Tuesday, July 7, 2020

BELI SEPEDA HARGA JUTAAN MAMPU, BERQURBAN ENGGAK MAMPU ???


Oleh Siswo Kusyudhanto
Memang benar kata seorang syaikh, kemunduran Islam di jaman ini disebabkan kebanyakan Umat Islam itu masih dalam tataran pengakuan belum pada tingkatan iman yang sesungguhnya, jika iman didefinisikan para ulama sebagai ucapan lesan, diyakini dalam hati dan digerakkan oleh anggota tubuh, maka makna iman dikebanyakan orang yang mengaku beragama Islam masih ditingkat lesan saja, sementara keyakinan dalam hati atau sampai diamalkan dengan semua anggota tubuh masih sangat jauh.
Buktinya mungkin disaat qurban sekarang ini, banyak orang mampu membeli hp android mahal, mampu membeli motor dan mobil, juga mampu membeli rumah, namun giliran menyediakan dana untuk qurban yang nilainya jauh dibawah barang-barang diatas mereka menyatakan tidak mampu, nyerah.
Bahkan ada teman yang sedang terlanda hobby gowes mampu membeli sepeda lipat seharga 3,6 juta cash, namun ketika disodori sebagai peserta qurban tahun ini angkat tangan alias tidak mampu, subhanaAllah.
Kalau udah begitu bagaimana Islam ini berjaya kalau untuk menegakkan syariat kapan-kapan dan untuk hobby nomer satu?. Dan anehnya mereka semua berharap surga, padahal surga tidak didapatkan dengan santai dan gratis, surga dan kemuliaan disisi Allah Azza Wa Jalla diperlukan usaha keras dan pengorbanan, waallahua'lam.
Mungkin ini nasehat bagi kita semua, mulai menegakkan syariat dari diri sendiri dan keluarga, agar Islam berjaya, insyaAllah.
Allah Azza wa Jalla berfirman,
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” [Ali ‘Imran/3: 142]

