Thursday, September 13, 2018

NYARIS TIDAK PERCAYA INI TERJADI DI INDONESIA (ZINA)


Oleh Siswo Kusyudhanto
Berdasarkan perkiraan dari BKBN, ada sekitar 2.000.000 kasus aborsi yang terjadi setiap tahunnya di Indonesia. Berarti ada 2.000.000 nyawa yang dibunuh setiap tahunnya secara keji tanpa banyak orang yang tahu. Melihat data ini sungguh bikin kita miris, di negri yang mayoritas Muslim, ternyata banyak sekali terjadi amalan jahiliyah ini disekitar kita.
Padahal Islam jelas menentang perbuatan zina, apalagi sampai kemudian akibat zina terjadi pembunuhan terhadap janin yang jelas jasad bernyawa hasil hubungan intim tampa ikatan jelas diharamkan dalam syariat Islam.
Dalam sebuah kajian Usttadz Abu Zubair Haawary menyebutkan, " Pacaran dan pergaulan bebas diantara lelaki dan perempuan adalah pintu utama menuju perzinahan. Karena dengan berduaan dengan bukan yang mahramnya ada pihak ketiga yang menyertai mereka yakni setan, dan setan akan dengan mudah menjerumuskan sepasang manusia untuk melakukan perzinahan."
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
كُـتِبَ عَلَـى ابْنِ آدَمَ نَصِيْبُـهُ مِنَ الـِزّنَا مُدْرِكٌ ذٰلِكَ لَا مَـحَالَـةَ : فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُـمَـا النَّظَرُ ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُـمَـا الْاِسْتِمَـاعُ ، وَالـِلّسَانُ زِنَاهُ الْـكَلَامُ ، وَالْيَـدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْـخُطَى ، وَالْقَلْبُ يَـهْوَى وَيَتَمَنَّى ، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَ يُـكَـذِّبُـهُ
Telah ditentukan atas anak Adam (manusia) bagian zinanya yang tidak dapat dihindarinya : Zina kedua mata adalah melihat, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lisan adalah berbicara, zina tangan adalah dengan meraba atau memegang (wanita yang bukan mahram, Pen.), zina kaki adalah melangkah, dan zina hati adalah menginginkan dan berangan-angan, lalu semua itu dibenarkan (direalisasikan) atau didustakan (tidak direalisasikan) oleh kemaluannya.
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahîh, diriwayatkan oleh :
1. Al-Bukhâri, no. 6243.
2.Muslim, no. 2657 (21),lafazh ini miliknya.
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. [al-Isrâ’/17:32].
Allâh Azza wa Jalla menyebutkan, وَلَا تَقْرَبُوا الِـزّنَـى “dan janganlah kamu mendekati zina!” Allâh tidak berfirman, وَلَا تَـزْنُـوْا “Jangan berzina!” Kenapa demikian ? Karena Allâh Azza wa Jalla hendak menutup rapat jalan-jalan yang membawa kepada perbuatan zina.
Allâh Azza wa Jalla melarang mendekati jalan-jalan menuju zina, apapun bentuknya. Misalnya dengan menonton tayangan yang mengumbar aurat,[4] membaca majalah-majalah atau buku-buku porno, khalwat (berduaan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram), berpacaran, tinggalnya seorang laki-laki di rumah bersama pembantu perempuannya atau bentuk-bentuk khalwat lain walaupun asalnya berniat baik seperti mengantarkan seorang wanita ke tempat tertentu, mengumbar pandangan, sering teleponan dengan perempuan atau sebaliknya, ber-sms-an, chatting, facebook, whatsapp, bbm dan beragam sarana lainnya yang akhirnya akan menjerumuskan manusia kepada perzinaan. Na’udzubillâhi min dzalik! Nas-alullâha as-Salâmah wal-‘âfiyah.
Kemudian Allâh Azza wa Jalla menyebutkan :
إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
(Zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk
Al-Hafizh Ibnu Katsir t dalam Tafsirnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan lafazh ‘al-fâhisyah’ adalah ‘dzanban azhîman’, yaitu dosa yang besar.
Sumber Referensi " Jangan dekati Zina", karya Ustadz Abdul Qodir Jawas di almanhaj.or.id

Bahaya hanya mencari yang "ADEM".


