Wednesday, July 17, 2019

UJIAN MENGIKUTI IMAN



Oleh Siswo Kusyudhanto

Tak terasa sudah lebih dari empat puluh akun Facebook saya hangus, mulai direport, dibajak sampai di hack agar lenyap dari media sosial Facebook, hal ini disebabkan banyak orang dan pihak yang tidak suka postingan-postingan saya mungkin karena berbagai alasan, tapi yang utama saya yakni agar penyimpangan yang kelompok mereka lakukan tidak boleh dikritik, subhanaAllah, mereka ketakutan menjadi benar.

Dulu pertama ketika baru dua atau tiga akun lenyap dan hangus begitu saja saya sangat bersedih atas hal itu, namun setelah puluhan akun hangus dan lenyap hal itu menjadikan hal seperti ini kejadian biasa, dan alhamdulillah sebab kejadian seperti ini membuat saya pribadi yang sangat penyabar dan makin yakin atas apa yang saya lakukan selama ini adalah benar, yakni mengungkap penyimpangan demi penyimpangan yang terjadi di dalam Umat Islam dan juga masyarakat luas, mulai perbuatan riba, maksiat, kebid'ahan dan kesyirikan. InsyaAllah akan berjuang terus dijalan ini, aamiin.

Jadi ingat nasehat Ustadz Syafiq Reza Basalamah tentang menghadapi ujian dan musibah, kata beliau ketika kita mendapat ujian dan musibah maka lihat apa yang terjadi kepada para Nabi dan Rasul, apakah yang menimpa kita lebih berat dari apa yang terjadi kepada para Nabi dan Rasul?, jawabannya tentu yang terjadi kepada kita berupa ujian dan musibah jauh sangat ringan dibandingkan mereka, ini disebabkan keimanan kita jauh dibawah Nabi dan Rasul, sementara mereka Nabi dan Rasul adalah puncak keimanan manusia maka ujian yang mereka hadapi sangat berat jauh melampaui level ketahanan kita yang manusia biasa dalam menghadapinya. Waallahua'lam.

Seperti kita ketahui para Nabi dan Rasul menghadapi banyak ujian dan musibah selama hidup mereka ketika memperjuangkan agama Allah Ta'ala yakni agama yang berlandaskan Tauhid, mulai ancaman fisik, fitnah, kata-kata buruk, sampai ancaman kehilangan harta dan bahkan juga nyawa, jadi ujian dan musibah yang kita hadapai belum seberapa dibandingkan mereka, apalagi cuma kehilangan akun sosial media?.

Allah Azza Wa Jalla Berfirman :

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan [Âli ‘Imrân/3 : 186]

Semakin kuat iman seseorang, maka ujian yang akan diberikan oleh Allâh akan semakin besar. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Sa’d bin Abî Waqqâsh Radhiyallahu anhu :
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً قَالَ الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ
“Ya Rasûlullâh! Siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya”(HR. at-Tirmidzi no. 2398, an-Nasâi no. 7482, Ibnu Mâjah no. 4523 (ash-Shahîhah no. 143))
Sumber Referensi "Setiap Muslim akan mengahdapi Ujian", karya Ustadz Sa'id Yai Lc. di muslim.or

-------------------------------------------------------------------------------

Kami menyediakan buku-buku berbasis Kajian Sunnah, jika minat silahkan hubungi saya di WA 081378517454

ANCAMAN AZAB BAGI PELAKU RIBA




Oleh Siswo Kusyudhanto

Ancaman Allah dan RasulNya banyak termuat didalam ayat Al-Qur'an juga di banyak hadits, selain azab kelak di neraka, berikut adalah salah satu kisah azab yang menimpa pelaku riba didunia, semoga kita mendapat banyak pelajaran akan hal ini betapa bahayanya riba bagi kita jika melakukannya, waallahua'lam.

