Tuesday, May 23, 2017

Akal kita dengan ilmu Allah ibarat uang recehan paling kecil berbanding dengan alam semesta beserta seisinya.


Dulu ketika masih kuliah saya sering ikut forum yang saya anggap keren, karena keidiealisannya, forum itu dimotori para aktivis tokoh liberal dan pluralisme, dan tampa disadari sering menghinakan syariat2 didalam Islam, sering menganggap sadis hukum qishos/mati atau hukum potong tangan bagi pencuri, menganggap itu syarait yang expired atau kadaluarsa, tidak cocok diterapkan dijaman modern karena kelewat sadis, semoga Allah mengampuni saya dan teman2.
Setelah mengenal kajian Sunnah ternyata yang saya anggap buruk itulah justru yang benar, ternyata akal kita dibandingkan ilmu Allah Azza Wa Jalla ibarat recehan berbanding alam semesta dengan seisinya.
Pada kajian soal hukuman mati ini saya jadi paham kenapa hukuman ini sangat efektif. Ustadz Maududi ketika membahasa soal qishash beliau menyebutkan, " lihat ayat Al Baqarah 179 ini, kenapa Allah menyebutkan bahwa hukuman ini menjamin kelangsungan hidup?, karena dengan ditegakkan hukuman qishash pada pelaku pembunuhan akan membuat takut orang lain yang akan melakukan perbuatan yang sama, ketika ada seseorang berniat akan membunuh orang lain maka dia akan berfikir jutaan kali, karena jika sampai terjadi dia melakukan pembunuhan maka sebagai gantinya adalah nyawanya sendiri, nyawa dibayar nyawa, meskipun misal terjadi ada enam orang melakukan pembunuhan terhadap satu orang, maka kenam-enamnya akan terancam hukuman mati. Lihat di negri-negri yang menerapkan hukum yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia(HAM) dimana hukuman bagi pembunuh sangatlah ringan , yang terjadi orang mudah membunuh orang lain bahkan hanya karena desakan ekonomi, emosi sesaat atau karena dendam, pada akhirnya nyawa dinegara-negara tersebut sangat murah, pembunuhan sering terjadi karena orang tidak takut akan hukuman yang akan mereka terima."
firman Allâh Azza wa Jalla :
وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian, hai orang-orang yang berakal. [al-Baqarah/2:179]
Dalam ayat ini, kita bisa memahami bahwa qishâsh tidaklah disyariatkan kecuali untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Tidak ada orang yang membantah ayat Allâh Azza wa Jalla ini, kecuali orang yang kurang panjang akalnya.
Referensi; "Hukuman Mati bagi pelaku pembunuhan", oleh Ustadz Kholid syamhudi di almanhaj.or.id

Jauhi sumpah palsu atas nama Allah Azza Wa Jalla !


Dalam sebuah kajian Ustadz Armen Halim naro Lc. Rahimahullah mengatakan, " jauhi bersumpah palsu atas nama Allah Azza Wa Jalla untuk mendapatkan materi atau semacamnya, karena hal demikian dapat mengeluarkan kita dari agama ini. Semisal ada pedagang mengatakan kepada pembeli barang dagangannya - demi Allah modal barang ini 900 rupiah-, padahal modalnya cuma 100 rupiah, dan karena sumpahnya itu mengatasnamakan Allah tentu pembeli yang seorang muslim melihat pedagang yang juga muslim itu bersumpah demikian tentu membuatnya makin yakin bahwa yang disumpah kan adalah benar, lalu sipembeli merogoh uang dikantungnya untuk mendapatkan barang itu, padahal sipedagang sedang bersumpah palsu. Lalu diperdagang melakukan pembelaan atas sumpah palsunya itu- kita Khan sama-sama beragamanya nyah- innalilahi wa innailaihi roji'un, ini sungguh buruk, dia mendapatkan materi dari muslim lainnya dengan cara yang zalim. Atau sama halnya ketika kita mengurus sebuah surat perijinan dan semacamnya disebuah instansi kemudian petugas di kantor itu mengatakan - sumpah demi Allah saya hanya membantu bapak - dan sipetugas itu meminta imbalan atas bantuannya itu kepada kita, lalu dia mendapatkan imbalan atas hal itu kemudian dia bawa kerumah dan diberikan kepada anak dan istrinya dan berkata - ini ayah mendapatkan Rizki halal- astaghfirullah- jelas ini harta haram namun dilabeli dengan harta halal karena kebodohannya. Ini juga masuk perbuatan zalim, masuk dalam perbuatan mengambil sesuatu yang bukan haknya dengan cara sumpah palsu. Jauhi perbuatan demikian, karena hal seperti ini dapat menjerumuskan kita di dalam neraka, waallahua'lam."
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
قُلْ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ ﴿٦٩﴾ مَتَاعٌ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ نُذِيقُهُمُ الْعَذَابَ الشَّدِيدَ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ
Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allâh tidak beruntung”. (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka. “[Yûnus/10: 69-70].
Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Sekelompok Ulama berpendapat bahwa berdusta atas nama Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya merupakan kekafiran yang menyebabkan pelakunya keluar dari agama. Tidak diragukan lagi bahwa berdusta atas nama Allâh Azza wa Jalla dan RasulNya dalam menghalalkan perkara yang haram dan mengharamkan perkara yang halal merupakan kekafiran murni, tetapi yang menjadi masalah adalah (berdusta) dalam perkara selain itu”. [Dinukil dari al-Kabâ’ir karya imam adz-Dzahabi]
Sumber referensi, artikel "Bersumpah palsu atas nama Allah masuk dosa besar", oleh Ustadz Abu Muslim Atasary di web muslim.or.id.co.

