Friday, December 16, 2016

Sungguh celaka orang yang mengingat maksiat ketika shalat.


Allah dalam banyak ayat selalu mengingatkan manusia agar selalu mengingatNya. Bahkan dalam keadaan mencari rizki, dalam bekerja manusia diharapkan selalu mengingat Allah dalam aktifitas bekerja agar manusia selalu menggunakan cara yang diridhoi oleh Allah dalam meraih rizki, dan merekalah orang yang beruntung yang mendapatkan nafkah dengan cara yang dihalalkan oleh Allah.
"Apabila shalat telah dilaksanakan maka bertebaranlah kalian di muka bumi dan carilah karunia Allah dan (seraya) ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian menjadi orang-orang beruntung."
(QS Al-Jum’ah [62]: 9-10)
Jika digali lebih dalam dari ayat ini banyak pelajaran yang dapat kita diambil, jika dalam bekerja saja kita dimana kita diminta untuk selalu mengingat Allah, bagaimana dengan shalat yang jelas merupakan aktifitas amal ibadah dalam mengingat Allah?.
Mungkin dalam suatu bilangan hari, tanggal, bulan dan tahun, pernah kita dalam shalat mengingat maksiat, maka inilah keadaan paling terpuruk, paling buruk, paling nista, ketika dalam sujud kita, suatu keadaan dimana kita paling dekat dengan Allah yang harusnya kita menyampaikan ampunan dosa kita, namun justru kita mengingat akan perbuatan maksiat.
Maka adalah keadaan paling celaka jika dalam shalat seseorang mengingat manisnya maksiat.
Dikutip dr Ustadz Maududi Abdullah Lc.

Ya Ustadz kenapa berdzikir dan shalawat atas nabi dengan cara berjamaah dilarang, bukankah ini bukti cinta kita kepada Allah dan RasulNYa?


Seseorang bertanya kepada Ustadz Maududi Abdullah," kenapa berdzikir dan bershalawat kepada Nabi kok dilarang? bukankah ini perbuatan yang baik, bukti cinta kita kepada Nabi", kata beliau, jawaban atas hal ini adalah singkat apakah perbutan atau amalan seperti itu apakah pernah diajarkan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasssalam kepada kita atau tidak?, apakah hal demikian juga pernah diamalkan oleh para sahabat Nabi yang jelas sangat mencintai Nabi Muhammad Shallallahu alihi wassallam?. Jawabannya amalan berdzikir bersama-sama, dan juga berdoa bersama-sama tidak pernah diamalkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wassallam ataupun para sahabatnya, jika mereka tidak pernah mengajarkan dan mengamalkan seperti itu lalu itu amalan siapa?, bukankah kita adalah pengikut Nabi MUhammad Shallallahu alaihi wassallam?, harusnya dalam segala hal kita mengikuti beliau dalam perkara agama, termasuk dalam dzikir dan mewujudkan rasa cinta kita kepada Nabi. Juga soal kecintaan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, kita belum ada apa2nya dibanding para sahabat beliau, mungkin mereka ribuan atau jutaan kali lebih cinta Nabi dari diri kita, jika terdengar adzan pada lafzadz "Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah." niscaya mereka akan menangis , terbayang kasih sayang Rasullullah, terbayang keramahan Rasulullah, terbayang marah Rasulullah, terbayang bijaknya beliau dan terbayang kenangan mereka hidup bersama Rasulullah, lalu kapan kita menangis ketika mendengar adzan dengan lafadz "Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah."?, itu bukti bahwa soal kecintaan kepada Nabi Muhammad Shallalahu alaihi Wassallam jutaan kali kita tertinggal dari kecintaan para sahabat. Jika yang paling mencintai Rasulullah saja tidak pernah melakukan amalan dzikir dan shalawat secara berjamaah, lalu siapa kita?.
Dan sebenarnya jika anda dilarang melakukan amalan seperti itu artinya sebenarnya dia kasihan kepada anda, bukan karena benci, karena dia kasihan amalan yang anda kerjakan tertolak, sebuah amalan kesia-siaan belaka, tidak ada pahala atas amalan yang sudah anda kerjakan, meskipun anda yakin dan berusaha istiqomah dalam amalan yang anda yakini itu benar, namun menjadi salah karena amalan itu tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam ataupun para sahabatnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Monday, December 12, 2016

Bertakwalah disaat sendiri.