Kisah ini saya dapat dari saksi mata yang menyaksikan kejadian-kejadian yang menimpa keluarga pelaku riba.
Di Kisahkan di Kota Malang Jawa Timur ada sebuah keluarga yang mendapatkan penghasilan dari riba, mereka biasa meminjam uang ke orang kaya dan dikembalikan lagi dengan tambahan yang lumayan banyak, sistem yang berlaku adalah bagi hasil, uang hasil pinjaman di pinjamkan kepada pihak lain dengan bunga yang sangat tinggi atau bahasa kasarnya adalah mereka menjadi rentenir, dan ini jelas mutlak adalah riba yang terlarang secara syariat agama Islam.
Sebenarnya suami dan istri itu sering dinasehati orang yang mengerti bahaya riba namun mereka selalu berdalih bahwa apa yang mereka lakukan demi masa depan anak-anak mereka yang berjumlah tiga orang, mereka berharap dengan usaha ribanya dikemudian hari anak-anak mereka hidup sejahtera.
Namun Allah Ta'ala berkehendak lain atas harapan mereka, pertama anak yang paling tua pada suatu hari meninggal dalam kecalakan yang tragis, tak berselang lama beberapa tahun kemudian anak kedua meninggal dunia karena overdosis obat telarang dan minuman keras, dan yang paling tragis adalah anak ketiga mereka, anak ketiga ini meninggal karena terjatuh di kamar mandi, keadaannya mayatnya sungguh bikin miris yang melihatnya, kepalanya pecah seperti dibenturkan beberapa kali kelantai, padahal tidak ada orang lain selain dia di kamar mandi ketika mayatnya ditemukan, subhanaAllah.
Pada akhirnya semuanya anak-anak di keluarga itu meninggal semua padahal harta yang dikumpulkan orang tua mereka dengan cara riba sebenarnya diperuntukkan bagi masa depan mereka kelak, namun Allah Ta'ala berkehendak lain, waallahua'lam.

Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat) bahwa sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah [2]: 275)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas,”Maksudnya, tidaklah mereka berdiri (dibangkitkan) dari kubur mereka pada hari kiamat kecuali seperti berdirinya orang yang kerasukan dan dikuasai setan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/708)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan,”Para ulama berbeda pendapat tentang ayat ini. Apakah maksud ayat ini adalah mereka tidaklah bangkit dari kubur mereka pada hari kiamat kecuali dalam kondisi semacam ini, yakni bangkit dari kubur seperti orang gila atau kerasukan setan. Atau maksudnya adalah mereka tidaklah berdiri untuk bertransaksi riba (di dunia), (yaitu) mereka memakan harta riba seperti orang gila karena sangat rakus, tamak, dan tidak peduli. Maka ini adalah kondisi (sifat) mereka (pelaku riba) di dunia. Yang benar, jika sebuah ayat mengandung dua kemungkinan makna, maka ditafsirkan kepada dua makna tersebut semuanya.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 1/1907)

Sumber Referensi "Balasan Bagi Para Pelaku Riba", karya Ustadz Muhammad Saifudin Hakim di muslim.or


--------------------------------------------------------------

Kami menyediakan buku-buku berbasis Kajian Sunnah, jika minat silahkan hubungi saya di WA 081378517454

