Tuesday, August 4, 2020

KAMI TIDAK BERMADHZAB ???



Oleh Siswo Kusyudhanto

Salah satu fitnah yang tersebar luas dikalangan masyarakat awam adalah Dakwah Salafiyah tidak bermadhzab, atau tidak mengikuti madzhab manapun dan membuat madzhab sendiri yakni Madhzab Wahabiyah, ini jelas fitnah keji

Padahal dalam kajian Dakwah Salafiyah, kitab-kitab yang dikaji dan dikutip dalam kajian adalah karya para ulama kibar rmadhzab besar, diberbagai daerah ada kajian rutin Kitab Tafsir Ibnu Katsir yang merupakan ulama kibar Madhzab Syafi'iyah, atau kajian rutin Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Asqolani juga ulama kibar Madhzab Syafi'iyah, atau Kajian Riyadush Shalihin karya Imam Nawawi juga ulama besar Madhzab Syafi'iyah dan banyak lagi.

Bahkan seperti Ustadz Firanda Andirja menulis sebuah buku "Ajaran Imam Syafi'i yang ditinggal pengikutnya", isinya full fatwa Imam Syafi'i yang dikutip dari kitab-kitab yang merupakan masterpiece karya Imam Syafi'i seperti Al Umm, beliau menulis untuk menunjukkan bagaimana ajaran Imam Syafi'i yang sebenarnya kepada masyarakat. Dan anehnya fatwa-fatwa Imam Syafi'i ini asing ditengah orang-orang yang mengaku bermadhzab Syafi'iyah, karena mereka memang hampir tidak pernah membaca kitab-kitab karya Imam Syafi'i, kebanyakan mereka tidak mendapat kajian kitab-kitab karya Imam Syafi'i.

Kesimpulannya fitnah bahwa Dakwah Salafiyah tidak bermadhzab adalah hisapan jempol belaka, murni hoax, dan yang terfitnah hal ini berdasarkan pengalaman cuma korban "katanya", kebanyakan tidak pernah datang langsung ke kajian Dakwah Salafiyah.
Harusnya mereka punya keberanian untuk datang ke kajian Dakwah Salafiyah secara langsung, atau ikuti secara rutin di kajian via streaming dan lainnya, lihat dari sumbernya, benarkah demikian?.

Justru orang-orang yang selama ini ngakunya bermadhzab mereka mengamalkan amalan-amalan yang tidak pernah diajarkan Madhzab besar dalam Islam manapun, belum ada kisah para imam madzhab mengamalkan tahlil kematian, maulid nabi, haulan, shalawat Nariyah dst. Sepanjang hidup mereka.

Kesimpulan akhir mereka adalah sebenarnya orang-orang yang tidak bermazhab, karena baik Aqidah dan amalan tidak mengikuti madzhab manapun, semoga Allah Azza wa Jalla berikan hidayah kepada kita dan mereka, Aamiin.

Agama diturunkan agar manusia dapat mengekang syahwatnya kepada dunia.


Oleh Siswo Kusyudhanto

Beberapa waktu lalu dapat kabar dari teman di pekerjaan lama saya, dia bercerita bahwa manajer kami saat ini ditangkap pihak kepolisian dan dijebloskan penjara karena dia ketahuan menggelapkan uang perusahaan, kabar ini tentu bikin kaget, prihatin dan heran.

Jujur saya kaget karena manager kami tersebut dulu adalah teladan bagi kami karyawan dalam urusan mengejar karir, beliau meraih posisi manajer melalui perjalanan panjang, dia mulai bekerja di perusahaan itu dari level paling bawah, dengan usaha kerasnya selama bertahun-tahun akhirnya dia naik level sampai diposisi menager.
Prihatin karena usaha keras dia selama bertahun-tahun meraih posisi yang baik di perusahaan itu begitu saja lenyap, dari posisi mulia menjadi terhina.
Heran karena posisi manager di perusahaan itu artinya dia menikmati segala fasilitas kesejahteraan yang disediakan perusahaan, mulai gaji yang mencapai puluhan juta perbulan, fasilitas rumah mewah yang biaya sewanya di bayar perusahaan sampai mobil dinas diberikan perusahaan, namun masih juga dia melakukan kejahatan untuk mendapatkan sejumlah uang yang ujungnya menjadi perkara pidana dan berakibat dia penjara.
Sungguh aneh.

