Monday, December 18, 2017

KAMU KIRA DICIPTAKAN HANYA UNTUK MAIN-MAIN SELAMA DI DUNIA ?


Oleh Siswo Kusyudhanto
Ada teman yang hobby maen gaple, sampai mungkin jarang dirumah, sepulang kerja waktunya dihabiskan cuma untuk main gaple dengan para tetangganya sampai larut malam, dan itu sudah berlangsung bertahun-tahun.
Jadi ingat kajian Ustadz Maududi Abdullah, beliau menyebutkan, "banyak orang yang tidak memahami kenapa dia diciptakan, akhirnya ada orang yang hidupnya dihabiskan untuk main bola terus, atau ada juga yang waktunya dihabiskan untuk mancing terus, ada juga yang hidupnya dihabiskan untuk mendaki gunung dan seterusnya.
Padahal Allah menciptakan manusia dan jin hanya dengan tujuan agar beribadah kepadaNya. Makna ibadah ini sangat luas, tidak terbatas shalat, puasa, sedekah, zakat dan haji atau semacamnya. Namun segala hal yang dicintai oleh Allah adalah ibadah, seperti mencari nafkah untuk keluarga itu ibadah, tersenyum kepada orang lain juga ibadah, membantu orang lain yang sedang kesulitan juga ibadah dan seterusnya.
Maka manusia yang mengerti tujuan dia diciptakan adalah manusia yang mengerjakan segala hal yang diridhoi oleh Allah Ta’ala. Waallahua'lam. "
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)
Allah Ta’ala berfirman,
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mu’minun: 115).
Ibnu Qoyyim Al Jauziyah mengatakan, “Apakah kalian diciptakan tanpa ada maksud dan hikmah, tidak untuk beribadah kepada Allah, dan juga tanpa ada balasan dari-Nya[?] ” (Madaarijus Salikin, 1/98) Jadi beribadah kepada Allah adalah tujuan diciptakannya jin, manusia dan seluruh makhluk. Makhluk tidak mungkin diciptakan begitu saja tanpa diperintah dan tanpa dilarang. Allah Ta’ala berfirman,
أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al Qiyamah: 36).
Imam Asy Syafi’i mengatakan,
لاَ يُؤْمَرُ وَلاَ يُنْهَى
“(Apakah mereka diciptakan) tanpa diperintah dan dilarang?”.
Ulama lainnya mengatakan,
لاَ يُثاَبُ وَلاَ يُعَاقَبُ
“(Apakah mereka diciptakan) tanpa ada balasan dan siksaan?” (Lihat Madaarijus Salikin, 1/98)
Sumber referensi "Tujuan Manusia diciptakan", oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc di Rumoysho.co.