Wednesday, July 1, 2020

MENGHAFAL AL-QURAN 30 JUZ SEJAK UMUR 70 TAHUN


Kisah yang memotivasi untuk menghafal alquran.
UMMU Shalih. 82 tahun, mulai menghafal Al-Qur’an pada usianya yang ke-70. Tamasyanya ke taman hafalan Al-Qur’an, sungguh sangat menginspirasi. Cita-citanya yang tinggi, kesabaran, dan juga pengorbanannya patut kita teladani.
Inilah hasil wawancara dengan Ummu Shalih yang dimuat Majalah Ad-Dakwah di Malaysia.
Motivasi apa yang mendorong Anda untuk menghafalkan Al-Qur’an pada umur yang setua ini?
Sebenarnya, cita-cita saya untuk menghafal Al-Qur’an sudah tumbuh sejak kecil. Kala itu ayah selalu mendoakanku agar menjadj hafizhah Al-Qur’an seperti beliau dan juga seperti kakak laki-lakiku. Dari hal itulah, aku mampu menghafal beberapa surat —kira-kira 3 juz.
Ketika usiaku menginjak 13 tahun, aku menikah. Tentu setelah itu aku tersibukkan dengan urusan rumah dan anak-anakku. Ketika aku dikaruniai 7 (tujuh) orang anak, suamiku wafat. Karena ketujuh buah hatiku masih kecil-kecil, maka seluruh waktuku tersita untuk mengurusi dan mendidik mereka.
Nah, ketika mereka sudah dewasa dan berkeluarga, maka waktu ku pun kembali luang. Dan hal yang pertama kali aku tunaikan adalah mencurahkan tenaga dan waktuku untuk mewujudkan cita-cita agungku yang tertunda untuk menghafal Kitabullah Azza wa Jalla.
Bagaimana awal perjalanan Anda dalam menghafal?
Saya mulai menghafal kembali ketika putri bungsuku masih duduk di bangku Tsanawiyah (SMP). Dia salah satu putriku yang paling dekat denganku, dan dia sangat mencintaiku. Sebab kakak-kakak perempuannya telah menikah dan disibukkan dengan kehidupan baru mereka. Sedangkan, dia (putri bungsuku) tinggal bersamaku. Dia sangat santun, jujur, dan mencintai kebaikan.
Putri bungsuku pun bercita-cita untuk menghafal Al-Qur’an—terlebih ketika ustadzahnya menyemangati dirinya. Dari sinilah, saya dan juga putri bungsuku menghafal Al-Qur’an, setiap hari 10 ayat.
Bagaimana metode yang Anda gunakan untuk menghafal?
Setiap hari, kami hanya menghafal 10 ayat saja. Pada ba’da Ashar, Kami selalu duduk bersama. Putriku membaca ayat, kemudian aku menirukannya hingga 3 (tiga) kali. Setelah itu putriku menerangkan makna dari ayat-ayat yang Kami baca. Lantas membaca kembali ayat-ayat tersebut hingga 3 (tiga) kali.
Keesokan harinya, sebelum berangkat ke sekolah putriku mengulangi ayat-ayat tersebut untukku. Tak cukup itu saja, saya pun menggunakan tape recorder untuk mendengar murattal Syaikh Al-Hushairi, dan aku mengulanginya hingga 3 (tiga) kali. Aku pun mendengar murattal tersebut pada sebagian besar waktuku.
Kami menetapkan hari Jum’at, khusus untuk mengulangi kembali ayat-ayat yang kami hafal selama satu pekan. Demikian seterusnya, saya dan putri bungsuku selalu menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dengan cara tersebut.
Kapan Anda selesal menghafal seluruh Al-Qur’an?
Kira-.kira 4,5 tahun berjalan aku sudah hafal 12 Juz dengan cara yang telah saya sebutkan. Kemudian putriku pun menikah. Ketika suaminya mengetahui kebiasaan kami, dia pun mengontrak sebuah rumah yang dekat dengan rumahku untuk memberikan kesempatan kepadaku dan putriku untuk menyempurnakan hafalan kami.
Semoga Allah membalas kebaikan menantuku dengan kebaikan yang lebih baik. Dialah yang selalu menyemangati kami, bahkan terkadang dia menemani kami untuk menyimak hafalan kami, menafsirkan ayat-ayat yang kami baca, dan juga memberikan pelajaran-pelajaran berharga kepada kami.
Tiga tahun kemudian, putriku tersibukkan dengan urusan anak-anaknya dan pekerjaan rumahnya. Sehingga tidak bisa melazimi kebiasaan yang telah kami jalani. Putriku pun merasa khawatir hafalanku menjadi terbengkalai. Maka, putriku pun mencarikan untukku seorang ustadzah agar dapat menemaniku menyempurnakan hafalanku.
Dengan taufik Allah Azza Wajalla aku pun telah purna menghafalkan seluruh Al-Qur’an. Semangat putriku pun masih membara untuk menyusulku menjadi hafizhah Al-Qur’an. Bahkan, tidak mengendur sedikit pun.
Cita-cita Anda sangat tinggi, dan Anda pun telah mewujudkannya. Siapakah sosok wanita di sekitar Anda yang selalu mendukung Anda?
Motivasi saya telah jelas dan terang. Putri-putriku, juga para menantu perempuanku pastinya selalu mendukungku. Walau hanya satu jam, kami sepakat untuk mengadakan pertemuan sepekan sekali. Dalam pertemuan itu kami menghafal beberapa surat, dan saling menyimak hafalan. Terkadang pertemuan itu pun macet. Tetapi kemudian mereka bersepakat kembali untuk bertemu. Saya yakin, niat mereka semua sangat baik.
Tak ketinggalan pula, cucu-cucu perempuanku yang selalu memberikan kaset-kaset murattal Al-Qur’an. Hingga aku pun selalu memberi mereka bermacam-macam hadiah.