Sunday, May 21, 2017

Ayat tidak melewati kerongkongan mereka.


Kalau diskusi dengan orang yang selalu meneriakkan khilafah dan daulah nanti giliran ditanya bagaimana kalian mengamalkan ini?, pasti mereka bingung dan diam, akrena paham mereka tidak dapat diamalkan dalam dunia nyata, semisal ketika ditanya misal nih kalian dapat menguasai parlemen, menguasai istana negara selanjutnya apa?, apakah kalian akan menegakkan hukum lslam ditengah masyarakat yang masih hobby maksiat, bid'ah dan syirik? jika kalian tegakkan hukum Islam niscaya sangat banyak penduduk negri ini akan dihukum semua, karena penduduk mayoritas negri ini pelaku dari perbuatan2 itu. Jadi ingat kajian hadist dengan Ustadz Abu Zubair Haawary mengenai hadist yang memuat ciri-ciri khawarij, beliau berkata, " dalam setiap jaman akan selalu muncul sekelompok orang yang berpaham khawarij, dan itu sudah dikabarkan kepada kita oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassallam, tersebut dalam hadist ciri mereka adalah sekelompok anak muda dengan semangat jihad luar biasa namun tidak disertai ilmu, tidak mengikuti pendapat ulama-ulama besar dan mengangkat ulama dari kalangan mereka sendiri. Rasulullah menyebut amalan mereka dalam amal ibadah sangat luar biasa, bahkan beliau sebut amalan pada sahabatnya tidak ada apa-apa dibanding mereka, namun ayat yang mereka baca tidak melewati kerongkongan mereka, atau apa yang terkandung dalam ayat itu tidak mereka amalkan. Semoga terhindar dari syubhat dan paham mereka, aamiin. Maka perbanyak duduk didepan orang-orang yang berilmu, agar terselamatkan dari fitnah disekeliling kita, termasuk fitnah khwarij!".".
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Dari kelompok orang ini (orang-orang seperti Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim Al Najdi), akan muncul nanti orang-orang yang pandai membaca Al Qur`an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya. Seandainya aku masih mendapati mereka, akan kumusnahkan mereka seperti musnahnya kaum ‘Ad.” (HR Muslim 1762)
Kalimat yang artinya “mereka yang membaca Al Qur’an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan” adalah kalimat majaz . “Tidak melewati kerongkongan” kiasan dari “tidak sampai ke hati” artinya mereka membaca Al Qur’an namun tidak menjadikan mereka berakhlakul karimah.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh“
Semakin banyak mengenal Allah (ma’rifatullah) melalui ayat-ayat-Nya qauliyah dan kauniyah, maka semakin dekat hubungan dengan-Nya. Ilmu harus dikawal hidayah. Tanpa hidayah, seseorang yang berilmu menjadi sombong dan semakin jauh dari Allah ta’ala. Sebaliknya seorang ahli ilmu (ulama) yang mendapat hidayah (karunia hikmah) maka hubungannya dengan Allah ta’ala semakin dekat sehingga meraih maqom disisiNya.
Sebagaimana diperibahasakan oleh orang tua kita dahulu bagaikan padi semakin berisi semakin merunduk, semakin berilmu dan beramal maka semakin tawadhu, rendah hati dan tidak sombong.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan muncul suatu sekte/firqoh/kaum dari umatku yang pandai membaca Al Qur`an. Dimana, bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian daripada shalat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Al Qur`an dan mereka menyangka bahwa Al Qur`an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Qur`an itu adalah (bencana) atas mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya”. (HR Muslim 1773)
Begitupula kalimat yang artinya “mereka sholat tetapi tidak sampai melewati batas tenggorokan” adalah kalimat majaz. “Tidak sampai melewati batas tenggorokan” kiasan dari “tidak sampai ke hati” artinya sholatnya tidak mencegah perbuatan keji dan mungkar, sholatnya tidak menjadikannya berakhlak baik
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh dariNya” (diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al-Kabir nomor 11025, 11/46)
Firman Allah ta’ala yang artinya, “Pada hari itu tidak berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali yang kembali kepada Allah dengan hati yang lurus.” (QS. Asy-Syu’araa: 88).
referensi artikel" tidak melewati kerongkongan", oleh Zon di mutiarazuhud.blogspot.co