ILMU ADALAH CAHAYA DIGELAPNYA DUNIA.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Suatu sore saya ada keperluan mengunjungi seorang teman didaerah pelabuhan, ketika mencari alamat rumah teman itu saya menunggu dijemput olehnya, dan saya berhenti disebuah ruko, ternyata ruko ini adalah asrama bagi wanita penghibur, dan sore itu jemputan mobil yang akan mengantarkan ke sebuah club malam sudah tiba, maka nampak beberapa wanita berpakaian super seksi dan berdandan menor naik mobil itu, lalu nampak diantara wanita itu berdoa, melafadzkan surat Al fatihah dan beberapa surat pendek lainnya, mungkin berharap malam ini banyak tips dari para tamunya, subhanaallah.
Jadi makin sadar bahwa ilmu agama sangat penting, untuk mengetahui sebuah perkara, apa yang dilakukan wanita penghibur itu dengan menyebut firman Allah untuk melancarkan pekerjaan yang penuh maksiat tentu bukan cara yang benar, mungkin hal tersebut karena keawaman si wanita itu, waallahua'lam.
Dalam sebuah kajian Ustadz Abu Haidar As Sundawy mengatakan, "ada orang yang berbuat maksiat, di siang yang terang benderang atau dibawah lampu yang sangat terang, dan dengan tenang dia melakukan maksiat tampa rasa bersalah, sejatinya orang ini hidup dalam kegelapan, karena apa yang dilakukan masuk perbuatan yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, namun dia buta, seakan dia sedang melakukan hal yang benar, dan dianggap semua sama saja tidak ada perbedaan sama sekali, hal tersebut disebabkan karena tidak adanya ilmu padanya.
Oleh karenanya dalam banyak ayat ketika Allah menyebutkan kata cahaya, para ulama menafsirkan ini adalah ilmu, yakni hanya dengan ilmu seseorang keluar dari kegelapan menuju cahaya, sehingga dia mampu membedakan mana yang hak dan mana yang bathil, mana Tauhid dan mana Syirik, mana Sunnah dan mana Bid'ah, mana halal dan mana haram dan seterusnya.
Maka menjadi kewajiban bagi setiap Muslim untuk selalu belajar ilmu agama, agar menjadi cahaya baginya dalam melihat sebuah perkara, dan menjadi landasan dalam beramal, waallahua'lam. "
Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala:
فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا
Maka berimanlah kamu kepada Allâh dan rasul-Nya dan kepada cahaya (al-Qur’an) yang telah Kami turunkan [At-Taghâbun/64:8]
Juga dalam firman-Nya:
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا
Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al-Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. [Asy-Syûrâ/42:52]
Juga dalam firman-Nya:
فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung [Al-A’râf/7:157]
Juga dalam firman-Nya:
قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ ﴿١٥﴾ يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allâh, dan Kitab yang menerangkan.
Dengan Kitab itulah, Allâh menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allâh mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus [Al-Maidah/5:15-16]
Sumber referensi almanhaj.or.id

BERSYUKURLAH KEPADA ALLAH MAKA HATIMU TENANG.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian Ustadz Armen Halim Naro Lc Rahimahullah mengatakan, "banyak orang berlomba-lomba mencari ketenangan hati, mereka minum pil, ada juga orang menyuntikkan cairan tertentu pada tubuhnya, ada juga orang menghabiskan banyak uang dan bersusah payah mencari tempat untuk membuatnya tenang hatinya, dan banyak lagi cara orang mencari ketenangan hati, dan tidak sedikit dari mereka justru tidak mendapatkan ketenangan hati itu, karena ketenangan hati hanya Allah Ta’ala pemilikNya.
Kenapa mereka tidak mendapatkan ketenangan hati padahal segala usaha sudah ditempuhnya?, berarti ada kabel yang putus dalam hal ini, ada yang salah dalam menggunakan cara mendapatkan ketenangan hati.
Kegelisahan pada seseorang terjadi ketika dia sudah menyelesaikan segala urusan dan beban pada hari ini, dan kemudian dia memikirkan urusan dan perkara yang akan dihadapinya dimasa depan.
Andaikan saja ketika seseorang menyelesaikan semua perkara dan beban dihari ini, kemudian dia bersyukur kepada Allah atas hal itu, kemudian dia bertawakal kepada Allah atas masa depannya maka pastilah ada ketenangan dalam hatinya, Waallahua'lam. "
Allah berfirman:
“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Fath [48]: 4)
Syaikh Abdurrahman As-Si’dy rahimahullah berkata, “Allah mengabarkan tentang karunia-Nya atas orang-orang yang beriman dengan diturunkan kepada hati mereka sakinah. Ia adalah ketenangan dan keteguhan dalam kondisi terhimpit cobaan dan kesulitan yang menggoyahkan hati, mengganggu pikiran dan melemahkan jiwa. Maka diantara nikmat Allah atas orang-orang yang beriman dalam situasi ini adalah, Allah meneguhkan dan menguatkan hati mereka, agar mereka senantiasa dapat menghadapi kondisi ini dengan jiwa yang tenang dan hati yang teguh, sehingga mereka tetap mampu menunaikan perintah Allah dalam kondisi sulit seperti ini pun. Maka bertambahlah keimanan mereka, semakin sempurnalah keteguhan mereka.” (Taisir al Karim: 791)
Sumber referensi, "Tenangkan hatimu", Ustadz Khalid Gunarsa di almanhaj.or.id.