Jadi teringat kajian seorang ustadz tentang cinta dunia, beliau mengatakan, salah satu fungsi Allah Azza wa Jalla menurunkan agama kepada manusia adalah agar manusia dapat mengekang syahwat mereka terhadap dunia, karena pada dasarnya manusia serakah kepada dunia.
Jika agama tidak ada kemungkinan akan terjadi kerusakan dalam kehidupan manusia, mereka akan saling menzalimi untuk mendapatkan dunia yang mereka ingin miliki, sementara manusia memiliki syahwat yang tidak ada batasnya kepada dunia, sifat dasar mereka merasa kurang dalam urusan dunia, akibatnya manusia menzalimi diri mereka sendiri karena berusaha keras demi mengejar dunia, jika sudah demikian yang dapat menghentikan manusia serakah kepada dunia hanya ketika tanah menutup mulut mereka, atau ketika manusia itu sudah mati dan terkubur didalam tanah.
Oleh karena itu Allah Azza wa Jalla dalam agama memberikan petunjuk agar manusia terhindar dari kerusakan, salah satunya adalah dengan sikap qana'ah, yakni merasa cukup atas yang manusia dapatkan dari usahanya, dengan demikian mereka terhindar dari kerusakan, waallahua'lam.

Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ

“Andai bani Adam memiliki dua lembah yang penuh dengan harta, maka dia akan mencari lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang bisa memenuhi perut bani Adam kecuali tanah (yaitu kematian)” (HR. Bukhari no.6436 dan Muslim no.1048).

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

قد أفلحَ من أسلمَ ، ورُزِقَ كفافًا ، وقنَّعَه اللهُ بما آتاهُ

“Sungguh beruntung orang yang sudah berislam, lalu Allah beri rezeki yang secukupnya, dan Allah jadikan hatinya qana’ah (merasa cukup) dengan apa yang dikaruniakan kepadanya” (HR. Muslim no. 1054).

Sumber Referensi "10 Sebab manusia merasa miskin dan kurang", karya Yulian Purnama di web Muslim.or

Tuesday, July 7, 2020

BELI SEPEDA HARGA JUTAAN MAMPU, BERQURBAN ENGGAK MAMPU ???


Oleh Siswo Kusyudhanto
Memang benar kata seorang syaikh, kemunduran Islam di jaman ini disebabkan kebanyakan Umat Islam itu masih dalam tataran pengakuan belum pada tingkatan iman yang sesungguhnya, jika iman didefinisikan para ulama sebagai ucapan lesan, diyakini dalam hati dan digerakkan oleh anggota tubuh, maka makna iman dikebanyakan orang yang mengaku beragama Islam masih ditingkat lesan saja, sementara keyakinan dalam hati atau sampai diamalkan dengan semua anggota tubuh masih sangat jauh.
Buktinya mungkin disaat qurban sekarang ini, banyak orang mampu membeli hp android mahal, mampu membeli motor dan mobil, juga mampu membeli rumah, namun giliran menyediakan dana untuk qurban yang nilainya jauh dibawah barang-barang diatas mereka menyatakan tidak mampu, nyerah.
Bahkan ada teman yang sedang terlanda hobby gowes mampu membeli sepeda lipat seharga 3,6 juta cash, namun ketika disodori sebagai peserta qurban tahun ini angkat tangan alias tidak mampu, subhanaAllah.
Kalau udah begitu bagaimana Islam ini berjaya kalau untuk menegakkan syariat kapan-kapan dan untuk hobby nomer satu?. Dan anehnya mereka semua berharap surga, padahal surga tidak didapatkan dengan santai dan gratis, surga dan kemuliaan disisi Allah Azza Wa Jalla diperlukan usaha keras dan pengorbanan, waallahua'lam.
Mungkin ini nasehat bagi kita semua, mulai menegakkan syariat dari diri sendiri dan keluarga, agar Islam berjaya, insyaAllah.
Allah Azza wa Jalla berfirman,
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” [Ali ‘Imran/3: 142]

