Wednesday, July 3, 2019

BUAT BERBEDA DENGAN MEREKA SOAL AKHLAK


Oleh Siswo Kusyudhanto
Untuk kesekian kalinya akun saya hangus, sedih sebenarnya, namun sisi lainnya ada rasa bersyukur, mungkin Allah Ta'ala jadikan ini saatnya untuk bersabar dan bijak menanggapi keadaan seburuk apapun. Mungkin ini pengorbanan kecil dalam dakwah, dan juga perjalanan hidup.
Jadi ingat beberapa tahun yang lalu ketika beberapa akun dan fans page para ustadz pemateri kajian Sunnah di hack dan hangus selama-lamanya sampai hari ini oleh orang-orang yang tidak suka Dakwah Salafiyah berkembang di Indonesia.
Pada saat itu beberapa teman yang giat dalam berdakwah di sosial media sempat marah dan membuka chat room membahas usulan seorang teman untuk membentuk team IT berbasis Dakwah Salafiyah guna mengcounter kelompok orang yang diduga sering menghancurkan akun-akun Dakwah Salafiyah di sosial media. Saat itu sudah ada beberapa teman dari berbagai kota yang sudah ngaji Sunnah dan ahli dalam bidang IT bersedia ikut membantu.
Namun ketika saya tanyakan kepada seorang ustadz tentang hal ini jawabannya justru diluar dugaan saya, beliau mengatakan " kalau akun kalian dirusak orang kemudian kalian balas dengan perbuatan yang sama, lalu apa bedanya kalian dengan mereka soal akhlak?. Kalau perbuatan jahat mereka kalian balas dengan perbuatan jahat yang sama artinya kalian dan mereka sama-sama jahatnya, benar?
Saran saya kalau akun kalian dirusak orang ya sabar, jangan membalasnya, bikin lagi akun yang baru, dan jangan lelah menasehati mereka dan terus doakan, insyaallah yang demikian lebih baik untuk kita dan mereka.
Bikin akhlak kita lebih baik dari mereka."
Nasehat itu kemudian saya sampaikan kepada teman-teman di chat room kami dan semua memahami, dan akhirnya team IT Dakwah Salafiyah tidak pernah terbentuk hingga saat ini.
Semoga Allah Azza wa Jalla selalu memberikan kesabaran kepada kami, aamiin.
Allah Azza wa Jalla berfirman ;
"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)

BOLEH USTADZ AQIQAH DENGAN AYAM ???




Oleh Siswo Kusyudhanto
Dalam sebuah kajian seorang teman bertanya kepada ustadz mengenai hukum aqiqah dengan ayam senilai kambing, karena yang bersangkutan adalah pedagang ayam sehingga punya stock ayam banyak sekali dan akan makan waktu jika harus menjualnya dipasar dan hasil penjualan digunakan untuk membeli kambing, dengan harga ayam semisal 25 ribu per ekor sementara kambing harga 2,5 juta maka dengan 100 ekor ayam sama nilainya cukup dengan satu ekor kambing.
Ustadz tersenyum mendengar pertanyaan tersebut, dan beliau menjawab, syariatnya yang digunakan untuk aqiqah adalah kambing, maka mengikuti syariat insyaAllah lebih benar yaa, dan tidak merubah-rubah syariat Allah dan RasulNya adalah tanda orang yang beriman, karena orang beriman merasa cukup dengan syariat Allah dan RasulNya.
Dari kejadian ini membuktikan betapa liarnya pemikiran manusia untuk merubah-rubah syariat yang sudah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, dan mungkin disana ada peran setan untuk membisikkan kepada hati dan telinga manusia untuk membuat inovasi-inovasi dalam agama, waallahua'lam. 
Itu mungkin sebab kenapa kita diperintahkan Allah dan RasulNya berpegang teguh kepada risalah yang sudah disampaikan oleh keduanya, insyaAllah.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3]
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) menjelaskan, “Ini merupakan nikmat Allah Azza wa Jalla terbesar yang diberikan kepada umat ini, tatkala Allah menyempurnakan agama mereka. Sehingga, mereka tidak memerlukan agama lain dan tidak pula Nabi lain selain Nabi mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla menjadikan beliau sebagai penutup para Nabi dan mengutusnya kepada seluruh manusia dan jin. Sehingga, tidak ada yang halal kecuali yang beliau halalkan, tidak ada yang haram kecuali yang diharamkannya, dan tidak ada agama kecuali yang disyari’atkannya.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).
Sumber Referensi "Islam adalah Agama Sempurna", karya Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas di almanhaj.or

SIAPAKAH WALI ALLAH ???




