Wednesday, October 3, 2018

Ini Surga apa Super Diskon?


Oleh Siswo Khusyudhanto
Akhir-akhir ini muncul fenomena mengobral surga, ada sebuah partai menyebutkan "pilihlah partai kami, jamin masuk surga", atau ada MLM yang saking semangatnya memotivasi membernya sampai bilang, "jadi member kami jamin surga", dan mungkin kelak saat masuk musim kampanye kata-kata untuk menawarkan surga lebih murah, bahkan mungkin ada diskon, subhanallah, kejahilan yang nyata. Mereka mengampang-gampangkan tiket masuk surga.
Padahal seperti kita ketahui dalam sebuah hadist bahwa Surga itu dicapai dengan bersusah payah, tidak mudah, super berat, dan kompetitif nya sangat dahsyat, sangat sedikit yang masuk kedalamnya, jelas bukan dengan lenggang kangkung, waalahua'lam.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ
“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”(HR. Muslim)
Mengenal kosa kata
Huffat: Berasal dari kata al-hafaf (الحَفَاف) yang berarti sesuatu yang meliputi sesuatu yang lain yang berarti surga dan neraka itu diliputi sesuatu. Seseorang tidak akan memasuki surga dan neraka kecuali setelah melewati hijab terebut. Dalam riwayat Bukhari kata huffat diganti dengan kata hujibat (حُجِبَت ) yang berarti tabir, hijab ataupun pembatas dan keduanya memiliki makna sama. Hal ini ditegaskan Ibnul Arabi sebagaimana dinukil Ibnu Hajar dalam Fathul Baari.
Al-Jannah: Kampung kenikmatan.
Al-Makarih: Perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) berupa ketaatan dan ketundukan terhadap aturan-aturan Allah Ta’ala.
An-Nar: Kampung siksaan dan adzab.
Asy-Syahawat: Nafsu yang condong kepada kejelekan-kejelekan.
Referensi dari,"Surga diliputi perkara yang dibenci jiwa, Neraka diliputi perkara yang disukai syahwat", karya Ummu Farikhah, di muslimah.or id

PADAHAL HAMPIR TIDAK ADA WAHABI YANG PAKAI SORBAN




Oleh Siswo Khusyudhanto
Kalau lihat foto ini jadi tersenyum, menertawakan kebodohan orang yang bikin gambar, karena tagnya Wahabi, tapi gambarnya lelaki bersorban, padahal dari pengalaman mengikuti puluhan kajian ilmu baik dari para ustadz yang kebanyakan lulusan Jazirah Arab, juga dengan para Syaikh dari berbagai negara mulai Palestina, Arab Saudi, Syria dan banyak dari negara lainnya, tak satupun Syaikh yang dijuluki Wahabi memakai sorban.
Setau saya yang pakai sorban adalah dari kalangan jamaah tabligh, FPI, kelompok thariqah dan cabang kelompok sufi, dan mereka hampir tidak pernah dijuluki orang dengan Wahabi.
Juga dari isi gambar dimana ada orang membentak orang lain dengan mengakatai syirik, Bid'ah, kafir sejujurnya mungkin didunia nyata tidak pernah terjadi, karena untuk memvonis orang lain bukan hak manusia, itu hak mutlak Allah Ta'ala. Yang disampaikan tentang bagaimana kafir, syirik dan bid'ah setau saya hanya dalam ruang lingkup kajian ilmu, dan itu juga didasarkan kepada hujjah dari Al-Qur'an dan Hadist, bukan menurutkan syahwat semata.
Jika didunia nyata ada orang membentak orang lain dengan syirik, kafir dan Bid'ah, mungkin itu orang yang tidak berilmu alias jahil.
Kesimpulannya gambar ini sarat akan fitnah yang diawali dari prasangka tampa mencari kebenaran atas hal tersebut.
Jadi teringat perkataan Ustadz Husein Yee, kata beliau, biasanya orang-orang yang berkata buruk tentang Wahabi sama sekali tidak pernah mempelajari kitab-kitab karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, sebagaimana juga kebanyakan orang yang mengaku pengikut Imam Syafi'i namun kitabnya tidak pernah mereka pelajari, semua hanya modal prasangka Tampa didukung dengan kaidah ilmiah.
Waalahua'lam.
Bagi teman-teman yang masih suka berkata buruk tentang Wahabi, sebaiknya renungkan ayat berikut ini.
Allah berfirman,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].
Semoga bermanfaat

PERNAHKAH KITA MENDOAKAN PELAKU MAKSIAT ?


