atas kebahagiaan seorang lelaki yang hidupnya penuh dengan perjuangan besar, namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghentikan persaksiannya, lebih daripada itu, beliau tegaskan bahwa beliau sendiri sebagai seorang Rasul tidak mengetahui nasib dirinya.
Sementara di waktu lain, Aisyah radhiyallahu ‘anha juga pernah bersaksi atas kebahagiaan di akhirat untuk seorang anak kecil yang meninggal dunia. Diriwayatkan sbb :
Dari Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata bahwa Rasulullah pernah diminta untuk menyolati jenazah seorang anak dari Al-Anshor, maka aku katakan: ”Wahai Rasulullah beruntung anak ini, (ia menjadi seekor) burung ushfur dari burung-burung ushfur di dalam Surga, ia belum berbuat kejelekan sama sekali dan belum menjumpainya. ” Nabi menjawab: ”Atau (bahkan) selain itu, wahai Aisyah, sesungguhnya Allah menciptakan untuk surga penghuninya, Allah ciptakan mereka untuk surga sejak mereka berada pada tulang sulbi ayah-ayah mereka, dan Allah menciptakan untuk neraka penghuninya Allah menciptakan mereka sejak mereka dalam tulang sulbi ayah-ayah mereka. ” [Shahih HR Muslim]
Ya, seorang bocah yang masih suci belum melakukan kejelekan dan belum menjumpainya sebagaimana tutur Aisyah, dan ia adalah seorang anak sahabat Anshor sehingga ‘Aisyah-pun bersaksi atas kebahagiaannya. Ternyata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menegur ‘Aisyah atas persaksiannya, mengapa? Sebagian ulama mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri waktu itu belum tahu tentang nasib anak-anak muslim itu. Ulama yang lain mengatakan –atas dasar bahwa anak muslim nantinya bakal di surga dan itu telah disepakati ulama– bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin melarang ‘Aisyah untuk terburu-buru memastikan sesuatu tanpa ada dalil yang pasti. Hal itu karena ini adalah urusan ghaib, urusan akhirat yang hanya di Tangan Allah dan manusia tidak tahu-menahu tentangnya.
Bahkan dalam kejadian lain, di sebuah perjalanan peperangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beberapa sahabat sempat memvonis surga bagi seseorang yang mati di sela-sela perjalanan itu, diriwayatkan,
Dari Abu Hurairah ia berkata: Kami keluar bersama Nabi menuju ke Khaibar, maka Allah memenangkan kami, dan kami tidak mendapat rampasan perang berupa emas, ataupun perak, tapi kami mendapatkan rampasan berupa barang-barang, makanan dan pakaian. Lalu kami beranjak ke sebuah lembah, dan bersama Rasulullah seorang budak, beliau diberi oleh seorang dari bani Judzam, panggilannya Rifa’ah bin Zaid dari bani Dhobib, maka ketika kami singgah di lembah itu budak tersebut bangkit untuk melepaskan bawaan tunggangannya, ternyata dia dilempar panah sehingga itu menjadi sebab kematiannya, kamipun mengatakan: “Berbahagialah dia dengan pahala syahid, wahai Rasulullah.” Rasulullah mengatakan: “Sekali-kali tidak, demi yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya kainnya akan menyalakan api padanya, ia mengambilnya dari rampasan perang pada perang Khaibar dan belum dibagi.” Abu Hurairah berkata: ”Maka orang-orang sangat takut sehingga ada seorang yang menyerahkan satu tali sandal atau dua tali sandal dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, kami mendapatkannya pada perang Khaibar,” maka Rasulullah bersabda: “Satu atau dua tali sandal dari neraka.”. ”
Para sahabat mempersaksikan kesyahidan untuk budak tersebut, budak yang membantu Nabi, berjuang bersama beliau, meninggal dalam perjalanan perang yang tentu semuanya itu sebenarnya adalah jihad fi sabilillah. Namun dengan tegas Nabi membantah persaksian mereka, bahkan diiringi dengan sumpah dengan nama Allah, dan bahwa pelanggarannya berupa mencuri selembar kain sebelum dibagi-bagikan menghalanginya untuk mendapatkan kemuliaan syahid, ya, hanya karena selembar kain yang dia curi…
Yang lebih membuat tercengang para sahabat adalah peristiwa lain dimana Nabi bersaksi neraka terhadap seseorang yang berjuang keras dalam berjihad. Imam Al-Bukhari meriwayatkan,
Dari Sahl bin Sa’ad ia mengatakan: Bahwa Rasulullah bertemu dengan orang-orang musyrik sehingga mereka saling menyerang, maka tatkala Rasulullah menuju ke kampnya, dan yang lain juga menuju ke kamp mereka, sementara di antara para sahabat Nabi ada seseorang yang tidak membiarkan seorangpun (dari musyrikin-pent) yang lepas dari regunya kecuali dia kejar dan dia tebas dengan pedangnya. Akhirnya para sahabat mengatakan: “Tidaklah seorangpun dari kita pada hari ini mencukupi seperti yang dicukupi Fulan itu.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Sesungguhnya dia termasuk penduduk Neraka” (dalam sebuah riwayat): Maka para sahabat mengatakan: “Siapa diantara kita menjadi penghuni Al-Jannah, bila dia saja termasuk penghuni An-Nar ?”
Maka seseorang diantara orang-orang mengatakan: Aku akan menguntitnya terus. Iapun keluar bersamanya, setiap kali orang itu berhenti ia ikut berhenti, dan jika dia cepat iapun cepat. Ia berkisah: Lalu orang itu terluka dengan luka yang parah, maka ia ingin segera mati sehingga ia letakkan (gagang) pedangnya di bumi dan ujungnya di antara dua dadanya kemudian dia mengayunkan dirinya di atas pedangnya, sehingga iapun membunuh dirinya. Lalu orang yang menguntitnya itu datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan: “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah”. Beliau mengatakan: “Kenapa ?”, Ia menjawab: “Orang yang engkau sebutkan tadi bahwa dia termasuk penghuni Neraka.” Lalu orang-orang tercengang dengan hal itu. Maka aku katakan: “Aku (akan membuktikan) untuk kalian tentangnya. Maka aku keluar menguntitnya sampai ia terluka dengan luka yang parah maka ia ingin cepat mati, akhirnya ia letakkan gagang pedangnya di bumi dan ujungnya di antara dua dadanya, lalu ia ayunkan dirinya di atas pedangnya sehingga iapun membunuh dirinya.“ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang benar-benar beramal dengan amalan penghuni Al-Jannah -yang nampak bagi manusia- sementara dia termasuk penghuni Neraka. Dan sungguh seseorang beramal dengan amalan penghuni Neraka -yang nampak bagi manusia- sementara dia termasuk penghuni Al-Jannah.”
[Shahih, HR Al-Bukhari dan Muslim]
Sumber Refernsi salafy.or