Awalnya, tetangga-tetanggaku juga tidak simpatik dengan cita-citaku. Mereka selalu mengingatkanku betapa sulitnya menghafal di usia yang daya ingatnya telah lemah. Tetapi ketika mereka melihat kebulatan tekadku, akhirnya mereka pun berbalik mendukung dan menyemangatiku. Ada di antara tetanggaku yang juga ikut tersulut semangatnya untuk menghafal, dan sedikit demi sedikit hafalannya pun mulai bertambah.
Ketika tetangga-tetanggaku mengetahui bahwa aku telah purna menghafal seluruh Al-Qur’an, mereka pun sangat berbahagia. Hingga kulihat air mata bahagia menetes di pipi mereka.
Sekarang, apakah Anda merasa kesulitan untuk muraja’ah (mengulangi) hafalan?
Saya selalu mendengarkan murattal Al-Qur’an, dan menirukannya. Demikian juga ketika shalat, saya selalu membaca beberapa surat panjang. Terkadang pula saya meminta salah seorang putriku untuk menyimak hafalanku.
Di antara putra-putri Anda, adakah yang juga hafizh seperti Anda?
Tak ada satu pun dari mereka yang hafal keseluruhan Al-Qur’an. Tetapi, insya Allah mereka selalu berusaha mencapai cita-cita menjadi hafizh. Semoga Allah menyampaikan mereka pada hal tersebut dengan bimbingan-Nya.
Setelah hafal Al-Qur’an, tidak terpikirkan untuk menghafal hadits?
Saat ini, saya telah hafal 90 hadits, dan saya tetap berkeinginan untuk melanjutkannya, Insya Allah. Saya menghafalnya dengan mendengarkan dari kaset. Pada setiap akhir pekan, putriku membacakan untukku 3 (tiga) hadits. Sekarang, saya telah mencoba untuk menghafal hadits lebih banyak lagi.
Setelah kurang lebih 12 tahun Anda disibukkan dengan menghafal Al-Qur’an, perubahan apa yang Anda rasakan dalam kehidupan Anda?
Benar, saya merasakan perubahan yang mendasar dalam diri saya. Walau sebelum menghafal–untuk Allah segala pujian—saya selalu menjaga diri untuk senantiasa dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Setelah disibukkan dengan menghafalkan Al-Qur’an, justru saya merasakan kelapangan hati yang tak terkira, dan sirnalah seluruh kecemasan dalam diriku. Saya pun tidak pernah menyangka akan terbebas dari perasaan khawatir terhadap urusan-urusan yang menimpa anak-anakku.
Moral dan spiritku benar-benar terangkat. Hingga aku pun rela berpayah-payah untuk mewujudkan kerinduanku dalam mewujudkan cita-citaku. Inilah nikmat terbesar yang diberikan oleh Sang Khaliq Azza Wajalla kepadaku sebagai wanita tua, suami pun telah tiada, dan juga anak-anaknya pun mulai berkeluarga.
Di saat wanita lanjut usia lainnya terjebak dalam angan-angan dan lamunan. Tetapi aku —segala puji hanya untuk Allah— tidak merasakan hal yang demikian. Saya benar-benar tersibukkan dengan urusan besar yang memiliki faedah di dunia dan akhirat.
Ketika itu, apakah Anda tidak berpikir untuk mendaftarkan diri pada sebuah pesantren penghafal Al-Qur’an?
Pernah beberapa wanita yang mengusulkan kepadaku, tapi saya adalah wanita yang terbiasa untuk berdiam diri di dalam rumah dan jarang sekali keluar rumah. Alhamdulillah, karena putriku telah mencukupi segalanya dan membantuku dalam segala urusan. Sungguh, putriku benar-benar tidak ada duanya. Aku pun telah banyak mengambil pelajaran darinya.
Apa saran Anda kepada wanita yang telah lanjut usia, dan menginginkan untuk dapat menghafalkan Al-Qur’an, tetapi terhalang oleh rasa khawatir dan merasa tidak mampu untuk melaksanakannya?
Saya katakan, “Jangan berputus asa terhadap cita-cita yang benar. Teguhkanlah keinginanmu, bulatkan tekadmu, dan berdoalah kepada Allah di setiap waktu. Kemudian, mulailah sekarang juga. Setelah umurmu berlalu dan kau curahkan seluruhnya untuk memenuhi tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga, mendidik anak, dan mengurus suami. Maka sekarang saatnyalah Anda memanjakan diri. Bukan berarti kemudian memperbanyak keluar rumah, memuaskan diri dengan tidur, bermewah-mewah, dan banyak beristirahat. Tetapi memanjakan diri dengan amal shalih. Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita memohon khusnul khatimah.
Nasihat Anda terhadap para remaja?
Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Nikmat Allah berupa kesehatan, dan banyaknya waktu luangmu, maksimalkanlah untuk menghafal kitab Allah Azza Wa Jalla. Inilah cahaya yang akan menyinari hatimu, hidupmu, dan kuburmu setelah engkau mati.
Jika kalian masih memiliki ibu, bersungguh-sungguhlah dalam membimbingnya menuju ketaatan kepada Allah. Demi Allah, tidak ada nikmat yang lebih dicintai seorang ibu kecuali seorang anak shalih yang mau menolongnya untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza Wa Jalla. []
sumber Islampos.co