Oleh Siswo Khusyudhanto
Ada teman yang masih awam pada dakwah Sunnah mengatakan, " saya suka ustadz nganu, enak kajiannya adem, gak pernah bahas syirik, gak pernah bahas Bid'ah, gak pernah bahas riba, dan seterusnya, pokoknya enak, adem."
Cuma diem aja dengarnya, padahal larangan syirik ada dibanyak Ayat dan hadist, demikian dengan dengan larangan Bid'ah ada dibanyak hadist dan Allah Ta'ala perintahkan untuk iitiba' kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam, mengikuti beliau sebagai teladan dalam beragama. Demikian juga soal bahaya riba banyak disebut dalam Al-Qur'an dan hadist, bahkan dosa riba jauh lebih buruk dari maksiat seperti zina. Dan banyak lagi larangan yang nurut kita enak dikerjakan.
Dan banyak muatan dalam risalah sebenarnya jujur gak enak untuk diterima, namun sebagai seorang yang sudah bersyahadat, mengakui Allah Ta'ala sebagai Tuhan satu2 nya, dan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam sebagai Rasul kita tentu konsekuensinya adalah, "Samina Watho'na", dengar dan taati, bukan malah memilih yang enak diambil dan yang gak enak dibuang jauh-jauh, waalahua'lam.
Jadi teringat kajian Ustadz Abdullah Zein MA., Beliau mengatakan, " Jauhi sikap beragama gaya makan prasmanan, seperti halnya prasmanan ketika ada makanan yang kita sukai maka kita ambil dan memakannya, namun ketika kita jumpai makanan yang tidak kita sukai kita tidak ambil dan malah sedapat mungkin dihindari. Sebagai seorang Muslim yang baik sebaik mungkin beragama kita menjalankan secara kaffah, menyeluruh. Maka ketika kita mendengar seruan dari Allah Ta'ala dan RasulNya segera kita kerjakan, dan ketika sampai kepada kita larangan dari Allah Ta'ala dan RasulNya maka segera kita tinggalkan.
Sikap memilih dan mengambil sebagian syariat Allah Ta'ala dan RasulNya dapat mejerumuskan kita kepada sifat kuffur, ingkar risalah, dan ini sangat berbahaya dapat mendatangkan azab neraka kelak, waalahua'lam."
Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah ta’ala berfirman menyeru para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya serta membenarkan rasul-Nya untuk mengambil seluruh ajaran dan syari’at; melaksanakan seluruh perintah dan meninggalkan seluruh larangan sesuai kemampuan mereka.” (Tafsir Ibn Katsir 1/335).
Berkaitan dengan ayat ini dan satu ayat setelahnya, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Ini merupakan titah dari Allah Ta’ala kepada orang-orang beriman agar mereka masuk { فِي الْسِّلْمِ كَافَّةً (ke dalam Islam secara keseluruhan)}, yaitu dalam seluruh syariat agama dan tidak meninggalkan darinya sedikit pun dan agar tidak menjadi orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya; jika perkara yang disyariatkan itu sesuai dengan hawa nafsu dikerjakannya namun jika bertentangan ia akan meninggalkannya. Akan tetapi yang menjadi kewajiban adalah hawa nafsu itu haruslah mengikuti agama. Dan agar ia mengerjakan setiap yang ia mampu berupa perbuatan-perbuatan baik dan yang belum mampu ia (tetap) memandangnya wajib dan berniat (mengerjakan)nya sehingga niatnya itu dapat menggapainya.
“Oleh karena masuk ke dalam Islam secara keseluruhan tidak akan mungkin dan tergambar kecuali dengan menyelisihi langkah-langkah setan, Allah berfirman, ‘…dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan’, yaitu dalam bermaksiat kepada Allah.‘Sesungguhnya dia (setan) adalah musuh nyata bagi kalian’, dan musuh yang nyata tidak akan memerintah kecuali dengan keburukan, kekejian, dan yang membahayakan kalian.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman hlm. 78)
Sumber Referensi,"Kaffah dalam Beragama", karya Ustadz Muhammad Nur Ichwan Muslim di Muslim.or.id