Thursday, December 14, 2017

KETIKA KECANGGIHAN DITANGAN ORANG BODOH.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Akhir-akhir ini di sosial media banyak sekali post yang menghujat Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas kerena pernyataan beliau soal hijrahnya warga Palestina. Melihat hal ini sebenarnya harusnya kita miris, karena mereka yang mempost hal tersebut tidak meneliti terlebih dahulu apa yang mereka sebarkan, padahal pernyataan Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas itu sudah disampaikan beberapa tahun yang lalu dan gagasan tersebut sebenarnya difatwakan Syaikh Al Albani sudah lama sekali, dan tidak benar bahwa Syaikh Al Albani menyerukan bahwa rakyat Palestina mengosongkan wilayahnya untuk orang Israel, seperti dijelaskan para murid beliau. Makanya kalau itu dibahas saat ini kayaknya udah telat, dan terlihat motivasi menjatuhkan beliau lebih dominan. Entah karena motivasi iri dan semacamnya akhirnya menjadikan hal tersebut sebagai bahan untuk menyerang Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas.
Terlepas dari soal pro dan kontra soal hijrah ini, apa yang mereka lakukan sebenarnya mempertontonkan bahaya media sosial sebagai penyebar berita bohong kepada khalayak, seseorang yang boleh disebut sumbu pendek dengan sigap dan cepat tersulut emosinya ketika mereka menerima sebuah berita dan kemudian mudah bagi mereka menyebarkan ditengah masyarakat, padahal entah benar entah salah yang penting share, dan mereka tidak memikirkan akibat-akibatnya dikemudian hari.
Jadi teringat kajian Ustadz Abu Zubair Hawaary beberapa tahun yang lalu, ketika itu seorang jamaah bertanya soal hukum sosial media, beliau menjawab, "internet dan sosial media seperti pisau bermata dua, dia tajam kebawah sekaligus tajam keatas, internet dan sosial media dapat mendatangkan mashlahat sekaligus juga mendatangkan mudharat bagi penggunanya. Seperti disampaikan oleh Imam Syafi’i, pisau dapat digunakan untuk kebaikan dan membantu pekerjaan manusia seperti memotong hewan, memasak, dan seterusnya, juga sekaligus pisau dapat digunakan manusia untuk kejahatan seperti merampok atau membunuh manusia lainnya.
 Maka kita wajib bersikap bijak dan berhati-hati dalam menggunakan sarana prasarana seperti Internet dan sosial media, dan mencegah sarana dan prasarana seperti Internet dan sosial media dari perbuatan yang mendatangkan mudharat dan dosa , ini adalah sikap yang terbaik, waallahua'lam. "
Allah berfirman,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].

Wednesday, December 13, 2017

PAKET BUKU SAKU AQIDAH TAUHID 100 RIBU UNTUK 12 BUKU SAKU.


Buku saku paket Aqidah Tauhid, terdiri dari buku penting berkenaan dengan bagaimana bertauhid dengan benar, ini penting karena Aqidah adalah pondasi seseorang dalam beramal ibadah, diantara bukunya yakni :
1. Buku"Tuntunan Praktis Cara Bermanhaj yang benar", karya Syaikh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah.
2. Buku"Bimbingan Islam untuk Pemula", karya Abu Muhammad Ibnu bin Hasbullah.
3.Buku"Cara Praktis Memahami Tauhid dengan Mudah", karya Syaikh Abu Muhammad Ibnu bin Hasbullah.
4.Buku"Apa itu Sunnah?", Karya Syaikh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah.
5.Buku"Jangan Tinggalkan Sunnah", karya Syaikh Azhari Ahmad Mahmud.
6.Buku"Sudah Benarkah Ibadah Saya", karya Syaikh Izzudin Karimi Abu Khair.
7.Buku"Penjelasan Dasar Dua Kalimat Syahadat", karya Syaikh DR.Shalih bin Fauzan al Fauzan.
8.Buku"Ambillah Aqidahmu", karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.
9.Buku"10 Pembatal KeIslaman", karya Syaikh Abu Khalid Nashir bin Sa'd bin Sa'id as-Saif.
10.Buku"Apa itu Bid'ah?", karya Syaikh Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah.
11.Buku"Takwa Sepanjang Hari", karya Syaikh Izzudin Karimi Abu Khair.
12.Buku"Dosa-Dosa dalam Keseharian Kita", karya Syaikh Izzudin Karimi Abu Khair.
Harga 100 ribu(12 buku saku), belum termasuk ongkos kirim, bagi teman-teman yang berminat silahkan hubungi WA 081378517454, semoga menjadi info yang bermanfaat syukron.
By Siswo Kusyudhanto