Oleh Siswo Kusyudhanto.
Kemarin selepas shalat Maghrib kami biasa duduk membicarakan tentang kegiatan dakwah, pada saat itu datang seorang bersorban dan memotong pembicaraan kami, lalu dia berkata, "dalam pertemuan kami di Jakarta, seorang Wali Allah mengatakan perlunya kerja dakwah untuk menyatukan umat ...", Setelah selesai dia menyampaikan orasinya saya bertanya kepadanya, " sebentar mas sebelum berbicara lebih jauh, mohon dijelaskan siapa yang dimaksud dengan Wali Allah?, Apa ciri yang menunjukkan dia seorang Wali Allah?", Lalu dia menjawab, "Wali Allah adalah orang yang rela berkorban berjuang dijalan Allah dengan harta dan jiwanya", lalu saya bertanya lagi, "Apakah jika saya dan teman saya ini berjuang dijalan Allah dengan harta dan jiwa dapat masuk yang disebut dengan Wali Allah?", Mendengar pertanyaan saya dia jawab spontan, "Iya masuk Wali Allah juga", lalu saya bertanya, "Artinya boleh menyebut saya Wali Allah juga?", Mendengar pertanyaan terakhir dia terdiam dan tidak meneruskan bicaranya tentang Wali Allah dan dakwah, dan terlihat dia bingung sendiri dengan jawabannya, SubhanaAllah.
Jadi teringat kajian tentang hal ini oleh Syaikh Abdurrazaq, juga para ustadz kajian Sunnah tentang istilah Wali Allah.
Secara garis besar dari kajian-kajian itu istilah Wali Allah memiliki ciri-ciri yang disebut oleh Allah Ta'ala, dan yang mengetahui siapa Wali Allah atau tidak Wali Allah hanya Allah Ta'ala sendiri yang mengetahui Nya. 
Jadi bukan sesama manusia menyematkan istilah Wali Allah, karena istilah ini berkaitan dengan hal ghaib, yakni tentang amalan, ketakwaan dan keimanan seseorang, dan yang hal ghaib hanya diketahui oleh Allah Azza wa Jalla. Waalahua'lam.
Secara etimologi, kata wali adalah lawan dari ‘aduwwu (musuh) dan muwaalah adalah lawan dari muhaadah (permusuhan). 
Maka wali Allah adalah orang yang mendekat dan menolong (agama) Allah atau orang yang didekati dan ditolong Allah. Definisi ini semakna dengan pengertian wali dalam terminologi Al Qur’an, sebagaimana Allah berfirman,
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang beriman dan selalu bertaqwa.” (Yunus: 62 – 64)
Ibnu Katsir rohimahulloh menafsirkan: Allah Ta’ala menginformasikan bahwa para wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Siapa saja yang bertaqwa maka dia adalah wali Allah (Tafsir Ibnu Katsir, 2/384).
Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh juga menjelaskan dalam Syarah Riyadhus Shalihin no.96, bahwa wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Mereka merealisasikan keimanan di hati mereka terhadap semua yang wajib diimani, dan mereka merealisasikan amal sholih pada anggota badan mereka, dengan menjauhi semua hal-hal yang diharamkan seperti meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang harom. Mereka mengumpulkan pada diri mereka kebaikan batin dengan keimanan dan kebaikan lahir dengan ketaqwaan, merekalah wali Allah.
Sumber Referensi, "Wali Allah, Siapakah Dia?", Karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Msc. Di Muslim.or

MANA MANUALNYA ?



Ini Perpustakaan Masjid Nabai di Madinah, mungkin ada jutaan judul kitab karya ribuan ulama dari jaman awal generasi Islam sampai jaman now, tak satu kalimatpun atau bab dimana ada ulama menulis tata cara tahlil kematian, maulid nabi, haulan dst., lah terus itu amalan nemu dimana ? dan siapa yang pertama kali yang mengamalkan?, jangan-jangan gak tau dan modal ikut-ikutan.
Berilmu sebelum beramal adalah langkah cerdas, waallahua'lam.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. Al-Isra’ : 36)

WASPADA MARAKNYA RIBA ONLINE DI INDONESIA


Oleh Siswo Kusyudhanto
Menurut sumber CNN Indonesia terjadi peningkatan pinjaman online dikarenakan jumlah perusahaan fintech P2P lending terus bertambah. Berdasarkan catatannya, perusahaan yang sudah terdaftar sebanyak 113 perusahaan pinjaman online di negri ini.
Sementara, total peminjam hingga Mei 2019 tercatat sebanyak 8,7 juta orang. Jumlahnya naik sampai 100,72 persen secara year to date jika dibandingkan dengan peminjam 2018 lalu yang hanya 4,35 juta.
SubhanAllah, aneh sekaligus miris kalau lihat data seperti ini, perbuatan riba terus tumbuh di Indonesia yang notebene adalah penduduk nya mayoritas Muslim, dan industri riba tampil dengan bentuk lebih canggih yakni via online.
Ini juga bukti betapa banyaknya umat Islam di Indonesia tidak takut bahayanya riba bagi mereka di dunia apalagi yang buruk adalah akibat kelak di akhirat
Menurut Ustadz Erwandi Tarmizi, jika orang menjambret atau merampok maka yang menjadi korban adalah yang dijambret dan rampok saja, orang yang tidak dijambret atau dirampok pelakunya tidak menjadi korban.
Namun sebaliknya jika ada seseorang melakukan akad kredit riba seperti melakukan pinjaman riba atau mengambil kredit barang dengan cara riba yang menjadi korban adalah seluruh manusia dari sistem keuangan dimana dia tinggal, salah satu akibat masal dari riba adalah inflasi, turunnya nilai uang, jadi mau hidup diperkotaan atau sampai desa terpencil sekalipun selama mereka menggunakan uang yang sama maka akan merasakan akibat dari riba.
Ini sebab kenapa riba diperangi oleh Allah dan RasulNya, karena riba adalah kejahatan diatas semua kejahatan yang dilakukan manusia. Waalahua'lam.
Allah Ta'ala berfirman ;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ . فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.” (Al Baqarah: 278-279)
Foto baliho dakwah di Pekanbaru.

