Sunday, October 27, 2019

MEMBERI HADIAH ADALAH SALAH SATU AMALAN SUNNAH YANG MULIA


Oleh Siswo Kusyudhanto
Tadi siang ada ustadz bercerita kepada saya, beliau menceritakan kegembiraannya mendapatkan hadiah dari Ustadz Khalid Basalamah, yakni berupa parfum yang sangat langka juga termasuk parfum premium, jarang dijual ditoko kebanyakan, saking gembiranya dengan pemberian hadiah dari Ustadz Khalid Basalamah ini sampai beliau simpan di lemari dirumahnya dengan sangat rapi, bahkan agar awet ini parfum hanya pada hari tertentu saja digunakan, seperti menjelang shalat Ied atau acara penting lainnya.
Jadi ikut senang dengar cerita beliau, jadi paham betapa senangnya membuat orang lain bahagia dengan memberikan hadiah, dan ini adalah salah satu amalan Sunnah yang mulia yang seharusnya kita juga amalkan, InsyaAllah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَهَادُوا تَحَابُّوا
“Hendaklah kalian saling memberi hadiah, Niscaya kalian akan saling mencintai“.
(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa hadiah ini bisa menyebabkan persatuan dan saling cinta, bahkan terkadang memberikan hadiah lebih utama daripada sedekah pada keadaan tertentu. Beliau berkata,
ولأنها سبب للألفة والمودة. وكل ما كان سبباً للألفة والمودة بين المسلمين فإنه مطلوب؛ ولهذا يُروى عن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم أنه قال: (تهادوا تحابوا)، وقد تكون أحياناً أفضل من الصدقة وقد تكون الصدقة أفضل منها
“Karena hadiah merupakan sebab persatuan dan rasa cinta. Apapun yang dapat menjadi sebab persatuan dan rasa cinta antar kaum muslimin, maka ini dianjurkan. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ‘“Hendaklah kalian saling memberi hadiah, Niscaya kalian akan saling mencintai’. Terkadang memberi hadiah itu lebih baik dan terkadang sedekah itu lebih baik (pada keadaan tertentu).”
Sumber Referensi "Sunnahnya saling memberikan hadiah", karya Dr. Raehanul Bahraen, di muslim.or
Foto Baliho Dakwah di jalan Air Hitam, Pekanbaru.

SEBANYAK APAPUN DOSAMU, BERUSAHALAH UNTUK TERUS MEMPERBAIKI DIRI



Oleh Siswo Kusyudhanto
Kalau dikirimi foto kegiatan kelompok Bacaan Al-Qur'an yang saya ikut membantu dengan menyalurkan sumbangan teman-teman berupa Mushaf Al-Qur'an dan buku iqro' untuk kelas bacaan Al-Qur'an di beberapa lokasi seperti Lembaga Pemasyarakatan Jailolo Halmahera Barat Maluku Utara atau Lembaga Pemasyarakatan Sarolangun Jambi jadi teringat nasehat seorang ustadz, kata beliau ketika kita melakukan kesalahan dan dosa segera bangkit dan berusaha memperbaiki diri, pada dasarnya selama hidup kita melakukan hal demikian, jatuh bangkit lagi untuk berusaha menjadi lebih baik lagi, jatuh lagi dan berusaha bangkit lagi, begitu seterusnya sampai kematian menjemput kita.
Jadikan kesalahan dan dosa sebagai motor penggerak bagi kita untuk selalu memperbaiki amal dan ibadah kita, dan menjadi pendorong agar tetap Istiqomah diatas ketaatan pada Allah Azza wa Jalla, insyaallah, dan jangan lupa berdoa kepada Allah Azza wa Jalla agar dimatikan diatas Islam, diatas ketaatan kepadaNya, jangan sampai kita mati diatas maksiat, itu sungguh kematian yang sangat buruk, waalahua'lam.
Juga sekalian saya ucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman donatur yang sudah membantu mereka dalam usaha untuk memperbaiki diri mereka yang pernah melakukan kesalahan dimasa lalu, sehingga karenanya mereka mendekam di lembaga pemasyarakatan dalam sekian waktu, semoga bacaan Al-Qur'an mereka juga menjadi pahala bagi para donatur Mushaf Al-Qur'an dan buku, Aamiin.
Allah ta’ala berfirman,
وَاللّهُ يُرِيدُ أَن يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَن تَمِيلُواْ مَيْلاً عَظِيماً
“Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian, sedangkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya ingin agar kalian menyimpang dengan sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisaa’: 27)
Allah ta’ala juga berfirman,
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ
“Dan seandainya bukan karena keutamaan dari Allah kepada kalian dan kasih sayang-Nya (niscaya kalian akan binasa). Dan sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha bijaksana.” (QS. An Nuur: 10)
Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ
“Sesungguhnya Tuhanmu sangat luas ampunannya.” (QS. An Najm: 32)
Allah ta’ala berfirman,
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
“Rahmat-Ku amat luas meliputi segala sesuatu.” (QS. Al A’raaf: 156)
Foto warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Jailolo Halmahera Barat, Maluku Utara dan Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Sarolangun Jambi.