Wednesday, July 1, 2020

MENGHAFAL AL-QURAN 30 JUZ SEJAK UMUR 70 TAHUN


Kisah yang memotivasi untuk menghafal alquran.
UMMU Shalih. 82 tahun, mulai menghafal Al-Qur’an pada usianya yang ke-70. Tamasyanya ke taman hafalan Al-Qur’an, sungguh sangat menginspirasi. Cita-citanya yang tinggi, kesabaran, dan juga pengorbanannya patut kita teladani.
Inilah hasil wawancara dengan Ummu Shalih yang dimuat Majalah Ad-Dakwah di Malaysia.
Motivasi apa yang mendorong Anda untuk menghafalkan Al-Qur’an pada umur yang setua ini?
Sebenarnya, cita-cita saya untuk menghafal Al-Qur’an sudah tumbuh sejak kecil. Kala itu ayah selalu mendoakanku agar menjadj hafizhah Al-Qur’an seperti beliau dan juga seperti kakak laki-lakiku. Dari hal itulah, aku mampu menghafal beberapa surat —kira-kira 3 juz.
Ketika usiaku menginjak 13 tahun, aku menikah. Tentu setelah itu aku tersibukkan dengan urusan rumah dan anak-anakku. Ketika aku dikaruniai 7 (tujuh) orang anak, suamiku wafat. Karena ketujuh buah hatiku masih kecil-kecil, maka seluruh waktuku tersita untuk mengurusi dan mendidik mereka.
Nah, ketika mereka sudah dewasa dan berkeluarga, maka waktu ku pun kembali luang. Dan hal yang pertama kali aku tunaikan adalah mencurahkan tenaga dan waktuku untuk mewujudkan cita-cita agungku yang tertunda untuk menghafal Kitabullah Azza wa Jalla.
Bagaimana awal perjalanan Anda dalam menghafal?
Saya mulai menghafal kembali ketika putri bungsuku masih duduk di bangku Tsanawiyah (SMP). Dia salah satu putriku yang paling dekat denganku, dan dia sangat mencintaiku. Sebab kakak-kakak perempuannya telah menikah dan disibukkan dengan kehidupan baru mereka. Sedangkan, dia (putri bungsuku) tinggal bersamaku. Dia sangat santun, jujur, dan mencintai kebaikan.
Putri bungsuku pun bercita-cita untuk menghafal Al-Qur’an—terlebih ketika ustadzahnya menyemangati dirinya. Dari sinilah, saya dan juga putri bungsuku menghafal Al-Qur’an, setiap hari 10 ayat.
Bagaimana metode yang Anda gunakan untuk menghafal?
Setiap hari, kami hanya menghafal 10 ayat saja. Pada ba’da Ashar, Kami selalu duduk bersama. Putriku membaca ayat, kemudian aku menirukannya hingga 3 (tiga) kali. Setelah itu putriku menerangkan makna dari ayat-ayat yang Kami baca. Lantas membaca kembali ayat-ayat tersebut hingga 3 (tiga) kali.
Keesokan harinya, sebelum berangkat ke sekolah putriku mengulangi ayat-ayat tersebut untukku. Tak cukup itu saja, saya pun menggunakan tape recorder untuk mendengar murattal Syaikh Al-Hushairi, dan aku mengulanginya hingga 3 (tiga) kali. Aku pun mendengar murattal tersebut pada sebagian besar waktuku.
Kami menetapkan hari Jum’at, khusus untuk mengulangi kembali ayat-ayat yang kami hafal selama satu pekan. Demikian seterusnya, saya dan putri bungsuku selalu menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dengan cara tersebut.
Kapan Anda selesal menghafal seluruh Al-Qur’an?
Kira-.kira 4,5 tahun berjalan aku sudah hafal 12 Juz dengan cara yang telah saya sebutkan. Kemudian putriku pun menikah. Ketika suaminya mengetahui kebiasaan kami, dia pun mengontrak sebuah rumah yang dekat dengan rumahku untuk memberikan kesempatan kepadaku dan putriku untuk menyempurnakan hafalan kami.