Oleh Siswo Khusyudhanto
Pada beberapa hari yang lalu, masih pagi sekali ketika saya melintas sebuah hotel bintang dua, ada seorang wanita membawa pakaiannya tampa alas kaki dan pakaiannya tidak penuh menutupi tubuhnya, serta rambut yang berantakan nampak keluar dari sebuah mobil besar yang disetir oleh om-om yang sudah memutih rambutnya, melihat itu tak terasa air mata menetes, membayangkan jika wanita itu adalah adik saya, kakak saya, anak saya atau bahkan ibu saya, betapa sedihnya hati kerabat yang mengetahui orang yang dekat mencari rizki dengan cara seperti itu, dengan cara zina, subhanaAllah. Semoga wanita itu diketuk hatinya dengan hidayah dari Allah Azza Wajalla, aamiin.
Jadi ingat kajian Ustadz Maududi Abdullah, " coba tanyakan pada diri anda, pernahkan anda mendoakan para pelaku maksiat? atau doa itu terlalu mahal untuk mereka para pelaku maksiat karena kita membencinya?, doakan agar mereka mendapat hidayah dari Allah Azza Wajalla, dan dengan hidayah itu mereka meninggalkan perbuatan maksiatnya kemudian berusaha istiqomah dijalan yang dirihoi oleh Allah Azza Wajalla. Ketika anda mendapat hidayah dan telah berusaha istiqomah dalam amal ibadah harusnya anda mencintai hidayah itu dengan cara berkasih sayang kepada sesama muslim, dan bentuk kasih sayang kita kepada mereka yang masih jauh dari hidayah yakni dengan cara mendoakannya. Jangan terlalu mahal dalam doa anda, doakan sesering mungkin para pelaku maksiat, karena kita sayang mereka."
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ.
‘Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya adalah do’a yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’”
‘Abdullah berkata: “Lalu aku pergi ke pasar dan bertemu dengan Abud Darda’ Radhiyallahu anhu, lalu beliau mengucapkan kata-kata seperti itu yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
*Walaupun orang yang dido’akannya berada di hadapan orang yang mendo’akannya, seperti berdo’a dengan hatinya atau dengan lisan tetapi tidak terdengar oleh orang yang dido’akan. (‘Aunul Ma’buud IV/275-276)
*Shahiih Muslim kitab adz-Dzikr wad Du’aa’ wat Taubah wal Istighfaar bab Fadhlud Du’aa’ lil Muslimiin bi Zhahril Ghaib (IV/ 2094 no. 2733 (88)).
Sumber Referensi almanhaj.or.id

Monday, October 1, 2018

MALULAH KEPADA ALLAH TA'ALA

" Banyak manusia mungkin termasuk kita ketika bersama manusia berusaha menjaga diri dari perbuatan maksiat, namun ketika hanya bedua dengan Allah Ta'ala justru berbuat maksiat sesuka kita, jika ini terjadi tampa sadar kita telah menempatkan kedudukan Allah Ta'ala dibawah derajat makhluk. Karena kita lebih malu berbuat maksiat didepan manusia, namun kita tidak malu berbuat maksiat dihadapan Allah Ta'ala".
Dikutip dr Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah.