Dikira Sunnah ternyata ?


Di inbox saya ada akhwat mengeluh karena suaminya yang notabene adalah anggota jamaah Travelling jarang pulang kerumah, sehingga tentu si suami jarang memberi nafkah bagi keluarganya, sering akhwat dan anaknya kelaparan karena tidak ada yang dimakan, dan akhirnya kebutuhan pokok mereka dibantu orang tua, sementara nun jauh disana sisuami makan bersama teman travellingnya, miris. Dan ketika si istri menegur suami soal ini, suami berdalih bahwa hal seperti ini adalah gaya hidup Zuhud sesuai Sunnah Nabi, dan juga merupakan cobaan dari Allah Azza Wa Jalla, subhanallah. Si akhwat mengatakan di menyesal memilih dia sebagai suami, dikiranya berjenggot, cingkrang dan rajin beramal ibadah ternyata dalam perbuatan dia tidak bertanggung jawab kepada keluarga, subhanallah. Saya sih nasehati agar ajak suami kepemahaman yang sesuai Sunnah, dalam Sunnahnya seorang suami wajib bertanggung jawab kepada keluarganya, bahkan dalam sebuah hadist Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam menyebutkan sebaik-baik muslim adalah yang baik kepada keluarganya, dan beliau menyebutkan bahwa beliau adalah orang yang paling baik kepada keluarganya.
Pelajaran bagi para akhwat agar jangan sampai salah memilih suami, lihat aqidahnya, jangan cuma lihat chassingnya, waallahua'lam.
Dalam sebuah kajian Ustadz Maududi Abdullah mengatakan, " jika kita melihat ada sekelompok orang dengan alasan berdakwah kemudian mereka meninggalkan keluarga dan pekerjaannya selama 3 bulan, apakah orang seperti ini dapat disebut sebagai orang yang amanah?, tentu sulit mereka disebut sebagai orang yang amanah. Padahal salah satu ciri seorang mukmin adalah amanah terhadap tanggung jawab yang diembannya."
Aisyah Radhiyallahu ‘anha meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku” [HR. At Tirmidzi no: 3895 dan Ibnu Majah no: 1977 dari sahabat Ibnu ‘Abbas].
Hadits di atas, hadits yang sangat mulia. Sebuah hadits yang menunjukkan agar manusia bersikap mulia dan berlaku jujur. Begitu pula bagi seorang suami khususnya, karena ia sebagai pemimpin dan bertanggung jawab kepada keluarga. Maka menjadi keharusan, agar kita mencerna tingkat urgensinya.
Kewajiban seorang lelaki menafkahi keluarganya, tersebut dalam sebuah hadist,
عَنْ مُعَاوِيَةَ الْقُشَيْرِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا حَقُّ زَوْجَةِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ قَالَ أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ أَوْ اكْتَسَبْتَ وَلَا تَضْرِبْ الْوَجْهَ وَلَا تُقَبِّحْ وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ
“Dari Mu’awiyah al Qusyairi Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah hak isteri salah seorang dari kami yang menjadi kewajiban suaminya?” Beliau menjawab,”Engkau memberi makan kepadanya, jika engkau makan. Engkau memberi pakaian kepadanya, jika engkau berpakaian. Janganlah engkau pukul wajahnya, janganlah engkau memburukkannya, dan janganlah engkau meninggalkannya kecuali di dalam rumah”. [HR Abu Dawud, no. 2142; Ibnu Majah, no. 1850;].
Referensi Dr almanhaj.or.id.co

Apakah Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassaallam pengekor hawa nafsu?