Eksis itu di langit, InsyaAllah.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Banyak sekali akhir-akhir ini viral kebaikan yang tersebar di media sosial juga media berita nasional, ada orang yang berhasil mengIslamkan orang, atau banyak artis membagi-bagikan sedekah sembako ataupun uang dan banyak lagi, mungkin maksud di share hal-hal seperti ini adalah usaha untuk memotivasi orang lain agar melakukan hal sama, bagus sih, cuma mungkin jauh lebih hebat jika hal-hal seperti itu disembunyikan, karena kata banyak ulama batas antara ikhlas dan riya'(ingin dipuji orang lain) itu sangat tipis, banyak orang merasa diri mereka dalam keadaan ikhlas tapi sejatinya sudah terjebak dalam kubangan riya', ingin menuai pujian orang lain atas kebaikan yang dilakukannya, dan ini membahayakan dirinya, terancam pahala atas apa yang dikerjakan olehnya hangus sia-sia, masih juga terancam azab neraka atas ke riya'annya itu.
Menurut pengamatan saya selama ini banyak orang-orang hebat dalam menyembunyikan kebaikan yang dilakukannya, saya pernah mendapat cerita seorang santri yang menceritakan perjuangan ustadznya yang berdakwah selama 7 tahun di pulau-pulau terpencil di Maluku Utara, dan berhasil mengajak orang masuk ke dalam Islam hingga ratusan orang atau bahkan mungkin ribuan orang, MasyaAllah, dan hebatnya hal seperti ini sangat sedikit orang tau, mungkin beliau ingin menjadikan amalannya tabungan kelak di akhirat, dan tidak ingin hangus karena berharap pujian orang, waallahua'lam.
Atau kisah ketika Masjid Raudhatul Jannah mendapatkan bantuan dari seseorang yang tidak diketahui siapa, si donatur menghubungi panitia pembangunan masjid bahwa dia menaruh sejumlah uang di salah satu sudut masjid dan minta pengurus mengambil uang tersebut, setelah pengurus mencari dilokasi yang ditunjukkan si penelpon ternyata memang benar ada bungkusan di lokasi tersebut, dan setelah dibuka ternyata ada uang 20 juta didalamnya, MasyaAllah. Semoga Allah Azza wa Jalla merahmati si Fulan, Aamiin.
Dan mungkin banyak kisah serupa yang pernah kita ketahui, juga seperti kisah-kisah hebat ulama salaf yang menyembunyikan amal ibadah mereka demi menjaga keikhlasan mereka, karena mereka tau ikhlas itu berat, tidak semudah mengucapkan dan teorinya.
Jadi teringat nasehat Ustadz Armen Halim Naro Rahimahullah dalam sebuah kajian, beliau mengatakan,
" Sungguh celaka orang yang sangat terkenal dikalangan manusia, namanya menjadi buah bibir dikalangan manusia karena kebaikannya, namanya disebut juga di koran dan televisi, namun sayang namanya asing dikalangan malaikat di langit, justru namanya mengumpulkan catatan keburukan, karena dia hanya menampakkan kebaikan dalam jangkauan mata manusia, namun ketika dia sendiri dia merasa bebas melakukan kemaksiatan.
Dan sungguh beruntung orang yang namanya asing dikalangan manusia, namanya tidak dikenal di kalangan manusia, namun namanya sangat terkenal dikalangan malaikat dilangit karena dia melakukan kebaikan, dia berusaha menyembunyikan kebaikan yang dilakukannya, juga Istiqomah dalam amal ibadah baik yang nampak oleh mata manusia ataupun tidak terjangkau mata manusia."
Dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla:
إِن تُبْدُواْ الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لُّكُمْ
“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu” (QS. Al Baqarah: 271).
Ayat ini menunjukkan bahwa menyembunyikan amalan shalih itu lebih utama secara umum. Karena itu lebih dekat kepada keikhlasan. Dan disebutkan dalam hadits tujuh orang yang mendapat naungan Allah, diantaranya:
ورجل تصدق بصدقة فأخفاها حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه
“Seorang yang bersedekah, ia menyembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan tangan kanannya” (HR. Bukhari no. 1423).
Sumber Referensi "Menampakkan dan menyembunyikan amalan", karya Yulian Purnama di web Muslim.or.id