Monday, July 8, 2019

ISLAM KEMBALI ASING


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian seorang ustadz menyebutkan, kita telah sampai kepada jaman dimana Islam sangat asing ditengah umat manusia, bahkan asing dalam pandangan orang yang mengaku Islam, hal ini terjadi karena pengikut yang hak sangat sedikit sementara pengikut kebathilan sangat banyak.
Antum tidak percaya?, Lihat, misal ada sekumpulan wanita yang kebanyakan bercelana pendek dan menggunakan kaos you can see, dengan demikian ketek mereka terlihat, dan mereka sedang ngobrol dengan asyiknya, tiba-tiba lewat didepan mereka wanita yang berhijab lebar dan bercadar, maka spontan kelompok wanita yang membuka aurat itu akan berbisik diantara mereka, dan sepakat sekumpulan wanita itu menunjukkan si wanita berhijab dan bercadar adalah pengikut kesesatan.
Padahal sebenarnya yang berada dalam kesesatan adalah kelompok wanita yang membuka aurat itu, sementara yang diatas pemahaman yang hak adalah wanita yang berhijab lebar dan bercadar.
Demikian juga dalam hal yang lainnya, seorang pedagang jujur akan dianggap keliru karena dia hidup ditengah para pedagang yang suka berbuat curang.
Seorang karyawan yang jujur akan dianggap aneh oleh sekeliling nya karena dia hidup ditengah para karyawan yang suka berbuat kejahatan seperti korupsi, manipulasi dan sogok menyogok.
Dan banyak lagi hal serupa yang menunjukkan bahwa pengikut yang hak sangat sedikit sementara pengikut kebathilan sangatlah banyak.
Dan karena pengikut kebathilan sangat besar jumlahnya maka yang dianggap sesat dan keliru justru yang pengikut yang hak karena jumlah mereka sangat sedikit.
Inilah bukti nyata bahwa Islam sudah asing dikalangan umat manusia seperti yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam jauh-jauh hari, waalahua'lam.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing” (HR. Muslim no. 145).
Al Qadhi ‘Iyadh menyebutkan makna hadits di atas sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi,
أَنَّ الإِسْلام بَدَأَ فِي آحَاد مِنْ النَّاس وَقِلَّة ، ثُمَّ اِنْتَشَرَ وَظَهَرَ ، ثُمَّ سَيَلْحَقُهُ النَّقْص وَالإِخْلال ، حَتَّى لا يَبْقَى إِلا فِي آحَاد وَقِلَّة أَيْضًا كَمَا بَدَأَ
“Islam dimulai dari segelintir orang dari sedikitnya manusia. Lalu Islam menyebar dan menampakkan kebesarannya. Kemudian keadaannya akan surut. Sampai Islam berada di tengah keterasingan kembali, berada pada segelintir orang dari sedikitnya manusia pula sebagaimana awalanya. ” (Syarh Shahih Muslim, 2: 143)
Sumber Referensi "Berbahagialah Orang yang dianggap Asing", karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc. Di rumoysho.co

JANGAN IKUT MEROBOHKAN AGAMA DENGAN MENINGGALKAN SHALAT


Oleh Siswo Kusyudhanto
Kalau kita melihat survey-survey tentang shalat yang ada didalam masyarakat di negri kita ini sungguh bikin kita miris, angka hasil survey berkisar hanya 17-20 persen Umat Islam terutama Lelaki di negri kita yang tertib hadir di Masjid atau mushalla untuk ikut shalat berjamaah.
Padahal dalam Islam perkara shalat sangatlah penting, dalam sebuah kajian seorang ustadz menyebutkan, Shalat adalah tiang agama, Shalat juga adalah perkara yang penting sehingga shalat adalah perkara yang pertama kali dihisab kelak, baik tidaknya seseorang dapat dilihat dari bagaimana shalat nya.
Bahkan shalat adalah pembeda antara apakah dia Muslim atau dia Kafir.
Maka jangan tinggalkan shalat, karena jika antum meninggalkan shalat yang terjadi adalah antum sedang merobohkan agamanya sendiri.
Waalahua'lam.
---------
Shalat adalah Tiang Agama
Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc di rumoysho.co
Kedudukan shalat lima waktu dalam agama ini adalah ibarat tiang penopang dari suatu kubah atau kemah. Tiang penopang yang dimaksud di sini adalah tiang utama. Artinya jika tiang utama ini roboh, maka tentu suatu kubah atau kemah akan roboh.
Dari Mu’adz bin Jabal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ
“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Dalam hadits ini disebut bahwa shalat dalam agama Islam adalah sebagai tiang penopang yang menegakkan kemah. Kemah tersebut bisa roboh (ambruk) dengan patahnya tiangnya. Begitu juga dengan islam, bisa ambruk dengan hilangnya shalat. Demikianlah cara berdalil Imam Ahmad dengan hadits ini.
Dari ‘Abdullah bin ’Umar radhiyallahu ’anhuma, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun atas lima perkara, yaitu : (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji ke Baitullah -bagi yang mampu-, (5) berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16)
Faedah yang bisa kita tarik dari hadits di atas:
1- Dikatakan dalam hadits ini bahwa islam adalah seperti kubah yang dibangun di atas lima tiang penopang (rukun). Apabila tiang penopang kubah yang terbesar tersebut roboh, maka robohlah kubah Islam.
2- Dalam hadits ini juga disebutkan bahwa rukun-rukun Islam adalah tiang-tiang penopang suatu kubah (bukan tiang biasa). Di situ ada dua kalimat syahadat. Kedua kalimat tersebut adalah rukun. Di situ juga ada shalat dan zakat yang masing-masing sebagai rukun. Lalu bagaimana mungkin kubah Islam tetap berdiri jika salah satu dari tiang penopang kubah sudah tidak ada, walaupun rukun yang lain masih ada?!
3- Rukun atau tiang Islam tadi dimasukkan dalam nama Islam. Artinya, jika hilang sebagian rukun, maka hilanglah nama Islam. Lebih-lebih ini disebut rukun atau tiang penopang, bukan seperti bagian lainnya. Ada tiang yang jadi bukan jadi jadi tiang penopang, ada kayu dan baut bata, yang kesemuanya tidaklah seperti rukun yang dimaksud di sini.
Referensi ; Ash Shalah wa Hukmu Tarikiha, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, tahun 1426 H, hal. 39.