Semoga Allah membalas kebaikan menantuku dengan kebaikan yang lebih baik. Dialah yang selalu menyemangati kami, bahkan terkadang dia menemani kami untuk menyimak hafalan kami, menafsirkan ayat-ayat yang kami baca, dan juga memberikan pelajaran-pelajaran berharga kepada kami.
Tiga tahun kemudian, putriku tersibukkan dengan urusan anak-anaknya dan pekerjaan rumahnya. Sehingga tidak bisa melazimi kebiasaan yang telah kami jalani. Putriku pun merasa khawatir hafalanku menjadi terbengkalai. Maka, putriku pun mencarikan untukku seorang ustadzah agar dapat menemaniku menyempurnakan hafalanku.
Dengan taufik Allah Azza Wajalla aku pun telah purna menghafalkan seluruh Al-Qur’an. Semangat putriku pun masih membara untuk menyusulku menjadi hafizhah Al-Qur’an. Bahkan, tidak mengendur sedikit pun.
Cita-cita Anda sangat tinggi, dan Anda pun telah mewujudkannya. Siapakah sosok wanita di sekitar Anda yang selalu mendukung Anda?
Motivasi saya telah jelas dan terang. Putri-putriku, juga para menantu perempuanku pastinya selalu mendukungku. Walau hanya satu jam, kami sepakat untuk mengadakan pertemuan sepekan sekali. Dalam pertemuan itu kami menghafal beberapa surat, dan saling menyimak hafalan. Terkadang pertemuan itu pun macet. Tetapi kemudian mereka bersepakat kembali untuk bertemu. Saya yakin, niat mereka semua sangat baik.
Tak ketinggalan pula, cucu-cucu perempuanku yang selalu memberikan kaset-kaset murattal Al-Qur’an. Hingga aku pun selalu memberi mereka bermacam-macam hadiah.
Awalnya, tetangga-tetanggaku juga tidak simpatik dengan cita-citaku. Mereka selalu mengingatkanku betapa sulitnya menghafal di usia yang daya ingatnya telah lemah. Tetapi ketika mereka melihat kebulatan tekadku, akhirnya mereka pun berbalik mendukung dan menyemangatiku. Ada di antara tetanggaku yang juga ikut tersulut semangatnya untuk menghafal, dan sedikit demi sedikit hafalannya pun mulai bertambah.
Ketika tetangga-tetanggaku mengetahui bahwa aku telah purna menghafal seluruh Al-Qur’an, mereka pun sangat berbahagia. Hingga kulihat air mata bahagia menetes di pipi mereka.
Sekarang, apakah Anda merasa kesulitan untuk muraja’ah (mengulangi) hafalan?
Saya selalu mendengarkan murattal Al-Qur’an, dan menirukannya. Demikian juga ketika shalat, saya selalu membaca beberapa surat panjang. Terkadang pula saya meminta salah seorang putriku untuk menyimak hafalanku.
Di antara putra-putri Anda, adakah yang juga hafizh seperti Anda?
Tak ada satu pun dari mereka yang hafal keseluruhan Al-Qur’an. Tetapi, insya Allah mereka selalu berusaha mencapai cita-cita menjadi hafizh. Semoga Allah menyampaikan mereka pada hal tersebut dengan bimbingan-Nya.
Setelah hafal Al-Qur’an, tidak terpikirkan untuk menghafal hadits?
Saat ini, saya telah hafal 90 hadits, dan saya tetap berkeinginan untuk melanjutkannya, Insya Allah. Saya menghafalnya dengan mendengarkan dari kaset. Pada setiap akhir pekan, putriku membacakan untukku 3 (tiga) hadits. Sekarang, saya telah mencoba untuk menghafal hadits lebih banyak lagi.