Wednesday, September 12, 2018

NYARIS TIDAK PERCAYA INI TERJADI DI INDONESIA


Oleh Siswo Khusyudhanto
Kadang kalau melihat laporan badan keuangan Nasional yang menyebutkan bahwa pertumbuhan kredit yang kebanyakan didominasi oleh kegiatan ritel di masyarakat sangatlah besar, nyaris tidak percaya bahwa kegiatan Ribawi dengan volume sangat besar ini terjadi di Indonesia.
Seperti di lansir JAKARTA, KOMPAS.co - Bank Indonesia (BI) melaporkan, kredit yang disalurkan perbankan pada bulan Januari 2018 mencapai Rp 4.661 triliun(selama th.2017).
Jumlah kredit nasional 4.661 trilyunan rupiah!!!?, Dan mirisnya itu terjadi di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, sekitar 88%.
Fakta ini cukup menjadi bukti bahwa banyak diantara Muslim di negri ini buta terhadap bahaya Riba, atau mungkin juga tau bahayanya namun pura-pura buta terhadap larangan Allah Ta'ala dan RasulNya soal larangan berbuat riba.
Hal ini menunjukkan bahwa mendakwahkannya bahaya riba bagi manusia terutama Umat Muslim tidak boleh berhenti, harus disampaikan terus menerus sehingga ketika Umat Muslim sadar bahaya riba dan memiliki ilmu bentuk-bentuk riba, insyaallah mereka punya kesadaran sendiri untuk meninggalkan segala bentuk kegiatan riba, waalahua'lam.
Dalam sebuah kajian Ustadz Erwandi Tarmizi menyebutkan, " Riba adalah penghancur ekonomi umat manusia, akibat dari kegiatan riba adalah munculnya inflasi di masyarakat, nilai uang terus menurun. Mungkin ini penyebab utama kenapa Indonesia meskipun punya sumber daya alam luar biasa, segala komoditi alam ada di negri kita, mulai hasil tambang minyak, emas, perak dst., Juga ada perkebunan, pertanian dan peternakan ada semua, namun soal ekonomi tidak banyak mengalami kemajuan. Seperti disampaikan oleh Allah Ta'ala sendiri, bahwa sifat riba adalah menghancurkan, tidak secara serta merta, namun secara perlahan."
Allah Ta’ala berfirman,
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al Baqarah [2]: 276)
Foto Baliho Dakwah di Kota Pekanbaru

Monday, September 10, 2018

MASJID INI KOK GAK ADA KALIGRAFINYA YAA?



Oleh Siswo Kusyudhanto
Beberapa waktu yang lalu saya ajak seorang teman ke Masjid Raudhatul Jannah Pekanbaru, pertama dia kagum dengan desainnya yang minimalis dan berukuran lumayan besar, namun setelah melihat sekeliling lingkungan masjid dia heran dengan dinding-dinding masjid yang tidak ada kaligrafi seperti halnya masjid-masjid lainnya, lalu saya jelaskan, " ya karena ini masjid Ahlu Sunnah, pengikut Sunnah, kami berusaha mengikuti sunnahnya, seperti halnya soal ayat Al-Qur'an, kami ikuti sesuai fungsinya, yakni ayat Al-Qur'an sebagi petunjuk dalam beramal ibadah, tindakan nyatanya ya mempelajari Al-Qur'an dan berusaha mengamalkannya. Makanya meskipun tidak ada kaligrafi besar di masjid ini namun setiap hari insyaAllah ada kajian ilmu agama, dan setiap hari juga ada kelas bacaan Al-Qur'an yang diikuti ribuan orang."
Allah Ta'ala berfirman :
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur`ân ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus ….[al-Isrâ`/17:9]
Dalam ayat mulia ini, Allah Jalla wa ‘Ala menyampaikan pujian terhadap kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Al-Qur`ân, sebagai kitab samawi paling agung dan paling luas cakupannya menyangkut semua jenis ilmu, kitab paling terakhir, bersumber dari Rabbul-‘Alamîn. Dengan dalil-dalil, hujjah-hujjah, aturan-aturan, dan nasihat-nasihat yang dikandungannya, Al-Qur`ân ini menjadi faktor banyaknya manusia yang memperoleh hidayah, dan ia mengantarkan kepada jalan yang lebih lurus dan lebih terang. Maksudnya, petunjuk Al-Qur`ân lebih lurus, adil, dan paling benar dalam persoalan aqidah (keyakinan), amalan-amalan dan akhlak.( Al-Qur`ân dan Terjemahannya, Cetakan Mujamma’ Malik Fahd Madinah.)
Ayat di atas merupakan salah satu dari ayat-ayat yang menyanjung keutamaan Al-Qur`ân, ketinggian derajatnya dan kemuliaannya di atas kitab-kitab sebelumnya. Di antara ayat-ayat pujian itu ialah sebagai berikut.
وَلَقَدْ جِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَىٰ عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al-Qur`ân) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. [al-A’râf/7:52].
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Al-Qur`ân) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri”. [an-Nahl/16:89]
Dalam dua ayat di atas, secara global Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan kandungan Al-Qur`ân, sebagai hidayah menuju jalan terbaik, yang paling adil dan benar. Seandainya kita berkeinginan menggali perincian hidayahnya secara sempurna, niscaya kita akan mengarungi seluruh kandungan Al-Qur`ân (Adhwâ`ul-Bayân fi Îdhâhil-Qur`ân bil-Qur`ân, Muhammad al-Amîn asy-Syinqîthi, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Mesir, 1415 H – 1995 M). Seseorang yang memperoleh hidayah Al-Qur`ân, niscaya ia menjadi insan yang sempurna, paling lurus dan paling dipenuhi dengan petunjuk.(Aisarut-Tafâsîr fi Kalâmil-‘Aliyyil-Kabîr, Abu Bakr Jâbir al-Jazâiri, Maktabah ‘Ulum wal- Hikam, Cet. VI, Th. 1423 H – 2003 M.)
Sumber Referensi : "PETUNJUK TERBAIK HANYA ADA DI AL-QUR’AN", Oleh Ustadz Ashim bin Musthafa, di almanhaj.or.id