Ketakwaan yang sebenarnya adalah sama keadaannya baik ketika bersama dengan manusia ataupun sedang sendiri. Apakah ketika sendirian benar memang benar-benar memang sendiri?, sejatinya tidak karena selalu ada malaikat yang mencatat perbuatan baik dan buruk kita, juga selalu ada Allah yang mengawasi gerak gerik kita. Maka ketakwaan yang benar yakni adalah lebih hebat ketika disaat tidak bersama manusia. Dengan demikian ketakwaan yang bernilai tinggi dimata Allah adalah ketakwaan ketika seseorang lepas dari pandangan dan sepengetahuan orang lain, dan ketakwaan yang buruk yakni ketika seseorang memiliki ketakwaan berlebih ketika bersama manusia.
Jika ini ukuran ketakwaan yang benar maka sangat jauhlah kita dari ketakwaan sejati, karena kita lebih suka menampakkan ketakwaan tinggi ketika bersama manusia, dan ketakwaan kita luluh lantak ketika dalam keadaan tidak bersama manusia. Bacaan shalat kita panjang dan indah saat bersama manusia namun ketika sendiri justru sesingkat mungkin, sedekah kita berjumlah besar ketika diketahui manusia namun ketika tidak diketahui orang lain dia sedekah sedikit mungkin dan seterusnya. Harusnya kita perbaiki dan perbagus ketakwaan kita ketika tidak bersama manusia, karena itulah yang dinilai sebenarnya oleh Allah.
أبي ذر الغفاري رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن”[1] : رواه الإمام أحمد [ 21354 ] و الترمذي [ 1987 ] و قال : ( حديث حسن صحيح ) ، و حسنه الألباني في صحيح سنن الترمذي ، و انظر سلسلة الأحاديث الصحيحة [ 1373 ].
Dari Abi Dzar Al Gifari radiyallahu'anhu berkata, bersabda Rasulullah Shalallahu'alaihi Wa Salam: "Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, dan ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik maka akan menghapusnya, dan bergaullah dengan manusia dengan sebaik-baik pergaulan" diriwayatkan Imam Ahmad 21354 dan At Tirmidzi 1987 dan ia berkata Hadits Hasan Shahih dan Al Albani menghasankannya dalam shahih sunan At tirmidzi dan lihat silsilah al ahadits as shohihah 1373.
Dukutip dr Ustadz Maududi Abdullah Lc.

Mereka mungkin tidak tau kalau Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam tidak pernah ulang tahun.


Sulit menjawab pertanyaan dari anakku, dulu ketika dirinya tidak kami rayakan ulang tahunnya, sementara teman-temannya berulang tahun, dia bertanya,"kenapa ya ibu, aku kok tidak dirayakan ulang tahunnya?", ibunya menjawab,"iya nak kita mengikuti sunnah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam., beliau tidak merayakan hari kelahirannya, namun beliau berpuasa setiap hari senin, sebagai muslim yang taat dan mencintai beliau maka kita juga tidak merayakan hari kelahiran kita". Sekarang ketika dimana-mana ada perayaan maulid nabi pertanyaan anakku soal ulang tahun itu menggelitik kembali, maka kami jawab, "mereka mungkin belum tau bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam tidak pernah berulang tahun nak".
Soal tanggal kelahiran Nabi yang diperingati juga tidak jelas, para ulama terdahulu juga tidak tau pasti kapan Nabi dilahirkan, sementara tanggal yang diperingati yakni tanggal 12 Robiul awal adalah hari kematian beliau, SubhanaAllah, kematian Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam yang mulia malah dirayakan???, umat model apa kita ini merayakan hari kematian Nabinya? Seakan gembira akan kematian beliau.
Kalaupun itu dipaksakan sebagai hari maulid nabi sama halnya orang merayakan ulang tahun tapi tanggalnya gak tau kapan, yang penting ulang tahun, SubhanaAllah, sebuah kejahilan yang nyata.
Semoga Allah memberi hidayah Nya kepada kita semua, Aamiin.

Beragama secara benar menghadirkan kebahagiaan.


Banyak orang merasa benar dalam beragama, namun hatinya selalu gelisah, jiwanya merasa sempit. Ibarat ketika dia memakan gula akan terasa pahit, ini menunjukkan bahwa cara beragama dia tidak benar, ada benang yang putus sehingga itu terjadi, ada perbuatan dari dirinya yang mendatangkan kegelisahan dan kesempitan jiwa. Maka periksa kembali cara beragama anda jika hal itu terjadi, karena Allah janjikan kebahagiaan bagi siapa saja yang beragama secara benar, dan janji Allah adalah pasti. Jika anda jauh dari larangan Allah dan RasulNya niscaya anda mendapat kebahagiaan baik didunia dan akherat, sebaliknya jika masih banyak pelanggaran atas syariat Allah dan RasulNya maka kebahagiaan itu masih jauh dari anda.
Allah Ta’ala berfirman,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97). Ini adalah balasan bagi orang mukmin di dunia, yaitu akan mendapatkan kehidupan yang baik.
وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97). Sedangkan dalam ayat ini adalah balasan di akhirat, yakni alam barzakh.
Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآَخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui.” (QS. An Nahl: 41)
وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (QS. Huud: 3). Kedua ayat ini menjelaskan balasan di akhirat bagi orang yang beriman dan beramal sholeh.
Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)
Dikutip dr Ustadz Armen Halim Naro Lc.Rahimahullah.