MEREKA TIDAK MAU TAU ALASAN KENAPA NABI MUHAMMAD SHALALLAHU ALAIHI WA SALLAM MENYAMPAIKAN LARANGAN BID'AH


Ini yang gagal paham untuk dipahami banyak orang, ketika Nabi Muhammad Shalallalahu alaihi wa sallam sering memperingatkan umatnya akan bahaya amalan bid'ah, hal tersebut didasari rasa cinta agar umatnya kelak selamat dari azab neraka karena perbuatan bid'ah, jadi bukan karena benci, demikian yang mendasari para ustadz atau pendakwah yang sering mengkaji bahaya bid'ah dan menyampaikan kepada masyarakat juga didasarkan kepada cinta sesama muslim, waallahua'lam
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan,
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867)
sumber referensi muslim,or
By Siswo Kusyudhanto

PERBEDAAN ORANG YANG BERILMU DENGAN YANG TIDAK BERILMU


Oleh Siswo Kusyudhanto
Saya punya dua langganan penjual mie ayam, keadaan keduanya berbeda kalau dilihat dari pelanggannya, satu orang penjual mie ayam tempat jualannya selalu ramai padahal nurut saya rasa mie ayamnya biasa-biasa saja, namun menurut pribadi saya yang bikin nyaman beli disana adalah kemampuan si penjual yang dapat berbahasa daerah seperti bahasa Jawa itu yang bikin saya nyaman, seakan sedang membeli mie ayam kepada teman.
Selain pandai berbicara dalam bahasa Jawa dia juga mampu berbicara dalam bahasa Minang, Sunda dan Batak, MasyaAllah. Mungkin karena hal ini mie ayamnya selalu ramai oleh orang Jawa, Sunda, Minang dan Batak.
Satu lagi penjual mie ayam langganan saya agak sepi, padahal rasa mie ayamnya tidak juga jauh beda dengan penjual mie ayam pertama, namun karena dia tidak ada keistimewaan lain diluar jualannya mungkin ini yang menyebabkan tidak menarik bagi orang untuk datang kesana.
Perbedaan sedikit dalam ilmu membuat hasil yang berbeda, bahkan dalam urusan dunia, waalahua'lam.
Jadi teringat kajian seorang ustadz mengenai fikih memelihara anjing, kata beliau, lihat dari dalil-dalil yang maka dapat kita simpulkan anjing yang berilmu dimuliakan oleh Allah dan RasulNya, hanya anjing yang berilmu yang diperbolehkan dipelihara, sementara anjing yang bodoh dihinakan oleh agama. Jika untuk anjing saja sudah berbeda kedudukannya antara yang berilmu dengan yang bodoh, bagaimana dengan perbedaan antara manusia yang berilmu dengan manusia yang bodoh?, Tentu jauh perbedaan derajat antara manusia yang berilmu dan manusia yang bodoh dalam pandangan Allah Azza wa Jalla, waalahua'lam.
Jadi makin paham pentingnya ilmu dalam kehidupan kita, apalagi jika ilmu itu berkaitan dengan agama yang merupakan investasi bukan saja di dalam kehidupan dunia juga kehidupan akhirat, karena dengan ilmu agama seseorang dapat memilah mana yang hak dan mana yang bathil, dapat mengetahui mana yang Tauhid dan mana yang Syirik, mana yang Sunnah dan mana yang Bid'ah, mana Halal dan mana Haram dan seterusnya.
Maka berinvestasi berupa ilmu yang berkaitan dengan agama insyaallah tidak ada ruginya, waalahua'lam.
Allah Ta’ala berfirman
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah: 11)
Ilmu akan menjadi sebab diangkatnya derajat seseorang yang dikehendaki oleh Allah, yaitu orang-orang yang mengilmui agama yang benar ini dengan baik.
Allah Ta’ala berfirman
هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ
“Apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Sesungguhnya hanya orang yang berakallah yang bisa mengambil pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)
Sumber Referensi "Mencerdaskan diri dengan ilmu syar'i", karya Ummu Zaid di muslimah.or