Dalam sebuah kajian seorang jamaah bertanya kepada Ustadz Firanda Adirja, " ya ustadz saya sering berdiskusi dengan teman saya yang orang non muslim, dalam diskusi kami dia pernah mengatakan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam adalah maniak sex, karena menikahi banyak wanita, apakah pernyataan ini benar?", Lalu Ustadz Firanda Adirja menjawab, " ini sungguh tidak benar yaa, karena Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam adalah manusia yang ma'shum, terjaga perbuatannya dari perbuatan dosa, setiap tindakan dan ucapannya selalu terjaga, termasuk juga dalam urusan menikahi wanita, beliau tidak menuruti syahwat. Seperti yang kebanyakan beliau nikahi adalah janda, dan itu didasari karena ada kemashlahatan, seperti misal ada wanita yang suaminya yang gugur syahid di medan perang, demi untuk melindungi si wanita dan anak-anaknya maka beliau menikahi wanita itu, hanya Aisyah Radhiyallahu Anhaa saja yang berstatus gadis atau perawan saat dinikahi, dan itupun dilandasi perintah Allah Azza Wa Jalla, bukan atas kemauan beliau sendiri. Jika menurutkan syahwat seperti kita saat ini mungkin kebanyakan istri beliau adalah kebanyakan adalah gadis, karena tentu banyak keluarga umat muslim saat itu menawarkan anak gadisnya untuk dinikahi Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam, namun bukan demikian yang terjadi, jadi tuduhan seperti itu tidak benar sama sekali, waallahua'lam."

Batas hidayah dan kesesatan itu tipis.


Baca sebuah posting seseorang jadi miris, dalam postingan itu ada seorang ibu menulis, " Alhamdulillah akhirnya hidayah Allah diberikan kepada suamiku, akhirnya dia mau diajak ngalap berkah ke makam Mbah xxx", subhanallah, padahal berharap berkah pada kuburan jelas syirik, karena pemberi berkah yang hak cuma Allah Azza Wa Jalla, waallahua'lam.
Ada lagi postingan seseorang, "Alhamdulillah akhirnya Allah berikan hidayah kepada abangku, dia mau diajak Travelling 4 bulan, untuk jihad fisabilillah dakwah.", Subhanallah, padahal kalau kita pelajari asal mula amalan itu tidak ada sama sekali dasarnya, amalan itu baru dibikin 100 tahun yang lalu, sementara agama ini umurnya 1438 tahun, dalilnya ketinggalan jauh, dan dari Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam , para sahabatnya, sampai para imam madhzab tidak ada satupun berdakwah seperti itu. Seperti para imam madzhab mereka mencari ilmu sebanyak mungkin kemudian mereka mengadakan kajian yang dihadiri jamaahnya, demikian para ulama berdakwah.
Ada lagi postingan seseorang menyebutkan, "Alhamdulillah bapak dapat hidayah sekarang rajin datang ke tahlil kematian, shalawat nariyah, acara maulid nabi dan isra mi'raj juga selalu datang, ", subhanallah, yang disebut adalah amalan bid'ah semua.
Jadi ingat kajian Ustadz Abu Zubair Haawary, kata beliau, " batas hidayah dan kesesatan itu sangat tipis, banyak orang merasa dalam jalan hidayah namun sejatinya berada dalam kesesatan, dan hal itu tidak disadarinya. Maka wajib bagi kita untuk meminta selalu kepada Allah Azza Wa Jalla diberikan hidayahNya."
Dalam kajian lain Ustadz Maududi Abdullah mengatakan," jangan sekali-kali antum merasa dalam jalan yang lurus, karena jalan yang lurus adalah pencarian seumur hidup kita, maka disyariatkan bagi kita sering meminta kepada Allah Azza Wa Jalla ditunjukkan jalan yang lurus, sering kita sebutkan dalam shalat kita, yakni Alfatihah 6."
Jalan Yang Lurus Jalan Lurus Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus Jalan Yang Lurus Dalam Al Qur Jalan Yg Lurus
Dalam surat Al Fatihah yang kita baca setiap shalat, terkandung permohonan doa kepada Allah Ta’ala agar kita senantiasa diberi hidayah di atas shiratal mustaqim, yaitu tatkala kita membaca firman Allah :
اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ
“(Ya Allah). Tunjukilah kami jalan yang lurus (shiratal mustaqim), yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat “ (Al Fatihah:6-7).
Shiratal mustaqim yang merupakan jalan kebenaran jumlahnya hanya satu dan tidak berbilang, Allah Ta’ala berfirman :
وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) , karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa“ (Al An’am:153).
Hal ini dipertegas oleh penafsiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sllam tentang ayat di atas. Diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,
خطَّ لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يومًا خطًّا فقال: هذا سبيل الله. ثم خط عن يمين ذلك الخطّ وعن شماله خطوطًا فقال: هذه سُبُل، على كل سبيل منها شيطانٌ يدعو إليها. ثم قرأ هذه الآية:(وأن هذا صراطي مستقيمًا فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله)
Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membuat satu garis lurus, kemudian beliau bersabda, “ Ini adalah jalan Allah”. Kemudian beliau membuat garis-garis yang banyak di samping kiri dan kanan garis yang lurus tersebut. Setelah itu beliau bersabda , “Ini adalah jalan-jalan (menyimpang). Di setiap jalan tersebut ada syetan yang menyeru kepada jalan (yang menyimpang) tersebut.“ (H.R Ahmad 4142).(Lihat Jaami’ul Bayaan fii Ta’wiil Al Qur’an)
Sumber referensi "Shiratal mustaqim jalan yang lurus", karya Dr. Andika Mianoki di web.muslom.or.id.co