Ini Dakwah Bro, Jangan Lebay


Oleh Siswo Kusyudhanto
Saya heran lihat ada ustadz yang jamaahnya banyak sekali, kalau ada sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi padanya cepat sekali curhat dan di-posting disosial media, akibatnya terjadi kekisruhan dunia maya. Bahkan ada Ustadz yang cukup terkenal, pendukungnya mengeluarkan statement akan memperkarakan ke polisi siapa saja yang membully ustadz mereka, subhanallah. Yang jadi pertanyaan kemana teori yang disampaikan si ustadz soal bersabar?, Juga soal memaafkan orang lain?, Terutama soal Akhlak dan keyakinan bahwa hal buruk adalah ujian sekaligus bisa jadi azab atas perbuatan dosa, waalahua'lam.
Jadi teringat dulu ketika terjadi pembubaran kajian Ustadz Firanda Adirja di Kota Batu, Malang oleh sebuah ormas, berita ini sangat sedikit orang mengetahuinya, karena berita itu seperti tertutupi oleh pembubaran Kajian Ustadz Khalid Basalamah di Kota Sidoarjo yang terjadi sebelumnya, dan Ustadz Firanda Adirja tidak membuat statement apapun di sosial media soal pembubaran kajiannya.
Beberapa hari kemudian Ustadz Firanda Adirja mengisi kajian di Pekanbaru, ketika beliau memulai kajian saya berharap beliau mau curhat soal pembubaran kajian beliau di Kota Batu, ternyata keinginan saya tidak terjadi, sampai habis waktu kajian tak sekalipun beliau membahas kajiannya di Kota Batu. Salut banget kepada sikap beliau yang sangat sabar, dan tidak lebay, padahal kalau dicatat banyaknya kajian beliau yang di bubarkan di Nusantara ini jumlahnya mungkin sudah ratusan kali terjadi.
Juga kalau menilik teladan para ulama Ahlu Sunnah, mereka sangat bersabar dalam dakwah, sampai kepada puncaknya yakni para nabi dan Rasul, mereka bersikap sabar dalam mendakwahkan agama ini, karena mereka paling mengetahui bahwa sabar adalah ibadah, tidak ada batasan untuk sabar.
Dalam sebuah kajian Ustadz Maududi Abdullah mengatakan, " Jika ada orang berkata kasar kepada kita kemudian kita balas dengan perbuatan sama, juga dengan berkata kasar kepadanya. Atau ketika ada orang berbuat kasar kepada kita, dan lalu kita balas juga perbuatan kasar yang sama. Kalau demikian yang terjadi, pertanyaannya lalu apa bedanya dia dengan kita soal akhlak?, Kalau demikian yang terjadi tentu tidak ada bedanya sama sekali antara dia dan kita. Maka buatlah menjadi berbeda, jika ada orang berkata kasar dan berbuat kasar kepada kita, balas perbuatan tersebut dengan sikap yang lebih baik, buktikan bahwa soal akhlak kita lebih baik dari dia."
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.
Sumber Referensi, "Balaslah Keburukan dengan Kebaikan", oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc. Di Rumoysho.co