SUDAH UMUR 40 TAHUNAN KOK MASIH NAKAL? ( WARNING !!!)


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dulu ketika masih bekerja disebuah perusahaan multinasional ada rekan kerja yang sangat bagus kinerjanya, waktu itu umurnya sudah menginjak 40 tahun, namun dibalik itu dalam kehidupan pribadinya dia bukan pribadi yang baik, waktu luangnya dihabiskan di kelab malam, main judi bilyar dan minum alkohol hampir setiap malam.
Sempat saya memberi nasehat kepadanya, namun karena lingkungan dan pergaulan dia memang memiliki hobby yang sama maka nasehat saya bagai angin lalu saja.
Selang beberapa tahun kami berpisah karena dia pindah pekerjaan, dan ketika saya berjumpa dengannya saya ketahui dari ceritanya bahwa keluarganya berantakan, dia sudah bercerai dengan istrinya karena tidak tahan dengan kebiasaan suaminya yang selalu bermaksiat.
Jadi teringat kajian seorang ustadz ketika membahas hal umur 40, kata beliau kenapa para nabi dan Rasul diangkat ketika mereka masuk umur 40 tahun?, Karena diusia ini adalah umur yang matang bagi seorang manusia dalam segala hal, dia sudah melihat hakekat kehidupan dari mana dia dan akan kemana.
Nasehat penting bagi kita semua ketika usia menginjak angka 40 tahun, mulailah cepat-cepat memperbaiki diri, karena durasi umur kita makin sedikit, dan artinya waktu untuk mendulang pahala dari amal ibadah juga makin sedikit, sementara dosa kita mungkin sangat banyak di masa lalu, waalahua'lam.
Allah Ta’ala berfirman,
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:
ROBBI AWZI’NII AN ASYKURO NI’MATAKALLATII AN ‘AMTA ‘ALAYYA. WA ‘ALAA WAALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOHU, WA ASHLIH LII FII DZURRIYATII.
“Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15)
Al-Imam Al-Qurthubi menyatakan bahwa orang yang telah mencapai usia 40 tahun, maka ia telah mengetahui besarnya nikmat yang telah Allah anugerahkan padanya, juga kepada kedua orang tuanya sehingga ia terus mensyukurinya.
Imam Malik berkata,
أَدْرَكْتُ أَهْلَ العِلْمِ بِبَلَدِنَا وَهُمْ يَطْلُبُوْنَ الدُّنْيَا ، وَيُخَالِطُوْنَ النَّاسَ ، حَتَّى يَأْتِيَ لِأَحَدِهِمْ أَرْبَعُوْنَ سَنَةً ، فَإِذَا أَتَتْ عَلَيْهِمْ اِعْتَزَلُوْا النَّاسَ
“Aku mendapati para ulama di berbagai negeri, mereka sibuk dengan aktivitas dunia dan bergaulan bersama manusia. Ketika mereka sampai usia 40 tahun, mereka menjauh dari manusia.” (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, 14:218)
Ibnu Katsir menyatakan bahwa ketika seseorang berada dalam usia 40 tahun, maka sempurnalah akal, pemahaman dan kelemah lembutannya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:623)
Sumber Referensi "Umurku sudah 40 tahun", karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc. Di rumoysho.co