TERIMA KASIH KEPADA PARA DONATUR


Kami ucapkan banyak terima kasih atas sumbangan yang diberikan para donatur sekaligus pembaca di halaman ini, sumbangan antum sudah sampai kepada tangan yang berhak, yakni para warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Jailolo Halmahera Barat Maluku Utara, semoga menjadi pahala disisi Allah Azza Wa Jalla, aamiin. Paket buku iqro dan Mushaf untuk memfasilitasi kelas bacaan Al-Quran bagi warga binaan(napi), sudah sampai kemarin sore di Lapas Jailolo Halmahera Barat Maluku Utara.
Terima kasih sudah ikut mendukung mereka mencari jalan yang benar serta berusaha istiqomah diatasnya, syukron, jazakumullahu khairan.
Bagi teman-teman yang berminat bersedekah mushaf atau dana silahkan kontak WA 081378517454, semoga menjadi ladang pahala bagi antum semua, aamiin.
Atau jika ingin bersedekah dana silahkan transfer ke rekening an SISWO KUSYUDHANTO DI BANK SYARIAH MANDIRI no 7114465962.

CEPET NIKAH NTAR KEBURU BANYAK DOSA.


Oleh Siswo Kusyudhanto
Ada teman seorang ikhwan yang usianya baru 20 tahun dan ingin menikah namun dihalangi oleh orang tuanya, dengan alasan orang tuanya menolak karena dia masih sangat muda, dan si ikhwan bertanya kepada saya bagaimana menjelaskan kepada orangnya soal ini agar tidak ditolak permintaan dia. Saya kasih saran bilang aja ke orang tua baik-baik, bilang kalau gak mau nambah dosa dengan berpacaran, dan jika dijelaskan demikian insyaallah orang tua mengerti, karena tidak ada orang tua yang membiarkan anaknya masuk neraka, tentu dengan demikian pasti ikut mendukung upaya anaknya menghindari neraka.
Setelah itu dia coba jelaskan kepada orangtua nya demikian, "masa bapak dan ibu saya ingin saya mendapat dosa dengan pacaran?, saya ingin menghindari dosa dengan jalan menikah", dan alhamdulillah melalui penjelasan yang panjang lebar permintaannya untuk segera menikah direstui orang tuanya.
Dalam sebuah kajian Ustadz Syafiq Reza Basalamah mengatakan, " jika di negri kita ada anak remaja tidak punya pacar maka dianggap anaknya gak laku, dan merupakan aib bagi sebagian orang tua. Sedangkan di Arab Saudi para orang tua disana takut anak mereka terlibat dalam dosa, sehingga meskipun anaknya masih remaja mereka para orang tua menikahkannya, bahkan tidak jarang orang tua di Arab Saudi membiayai hidup anaknya yang baru menikah itu semua upaya agar anaknya terhindar dari perbuatan dosa. "
diriwayat-kan oleh al-Bukhari dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu. Ia menuturkan: “Kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemuda yang tidak mempunyai sesuatu, lalu beliau bersabda kepada kami:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.
‘Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).'”-HR. Al-Bukhari (no. 5066) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 1402) kitab an-Nikaah, dan at-Tirmidzi (no. 1087) kitab an-Nikaah.
Sumber referensi "Anjuran untuk segera menikah", oleh Syaikh Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq, di almanhaj.or. Id