Sunday, May 7, 2017

Ustadz Khalid : Wahabi itu apa?


Dalam sebuah kajian seorang jamaah bertanya, "bagaimana sikap Ustadz jika dipanggil Ustadz Wahabi?". Ustadz Khalid Basalamah menjawab, " sebenarnya saya juga tidak mengerti kenapa dipanggil Wahabi, saya aja gak ngerti Wahabi itu apa, atau karena saya juga termasuk alumni Madinah sehingga dipanggil demikian, namun teman-teman perlu ketahui, saya di masjid ini bersumpah demi Allah Azza Wa Jalla, selama saya belajar di Madinah baik dikelas perkuliahan atau juga di halaqah-halaqah para Syaikh yang saya ikuti tidak sekalipun membahas tentang madhzab selain empat madhzab yang ada, selama disana jika membahas hukum fiqih tidak keluar dari empat madzhab, kadang membahas pendapat madzhab Syafi'i atau pendapat Imam Ahmad, dan seterusnya, itupun didasari dengan dalil Sahhih dari Alquran dan hadist Sahhih, dan tidak sekalipun ada dosen atau Syaikh yang mengisi kajian mengajak mengikuti madzhab Wahabi, ini jujur saya ceritakan apa adanya, yang belajar disana. Makanya saya kadang kalau mengantar jamaah haji atau umroh mengajak mereka menghadiri halaqah diseputaran kota Makkah dan Madinah, agar jamaah mengetahui bahwa para ulama dan da'i disana mendakwahkan ilmu syar'i yang bersumber dari Alquran dan hadist Sahihah, bukan mengajak orang untuk mengikuti madhzab Wahabi.
Tapi biarlah jika saya dituduh Wahabi, semoga jadi pahala bagi saya, dan sepatutnya kita doakan mereka yang suka menuduh Wahabi dan berkata buruk tentang saya diberi hidayah oleh Allah Azza Wa Jalla, aamiin."

Jangan bicara jihad sebelum kepada orang tua berlaku baik.


Dalam sebuah kajian Ustadz Subhan Bawazier mengatakan," banyak dikalangan anak muda muslim sering membicara jihad dan meneriakkan jihad-jihad sementara kepada orang tua mereka bersikap buruk, masih suka berkata kasar, sering bikin sakit hati orang tua, menolak segala nasehatnya dan seterusnya, ini adalah pemahaman yang keliru. Karena didalam syariat agama kita amalan berbakti kepada orang tua kedudukannya diatas jihad, bersikap baik dan memperlakukan baik orang tua adalah lebih utama dan mulia dari jihad fisabilillah, berjihad dijalan Allah. Maka jangan suka meneriakkan jihad sebelum antum bersikap baik kepada orang tua."
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Ada seorang laki-laki yang meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berjihad, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya.
أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ قَالَ: نَعَمْ.
“Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ Dia menjawab, ‘Ya, masih.”
Beliau pun bersabda
فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ.
“Maka pada keduanya, hendaklah engkau berjihad (berbakti).’” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Di dalam kitab Subulus Salaam (III/78), ash-Shan’ani mengatakan, “Lahiriahnya sama, apakah itu jihad fardhu ‘ain maupun fardhu kifayah, dan baik merasa keberatan pada kedua orang tuanya atau tidak. Jumhur ulama berpendapat bahwasanya diharamkan berjihad bagi seorang anak jika dilarang oleh kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya dengan syarat keduanya harus muslim, karena berbakti kepada keduanya adalah fardhu ‘ain sementara jihad tersebut adalah fardhu kifayah, tetapi dalam jihad yang hukumnya fardhu ‘ain, maka lebih didahulukan jihad.
Jika ada yang mengatakan, ‘Berbakti kepada kedua orang tua adalah fardhu ‘ain juga sementara jihad pada saat diwajibkan, maka ia menjadi fardhu ‘ain. Dengan demikian, keduanya berkedudukan sama, lalu di mana letak pendahuluan jihad?’
Dapat saya katakan, ‘Karena kemaslahatannya lebih umum, di mana jihad dimaksudkan untuk menjaga agama sekaligus membela kaum muslimin, sehingga kemaslahatannya bersifat umum, maka yang didahulukan atas yang lainnya dan ia lebih didahulukan atas kemaslahatan penjagaan fisik. Di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan keagungan berbakti kepada kedua orang tua, dimana ia lebih utama daripada jihad (yang hukumnya fardhu kifayah)”.
Sumber referensi artikel, "Kedudukan berbakti kepada orang tua diatas jihad" oleh Ummu Salamah As Salafiyah di web almanhaj.or.id.co