ISLAM DIMASA DEPAN DITENTUKAN HARI INI



Oleh Siswo Khusyudhanto
Saya paling semangat kalau diajak teman atau Ustadz untuk bikin halaqah Al-Qur'an bagi anak-anak, atau kegiatan dakwah yang berkaitan dengan anak-anak, karena ditengah arus paham hedonisme di negri kita, dimana orang dipacu untuk berlomba dalam menurutkan syahwat akan dunia, meraih harta dan jadi orang terkenal tampa memperhatikan caranya mau zalim atau tidak ada sebagian orang sangat perhatian kepada mengembangkan agama.
Seperti kita ketahui kita suatu hari akan mati, meninggalkan dunia ini, dan anak-anak adalah calon pengganti kita di masa depan, estafet agama ini akan diteruskan oleh mereka, ketika anak-anak dijaman ini jauh dari agama, jika hari ini agama anak-anak dijaman ini rusak makin rusaklah agama ini dimasa depan, dan sebaliknya jika agama anak-anak itu bagus maka makin baguslah agama ini dimasa depan.
Seperti dituturkan oleh Ustadz Syafiq Reza Basalamah, " kerusakan generasi sekarang adalah akibat kesalahan pendidikan dimasa lalu, dan rusak tidaknya agama dimasa depan adalah ditentukan pendidikan agama pada jaman sekarang ini."
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَا غُلَامُ ! إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ : اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَـعِنْ بِاللهِ. وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِاجْتَمَعَتْ عَلىَ أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ ؛ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَ إِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ ؛ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ». رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيِحٌ. وَفِي رِوَايَةٍ غَيْرِ التِّرْمِذِيِّ : «اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّ ةِ. وَاعْلَمْ أَنَّ مَاأَخْطَأَكَ ؛ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ ، وَمَا أَصَابَكَ ؛ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Wahai anak, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa patah kata. Jagalah (agama) Allâh, niscaya Allâh akan menjagamu. Jagalah (ketentuan) Allâh, niscaya akan engkau dapati Allâh ada di hadapanmu. Jika engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan hanya kepada Allâh, dan jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Ketahuilah!. Andaikata seluruh umat berhimpun untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagimu, maka mereka tidak akan mampu memberikan manfaat apapun, kecuali sesuatu yang telah Allâh tetapkan untukmu. Dan jika mereka berhimpun untuk menimpakan suatu malapetaka padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya sedikit pun kecuali menurut sesuatu yang telah Allâh tetapkan bagimu. Pena-pena takdir telah diangkat dan lembaran-lembaran catatan takdir telah kering”. [HR. At-Tirmidzi. Hadits hasan. Lihat Shahîh Sunan at-Tirmidzi no.2516]
Sumber Referensi, "Rumah dan pentingnya pendidikan umat", karya Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, MA. Di almanhaj.or.id
Foto Kegiatan Halaqah Anak Desa Karya Indah dan Santri Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Fakir Miskin, Al Markiz, Lipat Kain, Kampar, Riau.

KALAU BERDAKWAH BENAR DENGAN MUSIK PASTI NABI DAN PARA SAHABAT BIKIN GROUP BAND DULUAN


Oleh Siswo Kusyudhanto
Kadang dikirimi teman video shalawat dengan musik lagu tertentu seperti jenis musik rap atau dangdut, atau ada juga video ada orang2 bersorban menyanyikan peringatan pentingnya akhirat dan bahaya menurutkan keinginan akan dunia, semua itu malah bikin prihatin. Meskipun liriknya sarat nasehat dan shalawat dan juga yang menyanyikan adalah orang berpakaian gamis ataupun bersorban tidaklah menjadikan hal ini menjadi benar, karena kalau kita kembalikan urusan ini kepada Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam dan para sahabat beliau, tidak sekalipun disebutkan dalam hadist manapun mereka berdakwah dan mengingatkan umat manusia dengan cara demikian, dengan cara bermusik. Bahkan dalam sebuah hadist sahhhih Nabi Muhmammad Shalallahu alaihi wa Sallam mengingatkan bahaya musik ini, bahkan tingkatnya sampai haram setara dengan zina, sutera dan khomer, hal ini menunjukkan musik sewajibnya dihindari sebagaimana kita menghindari zina, sutera dan khomer/narkoba.
Banyak orang menghalalkan musik dalam bershalawat dan dakwah mengira karena di jaman Nabi dan para sahabat tidak ada alat musik, ini jelas anggapan keliru, silahkan pelajari sejarah musik, maka kita akan temui musik sudah berkembang luas jauh sebelum Islam datang, alat musik sudah digunakan oleh kaum Romawi dan kemudian dipopulerkan dikalangan Nasrani di gereja-gereja mereka, seperti kita ketahui Nasrani datang sekitar 600 tahun sebelum Islam datang, masih menganggap alat musik tidak ada dijaman Nabi dan para sahabatnya?.
Bahkan empat mahzab besar dalam Islam mengharamkan musik secara total, bahkan IMam Syafi'i menyamakan keharaman alat musik setara daging babi. lihat Kitab Al Umm karya beliau, bab wasiat.
Maka bentuk kehati-hatian kita sebaiknya tinggalkan musik, dan berdakwah dengan cara yang telah disunnahkan insyaAllah lebih baik, yakni meneggakkan Tauhid dan amal sholeh, waallahua'lam.
Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Ghanm al-Asy’ari, dia berkata, “Abu ‘Amir atau Abu Malik al-Asy’ari Radhiyallahu anhu telah menceritakan kepadaku, demi Allâh, dia tidak berdusta kepadaku, dia telah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَـيَـكُوْنَـنَّ مِنْ أُمَّـتِـيْ أَقْوَامٌ يَـسْتَحِلُّوْنَ الْـحِرَ ، وَالْـحَرِيْرَ ، وَالْـخَمْرَ ، وَالْـمَعَازِفَ. وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَـى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوْحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَـهُمْ ، يَأْتِيْهِمْ –يَعْنِيْ الْفَقِيْرَ- لِـحَاجَةٍ فَيَـقُوْلُوْنَ : ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا ، فَـيُـبَـيِـّـتُـهُـمُ اللهُ وَيَـضَعُ الْعَلَمَ وَيَـمْسَـخُ آخَرِيْنَ قِرَدَةً وَخَنَازِيْرَ إِلَـى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
‘Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan ummatku sekelompok orang yang menghalalkan kemaluan (zina), sutera, khamr (minuman keras), dan alat-alat musik. Dan beberapa kelompok orang sungguh akan singgah di lereng sebuah gunung dengan binatang ternak mereka, lalu seseorang mendatangi mereka -yaitu orang fakir- untuk suatu keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami besok hari.’ Kemudian Allâh mendatangkan siksaan kepada mereka dan menimpakan gunung kepada mereka serta Allâh mengubah sebagian dari mereka menjadi kera dan babi sampai hari Kiamat.’
TAKHRIJ HADITS:
Hadits ini diriwayatkan oleh:
1. al-Bukhâri secara mu’allaq[1] dengan lafazh jazm (pasti) dalam Shahîh-nya (no. 5590). Lihat Fat-hul Bâri (X/51),
2. Ibnu Hibbân (no. 6719-at-Ta’lîqâtul Hisân),
3. al-Baihaqi dalam Sunan-nya (X/221),
4. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 4039).
Sumber Referensi, " Haramnya Musik", karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas di almanhaj.or.id

