Friday, September 6, 2019

Kalau nonton bola bisa bangun tapi giliran shalat subuh malah molor


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian seorang jama'ah bertanya kepada seorang ustadz, "Ustadz bagaimana caranya supaya saya bisa bangun pagi saat masuk subuh, karena sering saya kesiangan ketika akan shalat subuh?", Karena si ustadz nampak si penanya menggunakan kaos sebuah team sepak bola dari Eropa maka ustadz menjawab, " Usahakan melihat shalat subuh sepenting nonton bola pada dini hari, dimana antum bersemangat untuk bangun pagi hanya melihat pertandingan bola yang disiarkan secara live, bahkan antum bisa bangun pas sebelum pertandingan, harusnya seperti itu antum ketika ingin melakukan shalat fardhu subuh."
Mendengar jawaban itu si penanya mengangguk-angguk tanda memahami.
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Dan kehidupan dunia ini tiada lain hanyalah main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu mau memahaminya? [Al-An’âm/6:32]
Jadi makin paham pentingnya sikap Zuhud dalam mendasari amal ibadah kita, hanya dengan Zuhud amal ibadah jadi mudah, yakni mengutamakan urusan akhirat daripada urusan dunia, insyaallah.
Foto baliho dakwah Toko Cahaya Sunnah area Masjid Raudhatul Jannah Pekanbaru.

Ini Bid'ah hasanah yaa?

Kemarin ada kejadian lucu, tetangga meninggal dunia, seperti biasanya ada tenda dan mengadakan tahlil kematian, ketika tahlilan dimulai saya pulang meninggalkan puluhan jamaah acara ini, pas sampai rumah dari speaker ada perkataan MC yang didengar istri saya dan kasih tau. lalu saya dengar sebagian, " tahlil kematian ini bukan bid'ah dholallah yaa, tapi ini adalah bid'ah hasanah", subhanaAllah, sampai segitunya memprovokasi saya, padahal saya diam saja selama ini, tidak ada pernah berkata apa2 soal amalan ini, dalam hati mau dikatakan bukan bid'ah dholallah atau dikatakan bid'ah hasanah ujungnya ya tetap bid'ah juga, dan tidak ada orang yang berani mengatakan itu amalan sunnah, karena bukan amalan sunnah, subhanaAllah.

Adil dalam poligami tidak segampang perkiraan


Oleh Siswo Kusyudhanto
Beberapa hari yang lalu bertemu seorang teman yang baru menikah dengan istri kedua beberapa bulan yang lalu, dia cerita kalau untuk bersikap adil sangat sulit dan tidak semudah bayangannya sebelumnya, dia cerita suatu hari adalah jatah waktu untuk istri pertama, secara syariat memang demikian berganti satu hari untuk satu istri, pada waktu itu dia kerja luar biasa sibuknya sampai pulang malam, pas nyampe rumah istri pertama karena kelelahan dia langsung tidur, besoknya jatah istri kedua, kok kebetulan tidak banyak kerjaan jadi dia bisa pulang cepat ke rumah istri kedua, dan ngajak jalan-jalan istri kedua ke Mal sampai malam, besoknya pas jatah istri pertama kok kebetulan banyak pekerjaan dan pulang petang, akhirnya meletus marah istri pertama, dia dimarahi habis-habisan, kata istri pertama, "pas giliran ku sibuk sampai pulang malam dan enggak sempat ngajak jalan-jalan, lah pas jatah dia(istri kedua) kok bisa jalan-jalan sampai malam pula?", Teman ini cuma diam, bingung mau ngomong apa.
Ternyata adil dalam poligami itu tidak mudah yaa.
Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya,
{فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا}
“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (QS an-Nisaa’:3

Tuesday, September 3, 2019

Puisi pendek untuk istriku



Ya dinda
Aku berpesan kepadamu agar menjaga marwahmu
tutupi auratmu yang menjadi hakku
Dengan menutupinya engkau menjaga kekasihmu juga dari dosa dan hisab akan menjagamu

Ya dinda
Ketahuilah kehidupan dunia hanya sekejap, jangan engkau serakah meraihnya sehingga melakukan kezaliman sehingga menjadi dosamu dan dosaku.

Ketahuilah dinda akhirat adalah jauh lebih utama, aku ingin duduk bersamamu disana, di surga.
Jadikan anak-anak kita sebagi penolong kita juga kelak, didiklah mereka tentang Allah dan RasulNya,

Ya dinda
aku mengandalkanmu untuk bersama meraih surga.

Pekanbaru 4 September 2019

By Siswo Kusyudhanto

Jaman dimana Hantu lebih ditakuti dari Allah Azza wa Jalla




Oleh Siswo Kusyudhanto
Akhir-akhir ini sedang viral kisah sekelompok mahasiswa yang sedang KKN dan mendapat sejumlah musibah setelah melakukan tindakan asusila disebuah desa di Jawa Timur, kisah ini ramai menjadi bahan yang dibicarakan diberbagai media online dan televisi nasional.
Akibatnya banyak orang merasa takut ketika akan berbuat asusila melihat kisah seram ini, atau mereka takut kalau berbuat asusila disembarang tempat, jangan-jangan ada hantu penunggu tempat itu yang marah dan akan mengazab mereka dikemudian hari.
Masalahnya kenapa kisah ini menjadikan banyak orang kemudian membuat hantu lebih ditakuti? Sebuah fenomena kerusakan Aqidah yang nyata, Padahal satu-satunya yang berhak ditakuti manusia terutama seorang yang mengaku Muslim adalah cuma Allah Azza wa Jalla.
Seharusnya ketika akan bertindak sesuatu yang diingat oleh kita pertama kali adalah apakah Allah Azza wa Jalla akan marah dan menurunkan azab bagi kita akan perbuatan yang akan kita lakukan, bukan hantu.
Waallahua'lam.
Allah berfirman :
إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ
“Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabb-nya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah”.[An Nahl : 99, 100].
Ibnul Qayyim menjelaskan, ketika Iblis mengetahui bahwa dia tidak memiliki jalan (untuk menguasai) orang-orang yang ikhlas, maka dia mengecualikan mereka dari sumpahnya yang bersyarat untuk menyesatkan dan membinasakan (manusia). Disebutkan dalam Al Qur`an, Iblis mengatakan.
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
“Demi kekuasaanMu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlas di antara mereka”. [Shad : 82, 83]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلاَّ مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ
“Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu (Iblis) terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat” [Al Hijr : 42]
Sumber Referensi"Jihad Melawan Setan", karya Ustadz Abu Muslim Al Atsyari di Al-Manhaj.or