Monday, May 1, 2017

Niscaya mereka akan heran


Gak kebayang kalau Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam beserta para sahabat beliau hidup dijaman ini, dan menyaksikan umat muslim mungkin mereka akan sangat heran, sedih, prihatin. Mungkin mereka heran lihat ada orang ngamalkan tahlil kematian, dan juga mungkin mereka bertanya, " apakah itu yang dinamakan sedekah untuk si mayat?", maklum mereka tidak pernah melakukan nya meskipun dijaman mereka ada ribuan orang mati karena perang dan sakit.
Ketika mereka melihat ada sekelompok muslim berdemo dijalanan meneriakkan khilafah dan daulah sambil membawa panji-panji Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, pasti mereka juga akan heran, "apakah seperti itu menegakkan khilafah?", maklum dijaman nya mereka tidak pernah melakukan nya, menegakkan khilafah dan daulah bagi mereka bukan seperti itu.
Jika saja mereka melihat ada sekelompok muslim meninggalkan keluarga dan pekerjaannya sambil menenteng kompor, baju dan segala kebutuhannya, pasti mereka juga heran, maklum mereka tidak pernah berdakwah dengan cara demikian, karena dakwah mereka disemua lini kehidupan, dimulai dari keluarga.
Jika para sahabat/khulafaur rashidin melihat sekelompok muslim merayakan maulid nabi mungkin mereka heran, maklum mereka adalah orang2 yang paling mencintai Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, namun mereka tidak pernah merayakan acara seperti maulid nabi, tanggal berapa nabi dilahirkanpun tidak ada yang mengetahui secara pasti, karena bagi mereka mencintai Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam yakni dengan mengikuti semua Sunnah nya.
Maka makin banyak hal aneh jika perbuatan yang diamalkan umat muslim dijaman ini dikembalikan lagi kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam dan para sahabat nya, maka sebaik-baik jalan tetap mengikuti jalan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam dan para sahabatnya, Waallahua'lam.
Allah Azza Wajalla berfirman :
“Artinya : Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” [Al-An’aam: 153]
Ayat ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa jalan itu hanya satu, sedangkan jalan selainnya adalah jalan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan jalannya ahlul bid’ah.
Hal ini sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh Imam Mujahid ketika menafsirkan ayat ini. Jalan yang satu ini adalah jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Jalan ini adalah ash-Shirath al-Mustaqiim yang wajib atas setiap muslim menempuhnya dan jalan inilah yang akan mengantarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa jalan yang mengantarkan seseorang kepada Allah hanya SATU… Tidak ada seorang pun yang dapat sampai kepada Allah, kecuali melalui jalan yang satu ini.
Referensi dr artiek "kewajiban iitiba kepada Nabi dan para sahabat nya", karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas di almanhaj.or.id

Jangan pelit untuk mendoakan muslim lain.


Diceritakan Ustadz Armen Halim Naro Lc Rahimahullah dalam kajian beliau, " suatu saat saya selesai melakukan thawaf di Masjidil Haram, dan saya melihat seseorang lelaki berdoa menengadahkan tangan keatas sambil menangis tersedu-sedu, air matanya membasahi jenggot dan bajunya. Karena penasaran saya melihat lelaki itu berdoa, dan ingin tau apa yang didoakan maka saya mendekatinya sedekat mungkin. Dan betapa terkejutnya saya mendengarkan bisikan doanya, ternyata dia mendoakan umat muslim secara keseluruhan, dia mendoakan muslim di Palestina, mendoakan muslim di Irak, mendoakan muslim di berbagai negara yang sedang dalam keadaan tertindas, MasyaAllah, seharusnya seperti inilah sikap seorang muslim kepada muslim lainnya, yakni tidak pelit mendoakan nya, semoga ini jadi teladan kita semua, aamiin. "
Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nuh -alaihishshalatu wassalam- bahwa beliau berdoa:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Wahai Rabbku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke dalam rumahku dalam keadaan beriman, dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan.” (QS. Nuh: 28)
Dan juga tentang Nabi Muhammad -alaihishshalatu wassalam- dimana beliau diperintahkan dengan ayat:
وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19)
Dari Abu Ad-Darda’  dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912)
Referensi dr artikel "Keutamaan mendoakan muslim lainnya" oleh Ustadz Abu Muawiah, di web asyariah.co

Siapakah pemeluk Islam pertama?