SIBUKKAN DIRI DENGAN MENUNTUT ILMU


Oleh Siswo Kusyudhanto
Ketika ada seorang ustadz membahas pentingnya menuntut ilmu jadi teringat kisah perjuangan Ustadz Zulfikar dalam mencari sanad ilmu tajwid kepada seorang Syaikh di Kota Madinah.
Saat itu beliau pergi ke Kota Madinah untuk mencari sanad ilmu tajwid kepada para Syaikh di kota Nabi itu, namun setelah mencari Syaikh yang dapat mengajarkan ilmu tajwid kepadanya selama dua Minggu belum juga dapat guru yang tepat karena para Syaikh sedang sibuk mengajar dan banyak acara seperti seminar ataupun kajian diberbagai tempat.
Sampailah beliau berjumpa dengan seorang Syaikh asal Mesir yang mengajar di Masjid Nabawi dan kemudian beliau mengutarakan maksud hati ingin menuntut ilmu tajwid, dan beliau juga menyampaikan alasan kenapa mencari ilmu tersebut, yakni karena beliau bertanggung jawab kepada sekolah Tahfizh yang beliau bina, dan juga dengan modal ilmu tersebut digunakan dalam mengajarkan kepada para santri, dan mendengarkan ini si Syaikh gembira, dan langsung menyetujui keinginan Ustadz Zulfikar.
Mendengar ini Ustadz sangat gembira, maka sejak itu beliau menimba ilmu kepada si Syaikh, dan selain duduk berhadapan face to face kegiatan mengajar juga dilakukan disela kesibukan si Syaikh, tentu hal ini membuat sangat bersusah payah dilakukan, bahkan dikisahkan saking sibuknya si Syaikh dengan kegiatannya penyampaian ilmu tajwid itu dilakukan ketika si Syaikh turun dari mobil sampai masuk kelas atau kantor dimana si Syaikh bekerja, MasyaAllah.
Dan dalam waktu singkat hanya satu bulan ilmu tajwid yang ingin diperoleh oleh Ustadz Zulfikar didapatkan , ketika si Syaikh melihat Ustadz Zulfikar sudah cukup menimba ilmu beliau mengatakan, " Cepatlah pulang dan sebarkan ilmu yang engkau miliki kepada para penuntut ilmu di Indonesia".
Pelajaran penting dari kisah diatas yakni ketika ilmu dipandang sebagai sesuatu yang berharga maka seseorang akan berusaha keras untuk mendapatkannya, sementara selama seseorang tidak melihat ilmu adalah barang berharga maka selamanya dia malas dan tidak pernah mencarinya.
Ilmu yang dimaksud disini adalah ilmu agama, sedang diluar itu bukanlah ilmu, waalahua'lam.
Allah berfirman,
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS Az Zumar: 9)