Sunday, September 1, 2019

TIDAK ADA RASISME DALAM ISLAM




Oleh Siswo Kusyudhanto
Kalau membahas soal rasisme jadi ingat beberapa tahun yang lalu ketika sedang panas-panasnya kasus Ahok, dan Ibu Kota diserbu ribuan pendemo yang menuntut keadilan kepada penguasa atas pelecehan sang gubernur, dan bukan itu saja, di sosial media ada jutaan posting hujatan dan bahkan beberapa postingan memuat kata-kata kotor menghina etnis china, subhanaAllah.
Pada saat itu ada seorang akhwat langganan buku saya asal Jakarta yang sedang proses menjadi Muslimah dari agama sebelumnya Katolik dan kebetulan etnis china bertanya kepada saya apakah dibenarkan dalam Islam menghujat etnis tertentu? semisal menghujat etnis china, maka saya jawab tidak benar sama sekali, karena Islam itu Rahmatan lil alamin, Islam untuk alam semesta, untuk semua bangsa, Islam bukan milik etnis tertentu semisal milik suku Jawa, suku Sunda, suku Madura dan seterusnya, semua etnis dan suku di dunia ini boleh beragama Islam.
Lalu saya ceritakan kisah Malcolm X, seorang aktivis kulit hitam Islam asal Amerika Serikat, ketika masih remaja sampai dewasa beliau hidup dalam banyak kegiatan pergerakan Islam Amerika Serikat seperti Islam Nation, dan disana dia diberi pemahaman bahwa orang kulit putih sangat anti Islam, musuh Islam dan wajib diperangi dengan segala cara.
Namun pemahaman yang dianut oleh Malcolm X sejak remaja ini berubah sejak dia pergi Haji ke tanah suci, karena disana dia jumpai hampir semua suku bangsa dan semua warna kulit terlibat dalam satu ibadah yang disebut haji, mau warna kulitnya hitam legam, sawo matang sampai kulitnya putih seperti gading semua beramal ibadah sesuai syariat Islam. 
Disana Malcolm X menemui kenyataan bahwa pemahamannya selama ini keliru tentang Islam, dengan bukti itu dia jadi mengetahui Islam adalah milik semua bangsa, dan tidak ada rasisme dalam Islam, kedudukan mereka sama dalam agama ini.
Setelah mendengar cerita saya alhamdulillah teman ini hatinya menjadi tenang dan mengabaikan perkataan rasis dari postingan di sosial media juga masyarakat sekitarnya.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca terutama penulis, aamiin, betapa mulianya agama ini dalam menimbang kedudukan manusia.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Abu Dzar,
ﺍﻧْﻈُﺮْ ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﻟَﻴْﺲَ ﺑِﺨَﻴْﺮٍ ﻣِﻦْ ﺃَﺣْﻤَﺮَ ﻭَﻻَ ﺃَﺳْﻮَﺩَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻥْ ﺗَﻔْﻀُﻠَﻪُ ﺑِﺘَﻘْﻮَﻯ
“Lihatlah, engkau tidaklah akan baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam sampai engkau mengungguli mereka dengan takwa.”
(HR. Ahmad, 5: 158. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari sanad lain)
Allah menciptakan kita berbeda-beda agar kita saling mengenal satu sama lainnya. Yang membedakan di sisi Allah hanyalah ketakwaannya. Perhatikan ayat berikut:
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺇِﻧَّﺎ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺫَﻛَﺮٍ ﻭَﺃُﻧْﺜَﻰ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻛُﻢْ ﺷُﻌُﻮﺑًﺎ ﻭَﻗَﺒَﺎﺋِﻞَ ﻟِﺘَﻌَﺎﺭَﻓُﻮﺍ ﺇِﻥَّ ﺃَﻛْﺮَﻣَﻜُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺗْﻘَﺎﻛُﻢْ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. (Al-Hujurat: 13)
Sumber Referensi "Tidak ada Rasisme dalam Islam", karya Dr. Raehanul Bahraen di muslim.or

Aku perlu Hidayah Mu


Duhai qolbu
Yang didalamnya tersisa sedikit iman dan banyak noda serta dosa
Yang sedang lelah menghadapi dunia
Seperti sampan kecil sedang menghadapi ribuan gelombang
Datang bergulung gelombang fitnah
Dihempaskan liarnya gelombang syahwat
Diterjang derasnya syubhat
Duhai qolbu
Seperti daun kering ditengah badai angin dan debu
Tak tau arah kemana menuju
Terbawa kencangnya angin yang tidak pernah berlalu
Aku percaya diri dengan sedikit iman meminta hidayah Mu
Aku adalah hambaMu yang lemah
Ya Rabb berikan hidayah Mu
Aku tidak tau arah kemana menuju
Aku hamba yang lemah sementara Engkau Maha Kuat dan menguatkan.
Aku butuh hidayah Mu
Pekanbaru 1 September 2019
By Siswo Kusyudhanto