Kalau melihat beberapa orang berdakwah menurut caranya yang dianggap benar, padahal kalau cara itu jika dikembalikan lagi kepada amalan dakwah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam jelas menyelisihi Sunnahnya, semisal ada orang berdakwah jauh dari rumah, sampai berbulan-bulan meninggalkan pekerjaan dan keluarga, ini jelas tidak sesuai Sunnah, karena Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam berdakwah dimulai dari keluarga dan orang2 terdekat, bukan yang jauh dari rumah, bahkan pembaca ayat Alquran pertama adalah istri Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam, yakni Khadijah Radhliyaa Anhaa, waallahua'lam.
ORANG-ORANG YANG PERTAMA KALI MENERIMA ISLAM
1. Khadijah Radhiyallahu anha binti Khuwailid.
Hadits yang berkaitan dengan permulaan wahyu menunjukkan bahwa, Khadijah Radhiyallahu anha adalah orang yang pertama kali mendengar kabar kenabian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan turunnya wahyu. Dalam hadits itu juga dijelaskan, Khadijah Radhiyallahu anha percaya terhadap apa yang didengarnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mendukungnya, dan berusaha meringankan beban yang dirasakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Siapapun yang memahami permasalahan ini, tentu tidak merasa heran jika Khadijah Radhiyallahu anha menjadi orang pertama yang beriman kepada risalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Ishaq dan al Waqidi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mendengar sesuatu yang menyakitkan dari Khadijah; tidak pernah membantah dan juga tidak pernah mendustakan. Kegelisahan dan penderitaan yang dirasakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , telah dihapus oleh Allah Azza wa Jalla, atau berkurang dengan perantaraan Khadijah Radhiyallahu anha . Sungguh, beliau Radhiyallahu anha seorang isteri yang sangat berjasa. Wajarlah jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintainya. Sampai-sampai diceritakan bahwa, Aisyah Radhiyallahu anhuma tidak pernah merasa cemburu kecuali kepada Khadijah Radhiyallahu anha, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering menyebutnya, meskipun beliau Radhiyallahu anha sudah wafat.
2. Ali bin Abu Thalib bin Abdul Muthallib al Quraisy al Hasyimiy.
Tidak berapa lama kemudian, Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu anhu memeluk Islam. Beliau Radhiyallahu anhu berada dalam asuhan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagai wujud kepedulian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pamannya yang memiliki banyak anggota keluarga, sementara tidak memiliki harta yang cukup untuk menanggung beban hidup.
Tentang usia Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu anhu saat memeluk Islam, para ulama berbeda pendapat. Imam ath Thabari, Ibnu Ishaq, menguatkan pendapat yang mengatakan, usianya saat itu dua puluh tahun.[4] Sedangkan Imam Ibnu Hajar, menguatkan pendapat yang menyatakan sepuluh tahun. Yang jelas, Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu anhu termasuk generasi pertama yang memeluk Islam. Kemudian dijadikan menantu oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , menikahkannya dengan Fatimah anak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu anhu juga memiliki banyak keutamaan, kedudukan dan keistimewaan di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dijelaskan dalam banyak hadits, di antaranya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abu Thalib :
أَنْتَ مِنِّي وَأَنَا مِنْكَ
Engkau adalah bagian dariku, dan aku bagian darimu.
Umar bin Khaththab juga pernah mengatakan :
تُوُفِّيَ رَسُولُ الهِa صَلَّى الهُl عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَنْهُ رَاضٍ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan ridha terhadap Ali Radhiyallahu anhu . [Lihat Shahih Bukhari].
3. Abu Bakr ash Shiddiq.
Dia bernama ‘Abdullah bin Utsman. Terkenal dengan nama Abu Qahafah at Taimiy, berasal dari Bani Taim bin Murrah. Dialah laki-laki dewasa merdeka yang pertama kali masuk Islam, sekaligus sebagai pendukung pertama Rasulullah. Membantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan harta dan jiwanya. Dia tegar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mempercayai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat orang lain mengingkari atau meragukannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan :
إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ فَقُلْتُمْ كَذَبْتَ وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ صَدَقَ وَوَاسَانِي بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ
Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mengutusku kepada kalian, lalu kalian mengatakan : “Engkau dusta,” sedangkan Abu Bakr mengatakan : “Dia benar,” lalu dia membantuku dengan harta dan jiwanya. [HR Bukhari].
Dia jualah yang memberikan pembenaran terhadap peristiwa Isra` dan Mi`raj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat orang-orang kafir Quraisy berusaha membuatnya ragu, namun ia sama sekali tidak bergeming. Sehingga tidak mengherankan, kalau kemudian ia mendapatkan gelar ash Shiddiq.
4. Zaid bin Haritsah.
Dia merupakan orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan budak yang sudah merdeka. Berasal dari suku al Kalb. Dia menjadi tawanan pada masa jahiliyah. Lalu Hakim bin Hazam membelinya untuk Khadijah. Dan saat Rasulullah menikah dengan Khadijah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memintanya.
Pada saat bapak dan bibinya datang ke Mekkah, mereka mengetahui keberadaan Zaid bin Haritsah. Lalu ingin menebusnya, tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pilihan kepada Zaid. Ikut bapak dan bibinya, atau tetap bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ternyata, Zaid lebih memilih tetap bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .[5] Oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Zaid bin Haritsah disebutnya sebagai “saudara”, sebagaimana dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَنْتَ أَخُوْنَا وَ مَوْلاَنَا
Engkau adalah saudara dan pembantu kami.
5. Bilal bin Rabbah.
Dialah dari kalangan budak yang pertama kali masuk Islam. Dia budak dari seorang tuan yang zhalim, yaitu Umayyah bin Khalaf. Saat tuannya mengetahui Bilal telah memeluk Islam, maka ia menyiksanya dengan siksaan yang berat, dengan harapan Bilal mau kembali meyakini yang telah menjadi keyakinannya semula. Namun Bilal, tetap teguh dengan keimanannya, meskipun mendapatkan siksaan yang berat. Sampai akhirnya, dia dibeli oleh Abu Bakr, lalu dibebaskannya.
Kemuliannya nampak, karena dia termasuk di antara para sahabat yang dijamin masuk surga.\ Disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
… فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ …
… Sesungguhnya aku mendengar suara gerakan dua sandalmu di hadapanku di surga. [HR Bukhari].
Demikian beberapa sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pertama kali memeluk Islam. Namun siapakah di antara para sahabat tersebut yang paling dahulu memeluk Islam?
Dalam masalah ini, para ulama berselisih pendapat. Di antaranya ada yang berpendapat Khadijah yang paling pertama. Yang lain mengatakan Ali Radhiyalllahu anhu . Yang lain lagi mengatakan Abu Bakr Radhiyallahu anhu. Dan ada juga yang mengatakan Zaid bin Haritsah Radhiyallahu anhu. Terlepas dari perbedaan pendapat ini, yang jelas mereka merupakan orang-orang yang paling pertama menyambut dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Syaikh al Albani mengatakan : “Lelaki dewasa dan merdeka yang pertama kali beriman adalah Abu Bakar. Dari kalangan anak-anak adalah Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu anhu. Dari kalangan wanita ialah Khadijah, isteri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dan dari kalangan budak adalah Zaid bin Haritsah al Kalbiy. Semoga Allah meridhai mereka, serta membuat mereka menjadi ridha”. [6]
Wallahu a’lam bish-shawab.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07//Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton]
Referensi dr almanhaj. Or.id.co