Setelah kurang lebih 12 tahun Anda disibukkan dengan menghafal Al-Qur’an, perubahan apa yang Anda rasakan dalam kehidupan Anda?
Benar, saya merasakan perubahan yang mendasar dalam diri saya. Walau sebelum menghafal–untuk Allah segala pujian—saya selalu menjaga diri untuk senantiasa dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Setelah disibukkan dengan menghafalkan Al-Qur’an, justru saya merasakan kelapangan hati yang tak terkira, dan sirnalah seluruh kecemasan dalam diriku. Saya pun tidak pernah menyangka akan terbebas dari perasaan khawatir terhadap urusan-urusan yang menimpa anak-anakku.
Moral dan spiritku benar-benar terangkat. Hingga aku pun rela berpayah-payah untuk mewujudkan kerinduanku dalam mewujudkan cita-citaku. Inilah nikmat terbesar yang diberikan oleh Sang Khaliq Azza Wajalla kepadaku sebagai wanita tua, suami pun telah tiada, dan juga anak-anaknya pun mulai berkeluarga.
Di saat wanita lanjut usia lainnya terjebak dalam angan-angan dan lamunan. Tetapi aku —segala puji hanya untuk Allah— tidak merasakan hal yang demikian. Saya benar-benar tersibukkan dengan urusan besar yang memiliki faedah di dunia dan akhirat.
Ketika itu, apakah Anda tidak berpikir untuk mendaftarkan diri pada sebuah pesantren penghafal Al-Qur’an?
Pernah beberapa wanita yang mengusulkan kepadaku, tapi saya adalah wanita yang terbiasa untuk berdiam diri di dalam rumah dan jarang sekali keluar rumah. Alhamdulillah, karena putriku telah mencukupi segalanya dan membantuku dalam segala urusan. Sungguh, putriku benar-benar tidak ada duanya. Aku pun telah banyak mengambil pelajaran darinya.
Apa saran Anda kepada wanita yang telah lanjut usia, dan menginginkan untuk dapat menghafalkan Al-Qur’an, tetapi terhalang oleh rasa khawatir dan merasa tidak mampu untuk melaksanakannya?
Saya katakan, “Jangan berputus asa terhadap cita-cita yang benar. Teguhkanlah keinginanmu, bulatkan tekadmu, dan berdoalah kepada Allah di setiap waktu. Kemudian, mulailah sekarang juga. Setelah umurmu berlalu dan kau curahkan seluruhnya untuk memenuhi tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga, mendidik anak, dan mengurus suami. Maka sekarang saatnyalah Anda memanjakan diri. Bukan berarti kemudian memperbanyak keluar rumah, memuaskan diri dengan tidur, bermewah-mewah, dan banyak beristirahat. Tetapi memanjakan diri dengan amal shalih. Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita memohon khusnul khatimah.
Nasihat Anda terhadap para remaja?
Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Nikmat Allah berupa kesehatan, dan banyaknya waktu luangmu, maksimalkanlah untuk menghafal kitab Allah Azza Wa Jalla. Inilah cahaya yang akan menyinari hatimu, hidupmu, dan kuburmu setelah engkau mati.
Jika kalian masih memiliki ibu, bersungguh-sungguhlah dalam membimbingnya menuju ketaatan kepada Allah. Demi Allah, tidak ada nikmat yang lebih dicintai seorang ibu kecuali seorang anak shalih yang mau menolongnya untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza Wa Jalla. []
sumber Islampos.co