KESESATAN ITU BERCABANG-CABANG, WASPADALAH !


Oleh Siswo Khusyudhanto
Diceritakan seorang teman dari daerah Sragen Jawa Tengah, didaerahnya ada namanya Gunung Kemukus, di sini biasanya ramai didatangi orang yang ingin ngalap berkah atau pesugihan, ingin kaya mendadak dengan cara ghaib.
Menurut penuturan warga disana awalnya peziarah cuma melakukan ziarah kubur seperti kebanyakan makam yang dianggap makam orang suci lainnya di pulau Jawa, namun entah dari mana datangnya kemudian selain melakukan amalan ngalap berkah kemudian ada kebiasaan berhubungan sex bebas sebagai syarat terkabulnya permintaan/hajat mereka untuk mendapatkan kekayaan secara instan.
Seorang ustadz dalam sebuah kajian menyebutkan, kesesatan itu bercabang cabang, mungkin diawali dengan hal yang seakan tidak berbahaya, namun selanjutnya melangkah jauh menjadi lebih sesat dari semula.
Demikian juga yang mungkin terjadi di daerah Gunung Kemukus Sragen ini, awalnya diawali sedikit kesesatan yakni keinginan menurutkan syahwat akan dunia, kemudian setan membisiki agar melakukan usaha dengan ngalap berkah kesebuah makam orang yang dianggap suci, lalu kemudian ketika hal itu sudah dilakukan setan membisikkan lagi dihati mereka untuk melakukan kesesatan lainnya yakni berzina, subhanallah. Jadi apa yang dilakukannya oleh orang-orang yang melakukan ritual dosanya dobel-dobel, sudah syirik sekaligus zina, subhanallah.
Padahal dengan nyata Allah Ta'ala dan RasulNya memperingatkan bahaya cinta dunia yang berlebihan, Allah dan RasulNya juga jelas memperingatkan bahaya Syirik juga zina.
Sungguh benar Setan adalah musuh nyata bagi manusia, maka berhati-hatilah terhadap tipu daya setan, dengan cara belajar ilmu agama dan mengamalkan, maka kita akan dapat menjalankan perintah Allah dan RasulNya, dan menjauhi segala larangan yang diperingatkan oleh Allah Ta'ala dan RasulNya.
Sumpah Iblis dan bala tentaranya untuk menyesatkan manusia tertuang dalam ayat berikut ini,
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ﴿١٦﴾ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. [Al-A’râf/7:16-17]