Kalau menyampaikan perkataan Nabi dibilang tidak berakhlak, lalu akhlak mereka bagaimana?


Saya selalu heran, setiap posting yang memuat hadist larangan berbuat bid'ah dan larangan syirik selalu dibilang, "ente tidak berakhlak", sekarang pertanyaannya bagaimana akhlak mereka yang melanggar larangan berbuat bid'ah dan syirik?, padahal larangan itu datang dari Allah dan RasulNya. Dan menjadi keharusan setiap muslim untuk berakhlak sebaik mungkin kepada Allah dan RasulNya, yakni dengan bersikap samina wato'na, dengar dan taati, mendengar perintah dan larangan dari Allah dan RasulNya, kemudian mengamalkan nya.
Jadi ingat kajian Ustadz Maududi Abdullah, beliau mengatakan, " seorang mukmin punya kewajiban berjalan dibelakang dalil Sahhih, mengikuti kearah manapun arah ayat Alquran dan hadist Sahhih, jika ayat dan hadist itu mengarah kekanan maka dia akan ikut kekanan dan sebaliknya. Apa yang ada didalam Alquran dan As sunnah dia kerjakan apapun resikonya, karena seorang mukmin yakin bahwa apapun larangan atau perintah Allah dan RasulNya pasti baik bagi dirinya, waallahua'lam"
firman Allah Ta’ala: (artinya) :
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 177).

