Saturday, December 10, 2016

Wanita itu bukan barang tontonan.


Heran lihat posting seorang teman, sering kali dia memposting foto aktifitas istrinya, kadang juga foto wajah istrinya yang cantik, maklum istrinya memang ada keturunan bule dikit2, dan si suaminya yang memposting memberi tag yang menunjukkan kebanggaannya punya istri cantik. Saya berusaha berfikir positif saja mungkin ilmu belum sampai kepadanya sehingga berbuat jahil seperti itu, menshare kecantikan istrinya sehingga membuat cemburu banyak orang, sekaligus wajah istrinya dinikmati banyak orang, sehingga dari perbuatan itu punya potensi fitnah syahwat bagi siapa saja yang melihatnya. Teringat Ustadz Abu Haidar As Sundawy dalam salah satu dauroh beliau mengatakan, "jika seorang wanita memasang foto wajahnya di media sosial, kemudian itu dilihat ratusan orang, atau bahkan ribuan orang, dan menjadi fitnah syahwat bagi lelaki yang bukan mahramnya, maka dosa wanita itu sangatlah besar karena menjadi penyebab banyak lelaki terfitnah syahwat, demikian juga menjadi amalan dosa bagi lelaki yang melihatnya dan kemudian terbangkitkan syahwatnya."
Harusnya kecantikan istrinya buat suaminya sendiri dirumah itu jauh lebih baik, jauh lebih berpahala, waallahua'lam.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اَلْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اِسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، وَإِنَّهَا لاَتَكُوْنُ أَقْرَبَ إِلَى اللهِ مِنْهَا فِيْ قَعْرِ بَيْتِهَا
Wanita itu aurat, jika ia keluar dari rumahnya maka setan mengikutinya. Dan tidaklah ia lebih dekat kepada Allâh (ketika shalat) melainkan di dalam rumahnya
TAKHRIJ HADITS:
Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh :
1. at-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausâth, no. 2911 dari Shahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma
2. at-Tirmidzi, no. 1173
3. Ibnu Khuzaimah, no. 1685, 1686
4. Ibnu Hibbân, no. 5559, 5570-at-Ta’lîqâtul Hisân), dari Shahabat Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu
5. at-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausâth, no. 8092
Imam at-Tirmidzi rahimahullah berkata, ”Hadits ini hasan shahîh gharib.” Dishahihkanoleh Imam al-Mundziri, beliau mengatakan, “Hadits ini diriwayatkan oleh at-Thabrani rahimahullah dalam al-Mu’jamul Ausâth dan rawi-rawinya yang shahih.” Lihat Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb (I/260, no. 344). Dishahihkan juga oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 2688) dan Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb (no. 344, 346).

Siapa anda? Berani mengoreksi perkataan Allah?.



Imam Maliki"Mengatakan adanya bid'ah dalam agama sama halnya menuduh Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam telah mengkhianati risalah, karena agama ini telah sempurna", lalu beliau mengutip Al Maidah 3.(Kitab Al Ithisam karya Imam Syath).

Allah Azza wa Jalla berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) menjelaskan, “Ini merupakan nikmat Allah Azza wa Jalla terbesar yang diberikan kepada umat ini, tatkala Allah menyempurnakan agama mereka. Sehingga, mereka tidak memerlukan agama lain dan tidak pula Nabi lain selain Nabi mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla menjadikan beliau sebagai penutup para Nabi dan mengutusnya kepada seluruh manusia dan jin. Sehingga, tidak ada yang halal kecuali yang beliau halalkan, tidak ada yang haram kecuali yang diharamkannya, dan tidak ada agama kecuali yang disyari’atkannya. Semua yang dikabarkannya adalah haq, benar, dan tidak ada kebohongan, serta tidak ada pertentangan sama sekali.

Ustadz Abdul Qodir Jawas dalam sebuah sesi debat terbuka beliau mengatakan, " jika ada seseorang mengatakan adanya bid'ah dalam agama ini sama saja membuat catatan kaki pada ayat Al Maidah 3, karena agama ini telah sempurna namun kita merasa perlu menambahkan syariat dalam agama ini, pertanyaannya siapakah kita berani mengoreksi perkataan Allah?, saya rasa sebagai hamba tidaklah boleh berbuat demikian".
Waallahua'lam.