NASEHAT EMAS KETIKA MERASA DIZALIMI


Oleh Siswo Kusyudhanto
Ada nasehat yang sangat mencerahkan dan menyegarkan dari seorang teman yang saya perlukan ketika kita merasa dizalimi, atau mungkin merasa dikhianati dan dikecewakan seseorang, dia berkata, " Bagi kita yang sudah ngaji lama, dan tau bahwa setiap perbuatan ada hisabnya, maka ketika kita dizalimi yakinkan bahwa pelakunya akan menghadapi hisab kelak, dan dia harus mempertanggung jawabkan kelak saat hisab, jadi kenapa kita harus kecewa dan sedih?, tidak ada alasan bagi kita untuk kecewa dan sedih, kita akan menghadapi hisab atas perbuatan kita demikian juga dengan dia, yang dapat kita lakukan adalah berusaha bersabar dan berdoa agar dikuatkan menghadapi hal-hal buruk yang menimpa kita, bukankah sabar adalah salah satu tiket ke surga?".
MasyaAllah nasehat senilai emas, jazakallahu khairan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memang menulis semua amalan hambaNya, yang baik maupun yang buruk, sebagaimana firmanNya:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ﴿٧﴾وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. [al Zalzalah / 99:7-8].
يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۚ أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakanNya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. [al Mujaadilah / 58 : 6].
Sehingga seluruh pelaku perbuatan melihat amalannya dan tidak dapat mengingkarinya, karena bumi menceritakan semua amalan mereka. Begitu pula seluruh anggota tubuh pun berbicara tentang perbuatan yang telah ia lakukan. Dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا﴿١﴾وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا﴿٢﴾وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا
Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini),” pada hari itu bumi menceritakan beritanya, [al Zalzalah / 99 : 1-4].
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. [Yaasin / 36:65]
Sumber Referensi "Hisab pada hari pembalasan" karya Oleh
Ustadz Abu Asma Kholid Syamhudi Lc di almanhaj.or