Konsekuensi dari pentingnya adab kita kepada Allah (yaitu berupa ketaatan kepada-Nya) adalah kita juga mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana firman Allah dalam ayat-Nya yang mulia (artinya): “Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka” (QS. An Nisa: 80). Oleh karena itu, mentaati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga merupakan bentuk ketaatan kita kepada Allah Ta’ala. Sedangkan jika seseorang berpaling, maka tidak ada satupun yang dirugikan kecuali dirinya sendiri. Dan ketaatan kepada Rasul juga termasuk salah satu adab kita sebagai umatnya kepada Rasulullah, sebagaimana banyak disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya (artinya): “Taatilah Allah, dan taatilah Rasul” (QS. An Nisa: 59).
Referensi dr bulletin muslim.or.id.co.

Menghadiri reuni sekolah?


Kalau membahas tentang reuni sekolah jadi ingat cerita seorang teman tentang temannya, seorang ikhwan yang menceritakan perihal perbuatan selingkuh istrinya, awalnya istrinya pada suatu ketika menghadiri reuni sekolahnya, kemudian disana banyak acara kemungkaran yang diadakan diantaranya ada acara musik, menari dan keadaan reuni itu bercampur antara lelaki dan perempuan, pada suatu kesempatan si istri bertemu mantan pacarnya awalnya cuma ngobrol biasa, sebagaimana teman lama yang sudah lama tidak bertemu, kemudian mereka bertukar nomer telpon dan akun sosmednya. Beberapa hari berlalu, komunikasi diantara keduanya berlangsung intens, awalnya mereka cuma ngobrol hal2 biasa, namun lama kelamaan mereka saling curhat tentang pasangannya masing2, mereka saling mengungkapkan kejelekan dan ketidak puasan atas pasangannya, dan makin lama hubungan mereka makin dekat sampai akhirnya bertemu darat, dan pertemuan darat itu makin lama makin sering dan sampai pada satu titik dimana mereka selingkuh, subhanaallah.
----------------
HUKUM MENGHADIRI ACARA KEMUNGKARAN
Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc.
Kadang kita diundang dalam suatu acara baik walimahan atau acara lainnya yang asalnya boleh dihadiri. Namun sayangnya, dalam acara tersebut beberapa saudara kita menambahkan acara-acara maksiat seperti musik. Apakah boleh menghadiri acara semacam itu?
Yang namanya kemungkaran adalah sesuatu yang diingkari baik secara syari’at maupun ‘urf (adat kebiasaan). Namun yang jadi patokan adalah yang diingkari oleh syari’at. Seandainya sesuatu tersebut dilarang syari’at namun dibenarkan oleh adat masyarakat, karena sebagian adat ada yang membenarkan kemungkaran, maka tetap hal tersebut dihukumi mungkar menurut syari’at Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
“Kebaikan adalah akhlak yang baik. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang meragukan dalam hatimu dan engkau tidak suka jika dilihat oleh manusia.” (HR. Muslim no. 2553). Jadi manusia ada yang secara naluri mengingkari kemungkaran, inilah yang masih memiliki hati yang selamat.
Acara kemungkaran seperti ini tidak boleh dihadiri. Sedangkan jika ia mampu merubah kemungkaran dengan ilmu yang ia miliki dan sekaligus ia memiliki kuasa, maka menghadiri acara tersebut bisa jadi wajib. Karena ia mampu merubah kemungkaran dengan kuasanya sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ
“Siapa saja yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia ubah dengan tangannya” (HR. Muslim no. 49).
Namun jika ia tidak mampun merubah kemungkaran, maka menghadiri undangan acara semacam itu haram. Karena Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS. Al Maidah: 2).
وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آَيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ
“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.” (QS. An Nisa’: 140). Karena jika seseorang duduk bersama-sama dalam acara maksiat, maka ia akan semisal dengan mereka dan akan mendapatkan hukuman serta dihukumi bermaksiat.
Penjelasan di atas kami sarikan dari penjabaran Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin mengenai syarat memenuhi undangan walimah dalam Syarhul Mumthi’, 12: 327-329.
Ibnu Taimiyah mengatakan,
وَلَا يَجُوزُ لِأَحَدِ أَنْ يَحْضُرَ مَجَالِسَ الْمُنْكَرِ بِاخْتِيَارِهِ لِغَيْرِ ضَرُورَةٍ كَمَا فِي الْحَدِيثِ أَنَّهُ قَالَ : { مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاَللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَجْلِسْ عَلَى مَائِدَةٍ يُشْرَبُ عَلَيْهَا الْخَمْرُ }
“Tidak boleh bagi seorang pun menghadiri majelis yang di dalamnya terdapat kemungkaran atas pilihannya sendiri kecuali alasan darurat. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia duduk di hidangan yang dituangkan khomr.” (Majmu’ Al Fatawa, 28: 221).
Sumber : web rumaysho.co