Eksis itu di langit, InsyaAllah.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Banyak sekali akhir-akhir ini viral kebaikan yang tersebar di media sosial juga media berita nasional, ada orang yang berhasil mengIslamkan orang, atau banyak artis membagi-bagikan sedekah sembako ataupun uang dan banyak lagi, mungkin maksud di share hal-hal seperti ini adalah usaha untuk memotivasi orang lain agar melakukan hal sama, bagus sih, cuma mungkin jauh lebih hebat jika hal-hal seperti itu disembunyikan, karena kata banyak ulama batas antara ikhlas dan riya'(ingin dipuji orang lain) itu sangat tipis, banyak orang merasa diri mereka dalam keadaan ikhlas tapi sejatinya sudah terjebak dalam kubangan riya', ingin menuai pujian orang lain atas kebaikan yang dilakukannya, dan ini membahayakan dirinya, terancam pahala atas apa yang dikerjakan olehnya hangus sia-sia, masih juga terancam azab neraka atas ke riya'annya itu.
Menurut pengamatan saya selama ini banyak orang-orang hebat dalam menyembunyikan kebaikan yang dilakukannya, saya pernah mendapat cerita seorang santri yang menceritakan perjuangan ustadznya yang berdakwah selama 7 tahun di pulau-pulau terpencil di Maluku Utara, dan berhasil mengajak orang masuk ke dalam Islam hingga ratusan orang atau bahkan mungkin ribuan orang, MasyaAllah, dan hebatnya hal seperti ini sangat sedikit orang tau, mungkin beliau ingin menjadikan amalannya tabungan kelak di akhirat, dan tidak ingin hangus karena berharap pujian orang, waallahua'lam.
Atau kisah ketika Masjid Raudhatul Jannah mendapatkan bantuan dari seseorang yang tidak diketahui siapa, si donatur menghubungi panitia pembangunan masjid bahwa dia menaruh sejumlah uang di salah satu sudut masjid dan minta pengurus mengambil uang tersebut, setelah pengurus mencari dilokasi yang ditunjukkan si penelpon ternyata memang benar ada bungkusan di lokasi tersebut, dan setelah dibuka ternyata ada uang 20 juta didalamnya, MasyaAllah. Semoga Allah Azza wa Jalla merahmati si Fulan, Aamiin.
Dan mungkin banyak kisah serupa yang pernah kita ketahui, juga seperti kisah-kisah hebat ulama salaf yang menyembunyikan amal ibadah mereka demi menjaga keikhlasan mereka, karena mereka tau ikhlas itu berat, tidak semudah mengucapkan dan teorinya.
Jadi teringat nasehat Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah dalam sebuah kajian, beliau mengatakan,
" Sungguh celaka orang yang sangat terkenal dikalangan manusia, namanya menjadi buah bibir dikalangan manusia karena kebaikannya, namanya disebut juga di koran dan televisi, namun sayang namanya asing dikalangan malaikat di langit, justru namanya mengumpulkan catatan keburukan, karena dia hanya menampakkan kebaikan dalam jangkauan mata manusia, namun ketika dia sendiri dia merasa bebas melakukan kemaksiatan.
Dan sungguh beruntung orang yang namanya asing dikalangan manusia, namanya tidak dikenal di kalangan manusia, namun namanya sangat terkenal dikalangan malaikat dilangit karena dia melakukan kebaikan, dia berusaha menyembunyikan kebaikan yang dilakukannya, juga Istiqomah dalam amal ibadah baik yang nampak oleh mata manusia ataupun tidak terjangkau mata manusia."
Dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla:
إِن تُبْدُواْ الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لُّكُمْ
“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu” (QS. Al Baqarah: 271).
Ayat ini menunjukkan bahwa menyembunyikan amalan shalih itu lebih utama secara umum. Karena itu lebih dekat kepada keikhlasan. Dan disebutkan dalam hadits tujuh orang yang mendapat naungan Allah, diantaranya:
ورجل تصدق بصدقة فأخفاها حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه
“Seorang yang bersedekah, ia menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan tangan kanannya” (HR. Bukhari no. 1423).
Sumber Referensi "Menampakkan dan menyembunyikan amalan", karya Yulian Purnama di web Muslim.or.id