Saturday, October 19, 2019

YANG DINILAI OLEH ALLAH AZZA WA JALLA ADALAH HATIMU


Oleh Siswo Kusyudhanto
Kemarin dihubungi seorang teman, dia bercerita ingin bersedekah Mushaf Al-Qur'an untuk membantu kami memenuhi kebutuhan Mushaf Al-Qur'an dibeberapa lokasi kelas bacaan Al-Qur'an yang berada dibeberapa Masjid dan Musholla di Sumatera Barat, pertama mendengar itu saya sangat gembira, maklum permintaan dari para ustadz pengajar sangat banyak hampir 250 Mushaf Al-Qur'an saat ini dibutuhkan untuk mendukung mereka dalam proses belajar mengajar dan dakwah ke masyarakat, sementara donatur yang menyumbang sangat sedikit.
Namun cerita berikutnya membuat saya menolak secara halus sedekahnya, sekaligus bikin haru dan bangga padanya, teman yang akan bersedekah ini bercerita bahwa dia baru saja di PHK oleh perusahaan dimana dia bekerja, dan dia mendapatkan sejumlah pesangon sejumlah uang, dan sebagian dari pesangon itu rencananya dia gunakan untuk menyumbang Mushaf Al-Qur'an kepada saya, MasyaAllah, jadi merinding dengarnya, maklum disaat dia mendapat kemalangan berupa PHK dari perusahaannya masih juga dia ingin bersedekah, tentu keinginan dia saya tolak, saya sarankan agar uangnya digunakan untuk memulai usaha atau digunakan biaya hidup selama belum bekerja, insyaallah itu lebih baik, soal sedekah Mushaf Al-Qur'an biar teman yang lain yang lebih lapang soal harta yang mengisinya.
Jadi teringat kajian Ustadz Abdullah Zein tentang hal ini, beliau mengatakan seseorang bergaji 3 juta kemudian dia bersedekah 1 juta, dengan seseorang yang bergaji 10 juta kemudian bersedekah 1 juta, meskipun kedua orang ini sama-sama bersedekah 1 juta, secara nominal uang sama, namun menurut pembahasan ulama yang bergaji 3 juta dan bersedekah 1 juta nilainya jauh lebih besar disisi Allah Azza wa Jalla, dari orang yang bergaji 10 juta dan bersedekah 1 juta, kenapa?, Karena orang yang bergaji 3 juta dan kemudian bersedekah 1 juta membutuhkan pengorbanan yang lebih besar dalam hatinya, karena yang disedekahkan adalah sepertiga dari gajinya, sementara orang yang bergaji 10 juta yang disedekahkan 1 juta itu nilainya cuma sepersepuluh dari gajinya, tentu ringan bagi dia dan tidak terlalu membutuhkan pengorbanan besar dalam hatinya, Allah Azza wa Jalla tidak melihat rupa juga harta seseorang namun menilai dari amalan hatinya, waalahua'lam.
Dalam sebuah hadits disebutkan,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).
Beberapa faedah dari hadits di atas:
1- Amalan yang dibalas oleh Allah adalah amalan yang disertai niat yang ikhlas dan benar.
2- Kita harus lebih memperhatikan keadaan hati dari berbagai sifat tercela.
3- Memperbaiki hati lebih didahulukan daripada memperhatikan amalan lahiriyah. Yang utama, hati diperbaiki dengan memperhatikan akidah.
4- Amalan seseorang bisa jadi nampak baik secara lahiriyah, namun hatinya rusak. Oleh karena itu, tetap kita berinteraksi dengan orang semacam ini dengan memperhatikan lahiriyahnya. Sedangkan hatinya yang rusak adalah urusannya dengan Allah.
Sumber Referensi "Lihat Hatimu", karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc di rumaysho.c

Karena mengikuti cara beragama Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam saya dianggap bukan orang Jawa