Wednesday, July 3, 2019

BUAT BERBEDA DENGAN MEREKA SOAL AKHLAK


Oleh Siswo Kusyudhanto
Untuk kesekian kalinya akun saya hangus, sedih sebenarnya, namun sisi lainnya ada rasa bersyukur, mungkin Allah Ta'ala jadikan ini saatnya untuk bersabar dan bijak menanggapi keadaan seburuk apapun. Mungkin ini pengorbanan kecil dalam dakwah, dan juga perjalanan hidup.
Jadi ingat beberapa tahun yang lalu ketika beberapa akun dan fans page para ustadz pemateri kajian Sunnah di hack dan hangus selama-lamanya sampai hari ini oleh orang-orang yang tidak suka Dakwah Salafiyah berkembang di Indonesia.
Pada saat itu beberapa teman yang giat dalam berdakwah di sosial media sempat marah dan membuka chat room membahas usulan seorang teman untuk membentuk team IT berbasis Dakwah Salafiyah guna mengcounter kelompok orang yang diduga sering menghancurkan akun-akun Dakwah Salafiyah di sosial media. Saat itu sudah ada beberapa teman dari berbagai kota yang sudah ngaji Sunnah dan ahli dalam bidang IT bersedia ikut membantu.
Namun ketika saya tanyakan kepada seorang ustadz tentang hal ini jawabannya justru diluar dugaan saya, beliau mengatakan " kalau akun kalian dirusak orang kemudian kalian balas dengan perbuatan yang sama, lalu apa bedanya kalian dengan mereka soal akhlak?. Kalau perbuatan jahat mereka kalian balas dengan perbuatan jahat yang sama artinya kalian dan mereka sama-sama jahatnya, benar?
Saran saya kalau akun kalian dirusak orang ya sabar, jangan membalasnya, bikin lagi akun yang baru, dan jangan lelah menasehati mereka dan terus doakan, insyaallah yang demikian lebih baik untuk kita dan mereka.
Bikin akhlak kita lebih baik dari mereka."
Nasehat itu kemudian saya sampaikan kepada teman-teman di chat room kami dan semua memahami, dan akhirnya team IT Dakwah Salafiyah tidak pernah terbentuk hingga saat ini.
Semoga Allah Azza wa Jalla selalu memberikan kesabaran kepada kami, aamiin.
Allah Azza wa Jalla berfirman ;
"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)

BOLEH USTADZ AQIQAH DENGAN AYAM ???




Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian seorang teman bertanya kepada ustadz mengenai hukum aqiqah dengan ayam senilai kambing, karena yang bersangkutan adalah pedagang ayam sehingga punya stock ayam banyak sekali dan akan makan waktu jika harus menjualnya dipasar dan hasil penjualan digunakan untuk membeli kambing, dengan harga ayam semisal 25 ribu per ekor sementara kambing harga 2,5 juta maka dengan 100 ekor ayam sama nilainya cukup dengan satu ekor kambing.
Ustadz tersenyum mendengar pertanyaan tersebut, dan beliau menjawab, syariatnya yang digunakan untuk aqiqah adalah kambing, maka mengikuti syariat insyaAllah lebih benar yaa, dan tidak merubah-rubah syariat Allah dan RasulNya adalah tanda orang yang beriman, karena orang beriman merasa cukup dengan syariat Allah dan RasulNya.
Dari kejadian ini membuktikan betapa liarnya pemikiran manusia untuk merubah-rubah syariat yang sudah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, dan mungkin disana ada peran setan untuk membisikkan kepada hati dan telinga manusia untuk membuat inovasi-inovasi dalam agama, waallahua'lam. 
Itu mungkin sebab kenapa kita diperintahkan Allah dan RasulNya berpegang teguh kepada risalah yang sudah disampaikan oleh keduanya, insyaAllah.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3]
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) menjelaskan, “Ini merupakan nikmat Allah Azza wa Jalla terbesar yang diberikan kepada umat ini, tatkala Allah menyempurnakan agama mereka. Sehingga, mereka tidak memerlukan agama lain dan tidak pula Nabi lain selain Nabi mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla menjadikan beliau sebagai penutup para Nabi dan mengutusnya kepada seluruh manusia dan jin. Sehingga, tidak ada yang halal kecuali yang beliau halalkan, tidak ada yang haram kecuali yang diharamkannya, dan tidak ada agama kecuali yang disyari’atkannya.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).
Sumber Referensi "Islam adalah Agama Sempurna", karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas di almanhaj.or