Wednesday, June 3, 2020

Ketupatnya bukan bid'ah, yang bid'ah adalah perayaan ketupatannya


Ketupatnya halal, tidak masalah, yang jadi masalah adalah menetapkan dan merayakan ketupatan, karena tidak ada sama sekali tuntutan dari Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam, juga Khulafur Rasyidin dan juga para imam madzhab.
Di antara perkara yang diada-adakan (bid’ah) pada bulan Syawwal adalah bid’ah hari raya Al Abrar (orang-orang baik) (atau dikenal dengan hari raya Ketupat.pent.), yaitu hari kedelapan Syawwal.
Setelah orang-orang menyelesaikan puasa bulan Ramadhan dan mereka berbuka pada hari pertama bulan Syawwal -yaitu hari raya (iedul) fitri- mereka mulai berpuasa enam hari pertama dari bulan Syawwal dan pada hari kedelapan mereka membuat hari raya yang mereka namakan iedul abrar (biasanya dikenal dengan hari raya Ketupat. Pent )
Syaikhul Islam lbnu Taimiyah –Rahimahullah- berkata: “adapun membuat musim tertentu selain musim yang disyariatkan seperti sebagian malam bulan Rabi’ul Awwal yang disebut malam maulid, atau sebagian malam bulan Rajab, tanggal 18 Dzulhijjah, Jum’at pertama bulan Rajab, atau tanggal 8 Syawwal yang orang-orang jahil menamakannya dengan hari raya Al Abrar ( hari raya Ketupat) ; maka itu semua adalah bid’ah yang tidak disunnahkan dan tidak dilakukan oleh para salaf. Wallahu Subhanahu wata’ala a’1am.
Peringatan hari raya ini biasanya dilakukan di salah satu masjid yang terkenal, para wanitapun berikhtilat (bercampur) dengan laki-laki, mereka bersalam-salaman dan mengucapkan lafadz-lafadz jahiliyyah tatkala berjabatan tangan, kemudian mereka pergi ke tempat dibuatnya sebagian makanan khusus untuk perayaan itu. (lihat : As Sunan wal mubtadi’at al muta’alliqah bil adzkar wassholawat karya Muhammad bin Abdis Salam As Syaqiriy hal. 166)
(Kitab Al Bida’ Al Hauliyyah karya : Abdullah bin Abdul Aziz At tuwaijiry. Cet. I Darul Fadhilah Riyadh, Hal. 350. Penterjemah : Muhammad Ar Rifa’i)
Hari kedelapan dari syawwal ini orang umum menamakannya sebagai Iedul Abrar (hari raya orang yang baik) yaitu orang-orang yang telah puasa enam hari syawwal. Namun hal ini adalah bid’ah. Maka hari ke delapan ini bukanlah sebagai hari raya, bukan untuk orang baik (abrar) dan bukan pula bagi orang jahat (Fujjar).
Sesungguhnya ucapan mereka (yaitu iedul abrar) mengandung konskwensi bahwa orang yang tidak puasa enam hari dari syawwal maka bukan termasuk orang baik, demikian ini adalah keliru. Karena orang yang telah menunaikan kewajibannya maka dia, tanpa diragukan adalah orang yang baik walaupun tentunya sebagian orang kebaikannya ada yang lebih sempurna dari yang lain.
(Syarhul Mumti’ Karya As Syaikh Ibnu Utsaimin jilid 6 bab shaum Tathawwu’