Oleh Siswo Kusyudhanto
Kalau orang di Indonesia membaca atau mendengar nama saya "Siswo Kusyudhanto", pasti dengan mudah orang menganggap bahwa saya adalah orang yang berasal dari Suku Jawa, karena mustahil dan sulit ditemukan orang dari Suku Minang atau Suku Batak punya nama se antik itu
Namun ketika ada sebagian orang tau bahwa saya dalam beragama Islam berusaha berjalan diatas pemahaman Sunnah Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam dan para sahabatnya, maka orang akan menilai saya bukan orang Jawa, maklum saya tidak mengamalkan Tahlil kematian, tidak merayakan gerebek Suro, tidak suka ke dukun, tidak memandikan keris , tidak ngalap berkah ke kuburan, tidak Larung sesaji, tidak sedekah bumi dan tidak mengamalkan amalan-amalan yang biasa atau adat kebanyakan orang Jawa lakukan.
Bahkan sebagian orang Jawa yang tau saya tidak mengamalkan itu semua mencap saya dengan "tidak Njawani", alias keluar dari Suku Jawa.
Asal tau saja saya tidak lakukan amalan-amalan khas Jawa itu sejak mengenal pemahaman Ahlu Sunnah Manhaj Salaf, cara beragama Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam dan para sahabat beliau, dan kalau ditanya kenapa?, Alasan saya berusaha mengikuti cara beragama mereka karena saya ingin masuk surga(At Taubah100), meskipun mungkin disana sini amalan dan keimanan saya jauh dari level mereka, insyaallah akan terus berusaha sampai nyawa tercabut.
Dan usaha meraih surga itu diantaranya dengan berusaha semaksimal mungkin meninggalkan perkara-perkara yang dijelaskan Allah dan RasulNya dapat menjerumuskan saya kedalam neraka, seperti maksiat, Syirik dan Bid'ah.
Saya tidak mengikuti adat istiadat nenek moyang saya bukan karena benci mereka, atau menyesali perbuatan mereka dimasa lalu, namun saya memaklumi ketidak tahuan mereka akan perkara maksiat, syirik dan bid'ah, karena mungkin belum sampainya ilmu dan hidayah kepada mereka, waalahua'lam.
Justru karena mencintai nenek moyang saya, dan ingin membersihkan nama mereka maka mulai dari generasi saya kalau bisa amalan-amalan yang menyelisihi syariat Allah dan RasulNya berusaha saya tinggalkan, dan berharap anak keturunan saya tidak melakukan kesalahan serupa nenek moyang saya.
Yang saya lakukan sebenarnya sederhana, saya tidak ingin masuk orang yang memiliki sifat seperti kaum jahiliah dijaman Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam mendakwahkan Islam, ketika mereka diajak untuk masuk kedalam Islam mereka menolak dan beralasan "Kami hanya mengikuti adat istiadat nenek moyang kami".
Sekali lagi saya ingin sekali masuk surga, maka saya berusaha meraihnya dengan mengikuti jalan yang hak, yakni agama Islam yang bersih dari maksiat, bersih dari syirik, bersih dari bid'ah, Aamiin.
Juga semoga Allah Azza wa Jalla mengampuni dosa dan ketidak tahuan para nenek moyang saya yang orang Jawa, Aamiin.
Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ
“Dan jika dikatakan kepada mereka, marilah kalian kepada apa yang Allah turunkan kepada Rasul, niscaya mereka berkata, cukuplah bagi kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami berada padanya. Apakah (mereka tetap bersikap demikian) meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Maidah: 104).

SEBAIKNYA MENIKAH DENGAN YANG "SEMANHAJ"