SIAPAKAH WALI ALLAH ???




Oleh Siswo Kusyudhanto.
Kemarin selepas shalat Maghrib kami biasa duduk membicarakan tentang kegiatan dakwah, pada saat itu datang seorang bersorban dan memotong pembicaraan kami, lalu dia berkata, "dalam pertemuan kami di Jakarta, seorang Wali Allah mengatakan perlunya kerja dakwah untuk menyatukan umat ...", Setelah selesai dia menyampaikan orasinya saya bertanya kepadanya, " sebentar mas sebelum berbicara lebih jauh, mohon dijelaskan siapa yang dimaksud dengan Wali Allah?, Apa ciri yang menunjukkan dia seorang Wali Allah?", Lalu dia menjawab, "Wali Allah adalah orang yang rela berkorban berjuang dijalan Allah dengan harta dan jiwanya", lalu saya bertanya lagi, "Apakah jika saya dan teman saya ini berjuang dijalan Allah dengan harta dan jiwa dapat masuk yang disebut dengan Wali Allah?", Mendengar pertanyaan saya dia jawab spontan, "Iya masuk Wali Allah juga", lalu saya bertanya, "Artinya boleh menyebut saya Wali Allah juga?", Mendengar pertanyaan terakhir dia terdiam dan tidak meneruskan bicaranya tentang Wali Allah dan dakwah, dan terlihat dia bingung sendiri dengan jawabannya, SubhanaAllah.
Jadi teringat kajian tentang hal ini oleh Syaikh Abdurrazaq, juga para ustadz kajian Sunnah tentang istilah Wali Allah.
Secara garis besar dari kajian-kajian itu istilah Wali Allah memiliki ciri-ciri yang disebut oleh Allah Ta'ala, dan yang mengetahui siapa Wali Allah atau tidak Wali Allah hanya Allah Ta'ala sendiri yang mengetahui Nya. 
Jadi bukan sesama manusia menyematkan istilah Wali Allah, karena istilah ini berkaitan dengan hal ghaib, yakni tentang amalan, ketakwaan dan keimanan seseorang, dan yang hal ghaib hanya diketahui oleh Allah Azza wa Jalla. Waalahua'lam.
Secara etimologi, kata wali adalah lawan dari ‘aduwwu (musuh) dan muwaalah adalah lawan dari muhaadah (permusuhan). 
Maka wali Allah adalah orang yang mendekat dan menolong (agama) Allah atau orang yang didekati dan ditolong Allah. Definisi ini semakna dengan pengertian wali dalam terminologi Al Qur’an, sebagaimana Allah berfirman,
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang beriman dan selalu bertaqwa.” (Yunus: 62 – 64)
Ibnu Katsir rohimahulloh menafsirkan: Allah Ta’ala menginformasikan bahwa para wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Siapa saja yang bertaqwa maka dia adalah wali Allah (Tafsir Ibnu Katsir, 2/384).
Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh juga menjelaskan dalam Syarah Riyadhus Shalihin no.96, bahwa wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Mereka merealisasikan keimanan di hati mereka terhadap semua yang wajib diimani, dan mereka merealisasikan amal sholih pada anggota badan mereka, dengan menjauhi semua hal-hal yang diharamkan seperti meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang harom. Mereka mengumpulkan pada diri mereka kebaikan batin dengan keimanan dan kebaikan lahir dengan ketaqwaan, merekalah wali Allah.
Sumber Referensi, "Wali Allah, Siapakah Dia?", Karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc. Di Muslim.or