Berkat bisikan iblis mereka menuding kita mengharamkan shalawat dan membenci kelahiran Nabi.


Di kalangan umat muslim kita beredar berbagai jenis shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, namun banyak diantaranya adalah masuk amalan shalawat bid'ah, dengan alasan mencintai Nabi kemudian mereka mengarang lafadz2 shalawat yang tidak jarang justru menyelisihi apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, bahkan ada juga yang mengandung lafadz kesyirikan. Maka ketika jamaah Ahlus Sunnah menghindari jenis shalawat-shalawat bid'ah disana ada iblis yang membisiki para pengamal shalawat bid'ah, bahwa orang yang menghindari shalawat bid'ah adalah kelompok yang mengharamkan shalawat dan tidak cinta kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, dan bisikan iblis itu tersebar luas, sehingga ketika mereka jumpai seseorang tidak mengamalkan shalawat bid'ah langsung dituding sebagai pengharam shalawat dan tidak cinta kepada Nabi. Sungguh ini fitnah yang sangat keji, karena sejatinya Ahlus Sunnah selalu menyerukan untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi kapan saja, sebanyak mungkin, dan shalawat kepada Nabi adalah memiliki keutamaan yang tinggi dalam amal ibadah. Juga tindakan menghindari terlibat dalam amalan shalawat bid'ah dan mengamalkan shalawat sesuai tata cara sunnah yakni tidak bersuara keras dan tidak dilakukan secara berjamaah adalah wujud kecintaan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, karena Ahlus Sunnah ingin memurnikan ajaran beliau agar tidak bercampur dengan kebid'ahan. Ahlus sunnah sejati hanya mengamalkan shalawat yang dibenarkan oleh dalil sahhih, yakni yang pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, bukan karangan seorang ulama fulan.
Shalawat Yang Disyari’atkan.
Yaitu shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Bentuk shalawat ini ada beberapa macam. Syaikh Al Albani rahimahullah dalam kitab Shifat Shalat Nabi menyebutkan ada tujuh bentuk shalawat dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ustadz Abdul Hakim bin Amir bin Abdat hafizhahullah di dalam kitab beliau, Sifat Shalawat & Salam, membawakan delapan riwayat tentang sifat shalawat Nabi.
Di antara bentuk shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah :
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى) آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ (فِي رِوَايَةٍ: وَ بَارِكْ) عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى) آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
(Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kamaa shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim, innaKa Hamidum Majid. Allahumma barik (dalam satu riwayat, wa barik, tanpa Allahumma) ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama barakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaKa Hamiidum Majid).
Ya, Allah. Berilah (yakni, tambahkanlah) shalawat (sanjungan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya, Allah. Berilah berkah (tambahan kebaikan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. [HR Bukhari, Muslim, dan lainnya. Lihat Shifat Shalat Nabi, hlm. 165-166, karya Al Albani, Maktabah Al Ma’arif].
Dan termasuk shalawat yang disyari’atkan, yaitu shalawat yang biasa diucapkan dan ditulis oleh Salafush Shalih.
Syaikh Abdul Muhshin bin Hamd Al ‘Abbad hafizhahullah berkata, ”Salafush Shalih, termasuk para ahli hadits, telah biasa menyebut shalawat dan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebut (nama) beliau, dengan dua bentuk yang ringkas, yaitu:
صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ (shalallahu ‘alaihi wa sallam) dan
عَلَيْهِ الصّلاَةُ وَالسَّلاَمُ (‘alaihish shalaatu was salaam).
Alhamdulillah, kedua bentuk ini memenuhi kitab-kitab hadits. Bahkan mereka menulis wasiat-wasiat di dalam karya-karya mereka untuk menjaga hal tersebut dengan bentuk yang sempurna. Yaitu menggabungkan antara shalawat dan permohonan salam atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Fadh-lush Shalah ‘Alan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hlm. 15, karya Syaikh Abdul Muhshin bin Hamd Al ‘Abbad]
Dikutip dr Ustadz Maududi Abdullah Lc., referensi dari almanhaj.or.id

Ikut pendapat ustadzpun pakai dalil.