Oleh Siswo Kusyudhanto
Beberapa waktu yang lalu saya diminta pertimbangan seorang Ikhwan yang akan menikah, dia menceritakan tentang calon istrinya, pertama kenal dia kira si calon istri ini semanhaj dengannya yakni Manhaj Salaf karena selalu memakai cadar jika keluar rumah, juga informasi yang dia terima termasuk wanita yang Sholehah, tidak pernah terdengar hal buruk tentang dia, dan ini yang membuat dia tertarik untuk menjadikan istrinya, setelah bertemu keluarga si wanita dia berjanji dalam waktu dekat akan melamarnya.
Namun tanpa sengaja suatu saat dia membuka wall media sosial calon istrinya, ketika melihat beberapa postingan si calon istri betapa kagetnya dia, si calon istri ini ternyata memposting beberapa kegiatannya seperti berdemo beberapa kali dijalanan, juga postingan yang diupload banyak mencaci maki pemerintah, dan mengkafirkan banyak negara yang notabene berbasis Islam seperti Arab Saudi, dan semua postingan itu menunjukkan bahwa si calon istri mengikuti paham sebuah organisasi yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin, yang beberapa waktu lalu oleh pemerintah Indonesia dimasukkan kelompok organisasi terlarang, sebagaimana juga terjadi hal sama di 17 negara lainnya di dunia, karena keinginan organisasi ini menegakkan khilafah dengan cara menggulingkan pemerintah yang sah.
Si Ikhwan minta pertimbangan saya, apakah diteruskan sampai menikah atau membatalkan pernikahan tersebut, saya jawab membatalkan insyaallah lebih baik, karena pertimbangannya soal Manhaj mencakup Aqidah dan syariat sudah berseberangan.
Dan menikah itu bukan satu atau dua hari, menikah itu durasinya adalah seumur hidup, kita hidup dengannya dalam waktu yang lama dengan pasang kita, jika perilaku yang kurang bagus mungkin kita dapat perbaiki dengan cara menasehati, namun kalau sudah Manhaj urusannya tentu berat dan sulit merubahnya, bisa saja terjadi banyak perselisihan dan pertengkaran diantara suami istri karena perbedaan pandangan dalam beragama.
Misal si istri ingin demo dijalanan sambil gendong anaknya, sementara suami melarang karena menurutnya wanita yang Sholehah itu tinggal dirumah mengasuh serta mendidik anak, juga mengurusi rumah, bukan malah jadi barang tontonan dijalanan. Atau juga misal si istri memposting mencaci maki pemerintah disosial media yang jelas ini nasehat terbuka, sementara sisuami memandang menasehati pemerintah adalah mengikuti sunnahnya yakni dengan cara tersembunyi, bukan terang-terangan seperti yang dilakukan si istri.
Dan banyak lagi kemungkinan yang terjadi karena perbedaan dalam beragama lainnya karena beda Manhaj.
Lagian juga masih banyak wanita dengan status janda dan gadis dikalangan jama'ah kajian Manhaj Salaf yang menunggu dipinang.
Akhirnya si Ikhwan menerima masukan dari saya dan memutuskan membatalkan menikah dengan si wanita itu, dan kemudian mencoba mencari calon istri di kajian Sunnah rutin yang dia ikuti, Alhamdulillah.
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pun menganjurkan memilih istri yang baik agamanya,
تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك
“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)
Maksud dari wanita yang baik agamanya adalah wanita yang selamat dari syubhat dan syahwat, ini bukan berarti wanita yang tidak pernah berdosalah yang seharusnya dipilih, karena semua anak adam pasti pernah berdosa, tapi maksudnya adalah wanita yang terus menerus tenggelam dalam syahwat dan syubhat (termasuk Bid'ah) meski sudah ditegakkan hujjah atasnya.
Sumber Referensi "Dalam dakwah".co

Monday, October 14, 2019

Teladan tentang IKHLAS


Oleh Siswo Kusyudhanto
Beberapa waktu yang lalu suatu sore ditelpon oleh Ustadz Syarif, beliau adalah pimpinan Pondok Pesantren Ilya Sunnah, Payo Lebar, Singkut, Sarolangun Jambi, juga alumni Pondok Pesantren Jamillurrahman Yogyakarta dan sempat satu kelas dengan Ustadz Firanda Adirja beberapa tahun.
Ustadz Syarif bercerita bahwa sore itu beliau menerima sebuah paket yang berisi sebuah Handphone Android seri terbaru dan masih segel, namun dibungkus paket hanya tertulis alamat dikirim sementara nama pengirim tidak ada, beliau menanyakan apakah handphone ini pengirimannya adalah saya, maklum saya sering menyindir beliau soal Handphone jadul milik beliau yang cuma bisa menelepon dan SMS doang, dengan sebutan "ini sudah jaman android", Ustadz Syarif mengira saya yang mengirim Handphone tersebut padahal tidak, lalu saya sampaikan bahwa bukan saya yang mengirim paket tersebut, mendengar jawaban dari saya makin bikin beliau bingung, lalu beliau berkata "Mungkin orang itu menjaga keikhlasan sedekahnya dengan cara demikian, berprasangka baik saja kepada dia, dan saya doakan semoga Allah Azza wa Jalla membalas kebaikannya, Aamiin."
Setelah itu beliau menutup pembicaraan via telepon.
MasyaAllah, sore itu dapat pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga keikhlasan, maklum dijaman hedonisme seperti sekarang ini dimana orang mengejar agar menjadi terkenal dan mendapatkan ribuan like atau pujian, masih ada saja orang-orang yang memberi sesuatu tanpa berharap apapun dari pemberian nya itu.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menjaga keikhlasan amal ibadah kita, Aamiin.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits, “Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari di mana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah, laki-laki yang hatinya senantiasa terikat dengan mesjid, dua orang yang mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang cantik dan memiliki kedudukan, namun ia berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sendiri hingga meneteslah air matanya.” (HR Bukhari Muslim).