Jawaban Allah atas doa kita jauh lebih indah.


Dalam kajian kemarin Ustadz Khalid Basalamah menyampaikan sebuah tulisan dari Doktor Muhammad, seorang dosen pengajar di Ummul Quro Makkah mengisahkan peristiwa yang dialami oleh temannya.
Dikisahkan ada temannya adalah seorang pemuda yang taat dalam beramal ibadah, tiap hari selalu berlama-lama di Masjidil Haram untuk melakukan amal ibadah. Pada suatu ketika dia dijodohkan dengan seorang wanita, setelah melalui beberapa proses pendekatan kemudian sampailah si pemuda diminta menunggu jawaban dari pihak wanita diterima atau tidaknya pinangan si pemuda, dan soal keputusan atas hal ini sudah ditentukan tanggalnya.
Maka sambil menunggu keputusan dari pihak wanita si pemuda dalam setiap selesai shalat selalu berdoa kepada Allah, menengadahkan tangan meminta agar disandingkan dengan si wanita tersebut, setiap hari dan setiap saat dia berdoa agar keinginannya terkabul. Sampailah pada tanggal yang ditentukan keputusan diterima atau tidaknya pinangan, ternyata si wanita menolak pinangan si pemuda dan memilih menikah lelaki lain, akhirnya si wanita hidup bersama pilihannya itu. Si pemuda pun mengakhiri doanya untuk meminta wanita itu sebagai istrinya, dan bertanya-tanya dalam hati, kenapa doanya tidak dikabulkan oleh Allah Azza Wa Jalla?.
Selang satu bulan kemudian ternyata si wanita itu terindikasi terjangkit kangker payudara ganas, satu bulan berikutnya atas saran dokter payudara yang terindikasi kanker itu dipotong agar tidak menyebar kebagian tubuh yang lain. Namun satu bulan berikutnya dokter menemukan indikasi bahwa payudara sebelahnya juga terjangkit kanker ganas, maka pada bulan itu juga payudaranya dipotong, dan pada bulan keempat pernikahannya si wanita hidup tanpa payudara. Dan pada bulan keenam si wanita meninggal dunia.
DR.Muhammad dalam artikelnya menulis, "Subhanallah, ini jawaban yang indah yang diberikan Allah dari pertanyaan-pertanyaan saya dan teman saya, jika terjadi teman saya menikah dengan wanita itu mungkin hanya kesedihan dan penderitaan yang harus diterimanya selama menikah dengan wanita itu. Ini bukti bahwa Allah masih sayang kepada teman saya, sehingga menghindarkan dari hal seperti itu kepadanya, Allah lebih mengetahui mana yang terbaik bagi orang-orang yang Dia sayangi, waallahua'lam."
Allah, Rabb yang mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya pun tak luput untuk disalahkan. Orang-orang seperti ini, hendaknya mengingat sebuah firman Allah:
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).