Tuesday, December 6, 2016

Ya ustadz mereka menuduh dakwah sunnah ini sebagai paham mujasimah(memahami Allah berjasad) ?


Seseorang bertanya kepada Ustadz Maududi Abdullah Lc., "banyak dikalangan awam menuduh dakwah ini paham mujasimah, bagaimana menjawab tuduhan seperti itu?".
Lalu ustadz menjawab,
Yang paling tau bagaimana adanya Allah adalah Allah sendiri, maka ketika Allah dalam ayat atau hadist disebut kata yang sama dengan kata yang digunakan maka cukup kita mengimaninya, inilah paham yang benar, paham Ahlus sunnah wal jamaah, inilah paham yang dipahami para shalafus shaleh.
Allah ta’ala berfirman tentang diri-Nya,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuura: 11)
Syaikh Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di rahimahullah mengatakan di dalam kitab tafsirnya, “[Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya] maknanya tidak ada yang menyerupai Allah ta’ala dan tidak ada satu makhluk pun yang mirip dengan-Nya, baik dalam Zat, nama, sifat maupun perbuatan-perbuatan-Nya. Hal ini karena seluruh nama-Nya adalah husna (paling indah), sifat-sifatNya adalah sifat kesempurnaan dan keagungan……”
Beliau melanjutkan, “[dan Dia Maha Mendengar] maknanya Dia Maha Mendengar segala macam suara dengan bahasa yang beraneka ragam dengan berbagai macam kebutuhan yang diajukan. [Dia Maha Melihat] maknanya Allah bisa melihat bekas rayapan semut hitam di dalam kegelapan malam di atas batu yang hitam……”
Beliau melanjutkan, “Ayat ini dan ayat yang semisalnya merupakan dalil Ahlu Sunnah wal Jamaah untuk menetapkan sifat-sifat Allah dan meniadakan keserupaan sifat Allah dengan sifat makhluk. Di dalam ayat ini terdapat bantahan bagi kaum musyabbihah (kelompok yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk -ed) yaitu dalam firman-Nya:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”
Juga bantahan bagi kaum mu’aththilah (kelompok yang menolak penetapan sifat Allah -ed) dalam firman-Nya
وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
“Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(Taisir Karimir Rahman)
Bukankah di dalam ayat ini Allah menyatakan tidak ada sesuatu pun yang serupa dan sepadan dengan-Nya? Anda tentu akan menjawab iya
Bukankah di dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat? Anda tentu akan menjawab iya
Nah, sekarang apakah kemampuan mendengar yang dimiliki Allah sama dengan kemampuan mendengar yang dimiliki makhluk? Tentu Anda akan menjawab tidak
Apakah kemampuan melihat yang dimiliki Allah sama dengan kemampuan melihat yang dimiliki makhluk? Tentu Anda akan menjawab tidak
Apakah makhluk memiliki sifat mendengar dan melihat? Anda tentu menjawab iya.
Apakah sifat mendengar dan melihat yang ada pada makhluk serupa dengan sifat mendengar dan melihat yang ada pada Allah ? Anda tentu menjawab tidak.
Apakah letak kesamaan antara sifat Allah dan sifat makhluk itu? Jawabnya adalah sama namanya, akan tetapi hakikatnya berbeda.
Nah, dari sini, maka kalau Allah menyebutkan di dalam ayat atau hadits bahwa Allah memiliki sebuah sifat tertentu yang nama sifat tersebut sama dengan nama sifat yang ada pada makhluk, apakah kita akan mengatakan bahwa sifat Allah itu sama dengan sifat makhluk? Tentunya tidak. Karena sama nama belum tentu hakikatnya sama. Manusia punya kaki, gajah punya kaki. Akan tetapi hakikat kaki gajah berbeda dengan kaki manusia. Sesama makhluk saja bisa terjadi sama nama dengan hakikat yang berbeda. Maka antara makhluk dengan Allah tentu jauh lebih berbeda. Makhluk disifati dengan berbagai kekurangan sedangkan Allah disifati dengan berbagai kesempurnaan. Apakah sama Zat yang sempurna dengan yang penuh kekurangan? Tentu tidak! Maka demikian pula dalam menyikapi sifat wajah. Allah telah menyebutkan di dalam Al Quran maupun As Sunnah bahwa Dia memiliki wajah maka kita katakan pula bahwa wajah Allah tidak sama dengan wajah makhluk, meskipun sama namanya yaitu wajah.
Mereka mengingkari perkataan Allah yang sangat jelas, dengan memberi makna lain, padahal itu belum terlepas dari apa yang mereka permasalahkan.
Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam ayatnya:
وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ... ]الائدة: 64[
Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu", sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), bahkan Kedua Tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki…. (al-Maidah: 64)
Mereka memaknai tangan Allah dengan "kekuatan", tentu ini masih belum lepas dari pengingkaran mereka, karena makhluk juga punya kekuatan, manusia punya kekuatan, kerbau punya kekuatan, dan seterusnya. Misal juga mereka memaknai sebagai kekuasaan, inipun belum lepas dari permasalahan, karena Camat juga punya kekuasaan, Bupati juga punya kekuasaan, Presiden juga punya kekuasaan dan seterusnya. Jika keadaannya sama saja, kenapa tidak mengikuti yang disampaikan Allah saja dan cukup mengimaninya?.
Kata tidak selalu sama dengan maknanya, seperti tangan manusia berbeda dengan tangan monyet, sama2 tangan tapi maknanya berbeda. Demikian juga dengan tangan Allah, kita tidak pernah tau tangan Allah seperti apa , namun sebagai seorang hamba wajibnya bersikap samina wato'na terhadap perkataan Allah dan RasulNya.
Dikutip dr Ustadz Maududi Abdullah Lc., dan referensi dari Ustadz Ariz Munandar di muslim.or.id