KISAH PEMUDA HIJRAH YANG INSPIRATIF


Oleh Siswo Kusyudhanto
Jika mengingat kembali sosok pemuda ini yang tertera gelar Rahimahullah dibelakang namanya tiba-tiba jadi haru biru, bahkan kadang meneteskan air mata.
Dulu di Masjid Raudhatul Jannah Pekanbaru ada seorang pemuda yang baru saja berhijrah kepada pemahaman agama yang benar, dan baru duduk di kelas dua sekolah menengah atas, di hijrah dari cara beragama lamanya mungkin baru dua tahunan, sebelumnya dia beragama hanya ikut-ikutan, namun setelah mengenal Dakwah Sunnah dia jadi mengetahui bagaimana beragama yang benar sesuai syariat Allah dan RasulNya.
Sejak itu dia rajin duduk di kajian rutin ataupun Tabligh Akbar yang disampaikan para ustadz serta Syaikh, dari sana dia memiliki modal dalam beramal ibadah dan berusaha Istiqomah diatasnya.
Dia dikenal luas jama'ah kajian setelah menjadi salah satu relawan di Masjid Raudhatul Jannah Pekanbaru, dia selalu aktif dalam kegiatan di masjid ini, seperti menjadi relawan yang menyiapkan ratusan porsi makanan dan minuman bagi para jama'ah pada saat bulan Ramadhan, menjadi relawan saat qurban, dan seterusnya.
Soal amal ibadah juga ini pemuda sangat baik, dia selalu berdiri dibelakang imam shalat fardhu di Masjid Raudhatul Jannah sejak mengetahui keutamaan berada di shaf pertama saat shalat fardhu berjamaah.
Dia rajin datang ke kelas tahsin, bacaan Al-Qur'an yang ada di Masjid Raudhatul Jannah, bahkan jika dia tidak datang banyak orang yang merasa kehilangan dirinya.
Soal sedekah juga sangat baik, si pemuda ini sering membagi kurma gratis kepada para jama'ah kajian, dengan cara membungkus setiap tiga kurma dalam satu plastik kecil, juga dia sering membagikan parfum botol kecil yang umum digunakan jama'ah kajian, dan yang terbaik dari amalan sedekahnya yakni dia berikan sedekahnya itu dilakukan baik kepada orang dikenal olehnya bahkan dia tidak kenal sekalipun.
Soal puasa juga boleh dibilang diatas rata-rata, sejak hijrah puasa Nabi Daud selalu dia lakukan, padahal dalam kelompok amalan puasa jenis puasa ini adalah paling berat, karena sehari puasa dan sehari tidak puasa.
Namun sayang si pemuda pulang kembali kepada Allah Ta'ala lebih cepat, dia meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan pada suatu pagi.
Yang dikenang banyak orang adalah banyaknya kebaikan yang telah dia dilakukan, yang dikenang banyak orang juga cita-citanya untuk kuliah di Universitas Islam Madinah, serta dikenang sedekahnya kepada banyak orang meskipun cuma sedikit kurma dan parfum namun sedekahnya itu sangat membekas dalam di hati banyak orang yang menerima sedekah dan mengetahui kebaikannya.
Juga bagaimana semangatnya dia menuntut ilmu masih menghiasi ingatan banyak orang.
Maka ketika jasad si pemuda dishalatkan di Masjid Raudhatul Jannah ribuan orang hadir, mensholatkan dan mendoakannya, juga mengantar kepergiannya, orang yang awam mungkin akan mengira yang dishalatkan adalah orang penting seperti Ustadz atau Syaikh, padahal bukan, dia cuma seorang pemuda yang berusaha Istiqomah diatas amal ibadah dan berusaha berakhlak baik.
Sangat sedikit Pemuda seperti itu, semoga dia termasuk golongan yang disebut dalam sebuah hadits yang dinaungi Allah Ta'ala kelak ketika kiamat, yakni pemuda yang hidup diatas amal ibadah disebabkan ketaatannya kepada Allah Ta'ala, Aamiin.
Juga semoga tulisan ini menginspirasi pembacanya, terutama nasehat bagi penulis, aamiin.
Dalam sebuah hadits dari Shahabat Salmân al-Fârisi Radhiyallahu anhu disebutkan tentang pemuda yang dinaungi oleh Allah Azza wa Jalla pada hari Kiamat :
أَفْنَى شَبَابَهُ وَنَشَاطَهُ فِي عِبَادَةِ اللهِ
Dia menghabiskan waktu mudanya dan rajin dalam beribadah kepada Allâh
Lihat Fat-hul Bâri (II/145).
Sumber Referensi, " Tujuh Golongan yang di naungi oleh Allah Azza wa Jalla pada Hari Kiamat", karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas di almnhaj.or