Ketika tradisi mengalahkan agama




Oleh Siswo Kusyudhanto
Kata seorang ustadz dalam salah satu kajian, ketika tradisi bertemu dengan syariat Islam maka syariat Islam didahulukan daripada tradisi, sehingga tradisi mengikuti syariat Islam, maka ketika tradisi selama tidak melanggar syariat Islam dipersilahkan, tidak ada larangan sama sekali, misal bentuk baju selama menutup aurat sesuai syariat maka akan dibenarkan, misal pakai sarung asli tradisi nenek moyang sejak dulu, dan ini diperbolehkan karena memenuhi kaidah syariat Allah dan RasulNya.
Namun banyak orang mendahulukan tradisi daripada syariat Islam, akibatnya muncul sinkretsime (Sinkretisme adalah suatu proses perpaduan dari beberapa paham-paham atau aliran-aliran agama atau kepercayaan.) mencampurkan ajaran Islam dengan tradisi, maka terjadi orang melarung kepala kerbau di laut sementara yang melarung membaca Tahlil, padahal melarung sesajen itu masuk amalan kesyirikan, sementara lafadz Tahlil adalah mengEsakan Allah Azza wa Jalla, wallahua'lam.
Mendahulukan tradisi dari agama yang disampaikan oleh Allah Azza wa Jalla dan RasulNya juga salah satu sifat kaum jahiliyah yang masih ada sampai sekarang, wallahua'lam.
Allah berfirman,
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ
“Dan jika dikatakan kepada mereka, marilah kalian kepada apa yang Allah turunkan kepada Rasul, niscaya mereka berkata, cukuplah bagi kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami berada padanya. Apakah (mereka tetap bersikap demikian) meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Maidah: 104).
Dalam menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir berkata, “Jika mereka diajak kepada agama dan syariat Allah, kepada hal-hal yang Allah wajibkan dan meninggalkan hal-hal yang Allah haramkan, mereka berkata, cukup bagi kami jalan-jalan yang ditempuh oleh nenek moyang kami. Allah berfirman, ‘Apakah (mereka tetap bersikap demikian) meskipun bapak-bapak mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?’ Yakni, mereka tidak mengetahui, memahami dan mengikuti kebenaran. Lalu kenapa mereka tetap mengikutinya padahal demikian keadaannya?! Tidak ada yang mengikuti mereka melainkan orang yang lebih bodoh dari mereka dan lebih sesat jalannya”.
(Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim (2/108, 109).
Sumber Referensi "Penghalang Iitiba', mendahulukan nenek moyang dan tokoh diatas dalil", karya Ustadz Kholid Syamhudi di web Muslim.or