YUk Dakwah buku


Tadi siang saya sangat merasa senang mengirim sebuah paket buku ke Padang Sidempuan, sejumlah buku pesanan seorang donatur yang ingin dikirim kepada salah seorang tokoh agama didaerah itu. Sesuai permintaan si penerima saya kirimkan buku saku dzikir pagi petang dengan disertai dalil sahhihnya, karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal MA., juga buku saku bid'ah dan fiqih junub. 
Saya senang karena pihak donatur ikut mensyiarkan dakwah sunnah di jantung pemaham tarekat tassawuf, dan saya ikut serta dalam hal ini.
Seperti kita ketahui daerah Padang Sidempuan sampai ke Aceh adalah mayoritas pemaham tarekat tassawuf, mereka paling keras menentang dakwah sunnah, mulai pembubaran kajian hingga pengusiran jamaah salaf pernah terjadi disana.
Saya berharap dan berdoa, semoga makin banyak donatur seperti ini, dengan harapan santunan buku ini makin banyak, dengan sendirinya makin banyak orang tau dakwah sunnah sebenarnya, dan menepis imej buruk tentang dakwah sunnah, dengan dakwah buku ini dapat menyentuh dan mengembangkan pemahaman sunnah langsung didaerah yang sulit dikembangkan dakwah sunnah.
Semoga Cahaya Sunnah bersinar disana, Aamiin.

Solusinya adalah intropeksi


Seseorang bertanya kepada Ustadz Maududi Abdullah Lc., "ya ustadz bagaimana sikap kita menghadapi tuduhan orang2 kafir berkaitan dengan fitnah bahwa Islam adalah teroris, mereka menunjukkan fakta berbagai tindakan terorisme yang terjadi didunia ini, apa solusinya atas hal ini?".
Ustadz menjawab, " jika sebuah musibah datang kepada kita, maka carilah jawabannya kepada diri kita, cari solusinya dengan cara intropeksi pada diri sendiri. Jika seperti hal itu terjadi mungkin disebabkan dosa-dosa kita, mungkin umat Islam telah banyak melakukan maksiat kepada Allah dan RasulNya, mungkin sedikit kita bersyukur karena apa yang terjadi di banyak negara seperti Palestina, Myanmar, Suriah dan seterusnya tidak terjadi di negri kita, karena jika itu terjadi mungkin jauh lebih buruk dari yang terjadi disana, karena segala perbuatan dosa dinegri ini sudah terjadi, dan kita sudah terbiasa akan hal itu.
Maka marilah kita cari solusinya kepada yang "mendengar", " melihat" dan memberi "keadilan" yakni Allah. Jangan berharap kepada mereka kaum kafirin, karena mereka "tidak punya" yang kita inginkan, mereka "tidak dapat melihat" apa yang kita lihat, mereka juga tidak tau apa itu "keadilan".
Mari kita perbaiki diri, kembali kepada Allah dan RasulNya, mengikuti syariat Allah dan RasulNya adalah solusi dari segala masalah umat ini.
Waallahua'lam.