Wednesday, June 3, 2020

Ketupatnya bukan bid'ah, yang bid'ah adalah perayaan ketupatannya


Ketupatnya halal, tidak masalah, yang jadi masalah adalah menetapkan dan merayakan ketupatan, karena tidak ada sama sekali tuntutan dari Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam, juga Khulafur Rasyidin dan juga para imam madzhab.
Di antara perkara yang diada-adakan (bid’ah) pada bulan Syawwal adalah bid’ah hari raya Al Abrar (orang-orang baik) (atau dikenal dengan hari raya Ketupat.pent.), yaitu hari kedelapan Syawwal.
Setelah orang-orang menyelesaikan puasa bulan Ramadhan dan mereka berbuka pada hari pertama bulan Syawwal -yaitu hari raya (iedul) fitri- mereka mulai berpuasa enam hari pertama dari bulan Syawwal dan pada hari kedelapan mereka membuat hari raya yang mereka namakan iedul abrar (biasanya dikenal dengan hari raya Ketupat. Pent )
Syaikhul Islam lbnu Taimiyah –Rahimahullah- berkata: “adapun membuat musim tertentu selain musim yang disyariatkan seperti sebagian malam bulan Rabi’ul Awwal yang disebut malam maulid, atau sebagian malam bulan Rajab, tanggal 18 Dzulhijjah, Jum’at pertama bulan Rajab, atau tanggal 8 Syawwal yang orang-orang jahil menamakannya dengan hari raya Al Abrar ( hari raya Ketupat) ; maka itu semua adalah bid’ah yang tidak disunnahkan dan tidak dilakukan oleh para salaf. Wallahu Subhanahu wata’ala a’1am.
Peringatan hari raya ini biasanya dilakukan di salah satu masjid yang terkenal, para wanitapun berikhtilat (bercampur) dengan laki-laki, mereka bersalam-salaman dan mengucapkan lafadz-lafadz jahiliyyah tatkala berjabatan tangan, kemudian mereka pergi ke tempat dibuatnya sebagian makanan khusus untuk perayaan itu. (lihat : As Sunan wal mubtadi’at al muta’alliqah bil adzkar wassholawat karya Muhammad bin Abdis Salam As Syaqiriy hal. 166)
(Kitab Al Bida’ Al Hauliyyah karya : Abdullah bin Abdul Aziz At tuwaijiry. Cet. I Darul Fadhilah Riyadh, Hal. 350. Penterjemah : Muhammad Ar Rifa’i)
Hari kedelapan dari syawwal ini orang umum menamakannya sebagai Iedul Abrar (hari raya orang yang baik) yaitu orang-orang yang telah puasa enam hari syawwal. Namun hal ini adalah bid’ah. Maka hari ke delapan ini bukanlah sebagai hari raya, bukan untuk orang baik (abrar) dan bukan pula bagi orang jahat (Fujjar).
Sesungguhnya ucapan mereka (yaitu iedul abrar) mengandung konskwensi bahwa orang yang tidak puasa enam hari dari syawwal maka bukan termasuk orang baik, demikian ini adalah keliru. Karena orang yang telah menunaikan kewajibannya maka dia, tanpa diragukan adalah orang yang baik walaupun tentunya sebagian orang kebaikannya ada yang lebih sempurna dari yang lain.
(Syarhul Mumti’ Karya As Syaikh Ibnu Utsaimin jilid 6 bab shaum Tathawwu’

Ketika tradisi mengalahkan agama




Oleh Siswo Kusyudhanto
Kata seorang ustadz dalam salah satu kajian, ketika tradisi bertemu dengan syariat Islam maka syariat Islam didahulukan daripada tradisi, sehingga tradisi mengikuti syariat Islam, maka ketika tradisi selama tidak melanggar syariat Islam dipersilahkan, tidak ada larangan sama sekali, misal bentuk baju selama menutup aurat sesuai syariat maka akan dibenarkan, misal pakai sarung asli tradisi nenek moyang sejak dulu, dan ini diperbolehkan karena memenuhi kaidah syariat Allah dan RasulNya.
Namun banyak orang mendahulukan tradisi daripada syariat Islam, akibatnya muncul sinkretsime (Sinkretisme adalah suatu proses perpaduan dari beberapa paham-paham atau aliran-aliran agama atau kepercayaan.) mencampurkan ajaran Islam dengan tradisi, maka terjadi orang melarung kepala kerbau di laut sementara yang melarung membaca Tahlil, padahal melarung sesajen itu masuk amalan kesyirikan, sementara lafadz Tahlil adalah mengEsakan Allah Azza wa Jalla, wallahua'lam.
Mendahulukan tradisi dari agama yang disampaikan oleh Allah Azza wa Jalla dan RasulNya juga salah satu sifat kaum jahiliyah yang masih ada sampai sekarang, wallahua'lam.
Allah berfirman,
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ
“Dan jika dikatakan kepada mereka, marilah kalian kepada apa yang Allah turunkan kepada Rasul, niscaya mereka berkata, cukuplah bagi kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami berada padanya. Apakah (mereka tetap bersikap demikian) meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Maidah: 104).
Dalam menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir berkata, “Jika mereka diajak kepada agama dan syariat Allah, kepada hal-hal yang Allah wajibkan dan meninggalkan hal-hal yang Allah haramkan, mereka berkata, cukup bagi kami jalan-jalan yang ditempuh oleh nenek moyang kami. Allah berfirman, ‘Apakah (mereka tetap bersikap demikian) meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?’ Yakni, mereka tidak mengetahui, memahami dan mengikuti kebenaran. Lalu kenapa mereka tetap mengikutinya padahal demikian keadaannya?! Tidak ada yang mengikuti mereka melainkan orang yang lebih bodoh dari mereka dan lebih sesat jalannya”.
(Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim (2/108, 109).
Sumber Referensi "Penghalang Iitiba', mendahulukan nenek moyang dan tokoh diatas dalil", karya Ustadz Kholid Syamhudi di web Muslim.or