JAMAN DIMANA PENGIKUT KEBENARAN SANGAT SEDIKIT


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dulu ada dari team dakwah Pekanbaru memasang baliho anti riba disebuah daerah, namun hanya selang dua atau tiga hari baliho dakwah sumbangan donatur itu dirusak oleh sekelompok orang yang tidak dikenal, sampai baliho itu hampir roboh, SubhanaAllah.
Ini bukti nyata bahwa niatan baik yakni menghimbau masyarakat agar menjauhi perbuatan riba dan memakan haram, meskipun didasarkan kepada dalil Sahhih dari Al-Qur'an dan Hadits belum tentu semua orang dapat menerimanya, padahal itu memuat nasehat yang benar.
Ini juga bukti nyata bahwa pengikut kebenaran sangatlah sedikit, yakni sedikit sekali orang yang anti riba daripada orang yang suka berbuat riba.
Bukan saja soal riba, namun juga perkara2 larangam agama lainnya, seperti soal maksiat, bid'ah dan syirik.
Jika disampaikan larangan berbuat maksiat seperti zina, pasti ditentang oleh para pelakunya.
Jika disampaikan larangan berbuat bid'ah pastilah ditentang oleh para pelaku kebid'ahan.
Jika disampaikan larangan berbuat kesyirikan pastilah ditentang oleh pelaku kesyirikan.
Dan seterusnya.
Teringat seorang ustadz menyebutkan soal ini dalam sebuah kajian, kita telah sampai pada jaman dimana pengikut kebenaran sangat sedikit jumlahnya, sementara pengikut kebathilan sangat besar jumlah pengikutnya, akibatnya jika pengikut kebenaran menyampaikan risalah dari Al-Qur'an dan Hadits Sahhih maka pengikut kebenaran jadi terlihat buruk karena jumlah mereka sangat sedikit, akhirnya pengikut kebenaran dituding berbagai macam sebutan, mulai Wahabi, suka mengkafirkan, suka menyalahkan amalan orang dan sebutan buruk lainnya.
Waalahua'lam.
Allah Ta'ala berfirman yang artinya:
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allâh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persanggkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah mengira-ngira saja. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk."
[Al-An’am/6:116-117]

BAHAYANYA LIDAH




Oleh Siswo Kusyudhanto
Dulu ada dai terkenal ketika menjawab pertanyaan jama'ah taklimnya tentang salafi Wahabi, dengan santai dia mengatakan sejumlah fitnah kepada kelompok yang dijuluki wahabi, " Wahabi itu karena namanya sudah jelek sekali, kemudian berganti nama menjadi salafi", dan video ini di share ribuan kali oleh orang yang awam dalam perkara ini, kontan perkataan dia menjadi kontroversi di sosial media, sampai para ustadz membuat tulisan bantahan akan pernyataan tersebut guna meluruskan pernyataan dai yang keliru itu, diantaranya yakni Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, dan setelah itu tidak ada lagi jawaban dari pihak dai yang berkata demikian.
Seakan perkara ini sudah usai, padahal belum usai, akibat pernyataan tersebut yang tersebar dikalangan orang awam, terutama di Kota Pekanbaru ada beberapa kelompok bacaan yang diduga dari kelompok salafi wahabi Al-Qur'an dibubarkan, bahkan ada tempat dimana peserta bacaan Al-Qur'an mencapai ratusan orang tiba-tiba terhenti dan dibubarkan oleh orang setempat, SubhanaAllah.
Demikian dahsyatnya lisan, ketika menyampaikan sesuatu dapat berakibat fatal kepada orang lain, banyak orang terhenti belajar membaca Al-Qur'an yang benar karena lisan yang keliru ketika menyampaikan sesuatu.
Sungguh benar dalam syariat Islam seseorang diwajibkan menjaga lidahnya, dari lidah seseorang bisa masuk surga atau juga malah masuk neraka, maka jagalah lidah kita, fikirkan matang2 dari akibat ucapan lidah kita.
Semoga kita termasuk orang yang selamat dari maksiat lidah, aamiin.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
“Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu Allah menaikkannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka Jahannam”. [HR al-Bukhâri, no. 6478].
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah menjelaskan makna “dia tidak menganggapnya penting”, yaitu dia tidak memperhatikan dengan fikirannya dan tidak memikirkan akibat perkataannya, serta tidak menduga bahwa kalimat itu akan mempengaruhi sesuatu. [Lihat Fat-hul-Bâri, penjelasan hadits no. 6478]
Sumber Referensi, "Mengendalikan Lidah", karya Ustadz Abu Muslim Al Atsari di web almanhaj.or