TUKANG SAPU DI BANKPUN JUGA TERIMA DOSA RIBA




Ada teman yang bekerja sebagai satpam sebuah bank konvensional menanyakan perihal gaji dari pekerjaannya, lalu saya sampaikan apa yang disampaikan oleh Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah ketika beliau ditanya seorang jama'ah soal gaji dari pekerjaannya sebagai tukang sapu di sebuah bank yang mempraktekkan akan Ribawi.
Kata beliau, " Tukang sapu di sebuah bank yang mempraktekkan perbuatan riba juga mendapat dosa yang mungkin sama dengan orang yang bekerja di dalam kantor bank itu yang melakukan kegiatan riba, meskipun dia tidak terlibat secara langsung, kenapa?, Karena berkat hasil pekerjaan seorang tukang sapu tempat itu menjadi bersih, sehingga orang tidak merasa enggan untuk datang dan melakukan perbuatan riba, andai tidak ada dia(tukang sapu) dan tidak ada yang membersihkan tempat itu, kemudian tempat itu menjadi kotor lalu siapa yang mau datang ketempat itu?. Ini masuk pada perbuatan saling tolong menolong dalam kejahatan yang dilarang oleh Allah Azza Wa Jalla, waalahua'lam."
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. ” (QS. Al Maidah: 2).
Ayat ini menunjukkan bahwa terlarang saling tolong menolong dalam maksiat atau dosa.
Sumber Referensi, "Tolong Menolong dalam dosa", karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc. Di Muslim.or.id
Foto Baliho Dakwah di Jalan Soebrantas Panam Pekanbaru

BUKAN BENCI KHILAFAH, TAPI KAMI INGIN IKUTI SUNNAHNYA.


Oleh Siswo Khusyudhanto
Kadang ada sebagian teman mengatakan bahwa jama'ah Kajian Sunnah benci kepada Gerakan menegakkan Khilafah, ini sebuah pendapat yang keliru, sebenarnya Jama'ah Kajian Sunnah sangat ingin terwujudnya Khilafah diatas permukaan bumi, namun tentu juga dalam menegakkannya dengan cara sesuai Sunnahnya, yakni dengan menegakkan Tauhid dan beramal Sholeh, dimulai dari diri sendiri dan keluarga serta orang-orang disekitar kita. Jika semua orang dalam sebuah masyarakat menegakkan Tauhid dan beramal Sholeh, dengan sendirinya Allah Ta'ala akan wujudkan JanjiNya, yakni berupa Khilafah Islamiyah, waalahua'lam.
Dalam sebuah kajian Ustadz Abdullah Zein menyebutkan, " Kadang kita melihat ada sekelompok orang berjalan dijalan berombongan sambil membawa bendera dan spanduk meneriakkan Khilafah. Sebenarnya keinginan ini sangat bagus, namun menegakkan Khilafah ditengah masyarakat yang masih suka berbuat maksiat, syirik dan bid'ah adalah sebuah hal yang mustahil. Karena Khilafah hanya dapat tegak di tengah masyarakat yang sudah menegakkan Tauhid, menegakkan amal Sholeh, dan menjauhi segala larangan Allah dan RasulNya.
Jika kita memaksakan menegakkan Khilafah sementara masyarakat masih suka berbuat maksiat, syirik dan bid'ah, maka sebagian besar masyarakat itu sendiri yang akan merobohkan dan menghadang keinginan mewujudkan khilafah yang ingin ditegakkan."
Perkataan beliau memang terbukti, dibeberapa negara gerakan menegakkan khilafah selalu menemui kegagalan, justru yang menumbangkan adalah dari kalangan masyarakat negara itu sendiri, waalahua'lam.
Allah berfirman:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan beramal soleh, bahwa Ia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Ia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Ia ridhai untuk mereka. Dan Ia benar-benar akan menggantikan (keadaan) mereka setelah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada menyekutukan-Ku dengan sesuatu. Dan barang siapa yang (tetap) kufur sesudah janji ini, maka mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. An Nur: 55)