Nasehat

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sumber dari semua fitnah [kerusakan] adalah karena mendahulukan pemikiran di atas syari’at dan mengedepankan hawa nafsu di atas akal sehat. Sebab yang pertama merupakan sumber munculnya fitnah syubhat, sedangkan sebab yang kedua merupakan sumber munculnya fitnah syahwat. Fitnah syubhat bisa ditepis dengan keyakinan, sedangkan fitnah syahwat dapat ditepis dengan kesabaran. Oleh karena itulah Allah Yang Maha Suci menjadikan kepemimpinan dalam agama tergantung pada kedua perkara ini. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami menjadikan di antara mereka para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bisa bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. as-Sajdah: 24). Hal ini menunjukkan bahwasanya dengan sabar dan keyakinan akan bisa dicapai kepemimpinan dalam hal agama. Allah juga memadukan keduanya di dalam firman-Nya (yang artinya), “Mereka saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Ashr: 3). Saling menasehati dalam kebenaran merupakan sebab untuk mengatasi fitnah syubhat, sedangkan saling menasehati untuk menetapi kesabaran adalah sebab untuk mengekang fitnah syahwat…” (lihat Ighatsat al-Lahfan hal. 669)

Kata kasar tempatnya di neraka.


Waktu ada teman bilang ada seorang kyai yang suka bercarut(mencaci) saya gak percaya, masa iya, kemudian teman itu berikan linknya yakni di youtube baru saya percaya dan bikin istighfar banyak-banyak. Maklum dalam durasi video selama sekitar 10 menit itu si kyai yang sering dipanggil Gus itu mengatakan, "gak apa2 mencaci maki asal pada tempatnya, misal sampeyan bilang "janc$k!"(kata kasar di Jawa Timur), kalau itu diucapkan kepada orang tua ya salah, tapi kalau mengatakan " janc#k!" pada koruptor itu caci maki yang benar wujud rasa benci kita pada koruptor ataupun perbuatannya." Dia mengumpamakan kalau kotoran sapi digunakan untuk memupuk tanaman itu benar, tapi kalau kotoran sapi ditaruh diatas meja ya jelas salah, astaghfirullah, kok kebalik dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, beliau mengatakan kata kotor dan kasar tempatnya di neraka, dan tidak ada satupun hadist menyebut beliau mengatakan kata kasar dan kotor diperbolehkan, semua kata kasar dilarang.
Kesimpulannya mungkin Gus itu ngajinya belum tutug, mungkin dia belum pernah kaji Kitab Adabul Munfrad, kitab sahhih Muslim tentang akhlak, kitab paling dasar yang harus dipelajari dan diamalkan setiap penutut ilmu sebelum dia belajar bidang ilmu agama lainnya. Karena seseorang berilmu tinggi tampa akhlak niscaya akan mendatangkan kerusakan bagi dirinya juga orang lain, terutama kepada agama ini.
Waallahua'lam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اَلْـحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَ َاْلإِيْمَانُ فِـي الْـجَنَّةِ ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْـجَفَاءِ وَالْـجَفَاءُ فِـي النَّارِ.
“Malu adalah bagian dari iman, sedang iman tempatnya di Surga dan perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar, sedang tabiat kasar tempatnya di Neraka.”[Shahîh: HR.Ahmad (II/501), at-Tirmidzî (no. 2009), Ibnu Hibbân (no. 1929-Mawârid), al-Hâkim (I/52-53) dari Abû Hurairah t . Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 495) dan Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 3199).].