Kadang heran lihat perkataan orang dari warung sebelah, "ustadz/ulama kalian bilang begini kenapa kok gak diikuti?, emang udah merasa lebih pintar dari dia?", ketahuan orang ini gak mengenal budaya anti taklid buta ada dalam agama ini, dia gak ngerti bahwa dalam agama ini dilarang taklid buta pada seorang ustadz, kyai, habib, syaikh dst. Dalam urusan ini saya selalu ingat-ingat pesan Ustadz Armen Halim Naro Lc. Rahimahullah, " kita boleh ikut pendapat siapa saja dalam perkara agama, boleh bagi kita mengikuti pendapat ustadz, kyai, tuan guru, buya, syaikh dst., jika selama pendapat mereka diatas jalan syariat Allah dan RasulNya, namun jika pendapat mereka menyelisihi syariat Allah dan RasulNya maka tinggalkan itu menyelamatkan kita dari kesalahan berjamaah ".
Juga ingat ketika Ustadz Abu Haidar As Sundawy membahas ayat At Taubah 31.
Allah ta’alla juga berfirman,
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah: 31).
Kata Ustadz, dalam ayat ini makna menjadikan orang alim dan ulamanya sebagai Tuhan/Rabbnya bukanlah artinya ada seorang manusia menyembah manusia lain yang dianggap ulama, namun maknanya ada seorang mengambil pendapat/syariat seseorang yang dianggap ulama dan meninggalkan syariat yang sudah ditetapkan oleh Allah. Para ulama itu menciptakan syariat yang tidak ada dasar nya sama sekali, padahal yang berhak menciptakan syariat mutlak hanya Allah. Para ulama itu menjadi Tuhan karena mereka menjadi saingan bagi Allah dalam hal menciptakan syariat.
Ayat At Taubah 31 juga menjelaskan bagaimana kehancuran agama nasrani, sehingga agama nasrani dijaman ini tidak menyisakan sedikitpun keasliannya dari agama yang diajarkan Isa Al Masih karena di dalam nya penuh amalan bid'ah yang dibikin para ulamanya. Persis yang disampaikan Ustadz Abu Thohir, "mereka kaum nasrani penuh amalan bid'ah didalamnya, misal seperti perayaan Natal, ini mutlak bikinan para ulama mereka karena tidak sekalipun disebut didalam injil, tidak pernah diajarkan oleh Isa Al Masih ataupun para sahabat nya. Demikian halnya juga berkumpul di hari Minggu dan berdoa dengan cara bernyanyi-nyanyi mutlak adalah bid'ah, karena tidak satupun ada seruan dalam injil hal demikian, dan tidak pernah diperintahkan Isa Al Masih kepada pengikutnya."
Maka Nasrani adalah contoh kehancuran sebuah agama, sehingga sangat sedikit keasliannya ada dijaman ini, semua karena diawali dari sikap taklid buta para pemeluknya kepada para ulamanya, membiarkan para ulamanya membuat syariat-syariat baru/bid'ah yang menurutnya baik kemudian mereka amalkan, hal demikian jelas mengikis syariat agama yang telah ada padanya.
Waallahua'lam.
Lihat bagaimana para ulama besar menyerukan kepada umat muslim agar menghindari sikap taklid buta kepada ulama.
Imam Abu Hanifah rahimahullah
Beliau mengatakan,
لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا ما لم يعلم من أين أخذناه
“Tidak boleh bagi seorangpun berpendapat dengan pendapat kami hingga dia mengetahui dalil bagi pendapat tersebut.”
Diriwayatkan juga bahwa beliau mengatakan,
حرام على من لم يعرف دليلي أن يفتي بكلامي
“Haram bagi seorang berfatwa dengan pendapatku sedang dia tidak mengetahui dalilnya.”
Imam Malik bin Anas rahimahullah
Beliau mengatakan,
إنما أنا بشر أخطئ وأصيب فانظروا في رأيي فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه
“Aku hanyalah seorang manusia, terkadang benar dan salah. Maka, telitilah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan al-Quran dan sunnah nabi, maka ambillah. Dan jika tidak sesuai dengan keduanya, maka tinggalkanlah.” (Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlih 2/32).
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah
Beliau mengatakan,
إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا ما قلت
“Apabila kalian menemukan pendapat di dalam kitabku yang berseberangan dengan sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ambillah sunnah tersebut dan tinggalkan pendapatku.” (Al-Majmu’ 1/63).
Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah
Beliau mengatakan,
لا تقلدني ولا تقلد مالكا ولا الثوري ولا الأوزاعي وخذ من حيث أخذوا
“Janganlah kalian taklid kepadaku, jangan pula bertaklid kepada Malik, ats-Tsauri, al-Auza’i, tapi ikutilah dalil.” (I’lam al-Muwaqqi’in 2/201;Asy-Syamilah,).
Referensi :"Jangan taklid buta saja" karya Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST. Dalam muslim.or.id