Terima Kasih kepada teman Donatur



MasyaAllah Alhamdulillah, ikut senang Mushaf Al-Qur'an dari teman-teman donatur diterima salah satu tokoh masyarakat Pulau Enggano, titik terluar dari Provinsi Bengkulu, yang nantinya akan digunakan oleh masyarakat disana belajar membaca Al-Qur'an dengan benar, semoga bacaan mereka juga menjadi pahala bagi para donatur Mushaf Al-Qur'an Aamiin.
Semoga gerakan membaca Al-Qur'an ini makin meneguhkan Islam di Nusantara, Allahu Akbar !.
Bagi teman-teman yang dilapangkan rizki harta dapat menyalurkan ke rekening dibawah ini ;
Rekening Bank Syariah Mandiri
Atas nama Siswo Kusyudhanto
Di nomer 7114465962
Konfirmasi ke nomer WA 081378517454
Setiap sumbangan donatur kami akan laporkan nomer resi pengiriman dan jumlahnya, hal ini untuk menghindari fitnah dikemudian hari.

Friday, April 17, 2020

Ustadz Boleh Saya Pacaran ?


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kesempatan seorang teman yang masih muda bertanya kepada Ustadz kami.
"Ustadz bolehkah saya pacaran?".
Ustadz menjawab, "Boleh".
Si pemuda nampak senang dengar jawaban Ustadz, dia tersenyum mendengar jawaban itu.
Kemudian Ustadz berkata, " Boleh Pacaran, tapi ada syaratnya,".
Si pemuda bertanya, " Apa Syaratnya Ustadz?".
Ustadz menjawab, " Boleh Pacaran asal selama pacaran mengikuti larangan Allah dan RasulNya.
Dilarang bersentuhan, karena dalam sebuah hadits disebutkan seseorang yang tertancap besi di kepalanya itu lebih baik daripada seorang lelaki yang menyentuh wanita yang bukan mahram baginya.
Dilarang memandang pacarnya, karena bukan mahram bagi kita, karena Allah dan RasulNya menyuruh kira menjaga pandangan dengan selalu menundukkan pandangan kita terhadap yang tidak halal bagi kita.
Dilarang berikhtilat, dilarang bercampur antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram bagi mereka, ini juga termasuk larangan berkomunikasi dengan syahwat lewat WhatsApp, Massanger, SMS, dan sarana lainnya.
Dilarang berduaan dengan bukan mahramnya, karena disebut dalam sebuah hadits jika ada lelaki dan perempuan berduaan saja maka orang ketiga adalah setan yang akan menjerumuskan mereka kedalam perbuatan maksiat dan dosa.
Apakah antum mampu melaksanakan syarat-syarat ini ?".
Si pemuda terdiam, kalau mengikut syarat-syarat itu semua tentu namanya bukan pacaran, atau alias sudah menikah, karena syarat-syarat seperti itu tidak berlaku bagi mereka yang sudah menikah, lalu berkata, "Apakah ini artinya pacaran dilarang Ustadz?".
Mendengar pertanyaan si pemuda akhirnya Ustadz menjelaskan terlarangnya dan bahayanya pacaran, karena Allah Azza wa Jalla sudah memperingatkan kita untuk tidak mendekati zina, apalagi berbuat zina?, Dan salah satu pintu yang mendekatkan seseorang kepada perbuatan zina adalah pacaran.
Berapa banyak perbuatan zina, aborsi, penyakit kelamin dan seterusnya yang dilakukan dan dialami oleh manusia semua diawali dari pacaran.
Nampaknya si pemuda paham penjelasan Ustadz, dia mengangguk dan bertekad untuk langsung menikah jika sudah merasa mampu.
Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang mengingatkan kita di dalam firman-Nya :
وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓ‌ۖ إِنَّهُ ۥ كَانَ فَـٰحِشَةً۬ وَسَآءَ سَبِيلاً۬
Artinya : “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang jelek.” (Q.S. Al-Isra [17] : 32).
Postingan ini dapat teman-teman ikuti juga di Instagram saya di
https://www.instagram.com/p/B-1AxupBwwi/…
Semoga bermanfaat.