Friday, April 12, 2019

SULITNYA MENASEHATI ORANG JIKA BERKAITAN DENGAN BID'AH




Oleh Siswo Kusyudhanto
Kata seorang ustadz, mengingatkan seseorang tentang bahaya amalan bid'ah itu ibarat seperti seorang ayah yang sedang menasehati anaknya yang sedang bermain api.
Misal seorang ayah melihat anaknya bermain-main dengan api, kemudian karena kuatir terjadi sesuatu pada anaknya, juga karena sayang pada anaknya dan takut ada bagian tubuh anaknya terbakar api maka si ayah melarang anaknya bermain api, namun disatu sisi si anak yang dilarang menganggap si ayah merusak kesenangannya, si anak merasa ayahnya membencinya, padahal si ayah melarang dan menasehati disebabkan karena sayang kepadanya, dan ini tidak dimengerti oleh si anak karena ilmu tentang hal ini belum sampai kepadanya.
Demikian juga ketika kita menasehati seseorang yang berbuat bid'ah, kebanyakan mereka merasa orang yang menasehati membenci dirinya, padahal nasehat itu disampaikan karena sayang, sebagaimana Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam ketika mengingatkan bahaya bid'ah, alasan disampaikan oleh beliau juga karena didasarkan rasa sayang kepada umatnya, jangan sampai umatnya terlibat dalam kebid'ahan yang dapat menjerumuskan umatnya kedalam neraka, Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam menyampaikan itu bukan didasarkan kepada rasa benci, waalahua'lam.
Sulitnya menasehati seseorang dalam hal yang berkaitan dengan bid'ah juga dirasakan para ulama, bahkan ulama salaf, generasi awal Islam.
seorang Ulama tabiin bernama Sufyan ats Tsauri:
قال وسمعت يحيى بن يمان يقول سمعت سفيان يقول : البدعة أحب إلى إبليس من المعصية المعصية يتاب منها والبدعة لا يتاب منها
Ali bin Ja’d mengatakan bahwa dia mendengar Yahya bin Yaman berkata bahwa dia mendengar Sufyan (ats Tsauri) berkata, “Bid’ah itu lebih disukai Iblis dibandingkan dengan maksiat biasa. Karena pelaku maksiat itu lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid’ah itu sulit bertaubat” (Diriwayatkan oleh Ibnu Ja’d dalam Musnadnya no 1809 dan Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis hal 22).
Faktor terpenting yang mendorong seseorang untuk bertaubat adalah merasa berbuat salah dan merasa berdosa. Perasaan ini banyak dimiliki oleh pelaku kemaksiatan tapi tidak ada dalam hati orang yang gemar dengan bid’ah. Oleh karena itu, bagaimana mungkin seorang pelaku bid’ah bertaubat ketika dia tidak merasa salah bahkan dia merasa mendapat pahala dan mendekatkan diri kepada Allah dengan bid’ah yang dia lakukan.
Allah Ta'ala berfirman ;
أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآَهُ حَسَنًا
“Maka Apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu Dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)?” (Qs. Fathir:8)
Sumber Referensi "Mengapa dosa bid'ah lebih besar dari dosa maksiat", dr web konsultasi Syariah.c

NASEHAT EMAS ULAMA SALAF


Telah Mati Hati Kalian karena Sepuluh Perkara
Suatu hari, Ibrahim bin Adham rahimahullah berlalu melewati pasar Bashrah. Manusia pun berkumpul kepadanya seraya berkata, “Wahai Abu Ishaq, sesungguhnya Allah berfirman dalam kitab-Nya, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagi kalian’. Sudah sekian lama kami berdoa tapi tidak dikabulkan?”
Beliau menjawab,
يَا أَهْلَ الْبَصْرَةِ، مَاتَتْ قُلُوبُكُمْ فِي عَشَرَةِ أَشْيَاءَ، أَوَّلُهَا: عَرَفْتُمُ اللَّهَ ولَمْ تُؤَدُّوا حَقَّهُ، الثَّانِي: قَرَأْتُمْ كِتَابَ اللَّهِ ولَمْ تَعْمَلُوا بِهِ، وَالثَّالِثُ: ادَّعَيْتُمْ حُبَّ رَسُولِ اللَّهِ وَتَرَكْتُمْ سُنَّتَهَ، وَالرَّابِعُ: ادَّعَيْتُمْ عَدَاوَةَ الشَّيْطَانِ وَوَافَقْتُمُوهُ، وَالْخَامِسُ: قُلْتُمْ نُحِبُّ الْجَنَّةَ ولَمْ تَعْمَلُوا لَهَا، وَالسَّادِسُ: قُلْتُمْ نَخَافُ النَّارَ وَرَهَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِهَا، وَالسَّابِعُ: قُلْتُمْ إِنَّ الْمَوْتَ حَقٌّ وَلَمْ تَسْتَعِدُّوا لَهُ، وَالثَّامِنُ: اشْتَغَلْتُمْ بِعُيُوبِ إِخْوَانِكُمْ وَنَبَذْتُمْ عُيُوبَكُمْ، وَالتَّاسِعُ: أَكَلْتُمْ نِعْمَةَ رَبِّكُمْ ولَمْ تَشْكُرُوهَا، وَالْعَاشِرُ: دَفَنْتُمْ مَوْتَاكُمْ وَلَمْ تَعْتَبِرُوا بِهِمْ
“Wahai penduduk Bashrah, hati kalian telah mati pada sepuluh perkara,
Pertama, kalian mengenal Allah tapi tidak menunaikan hak-Nya.
Kedua, kalian membaca Al-Qur’an, tapi kalian tidak mengamalkannya.
Ketiga, kalian mengaku mencintai Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, tapi kalian meninggalkan sunnahnya.
Keempat, kalian mengaku memusuhi syaithan, tapi kalian mencocokinya.
Kelima, kalian mengatakan bahwa kami mencintai surga, tapi kalian tidak beramal untuk (memasuki)nya.
Keenam, kalian mengatakan bahwa kami takut dari neraka, tapi kalian menggadai diri-diri kalian untuk neraka.
Ketujuh, kalian mengatakan bahwa kematian adalah benar adanya, tapi kalian tidak bersiap untuknya.
Kedelapan, kalian sibuk membicarakan aib-aib saudara-saudara kalian, sedang kalian mencampakkan aib-aib kalian sendiri.
Kesembilan, kalian memakan nikmat-nikmat Rabb kalian, tapi kalian tidak menunaikan kesyukuran kepada-Nya.
Kesepuluh, kalian telah mengubur orang-orang mati kalian, tapi kalian tidak mengambil pelajaran darinya.”
[Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilayatul Auliyâ` 8/15-16. Disebutkan juga oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jâmi Bayân Al-‘Ilm no. 1220, Asy-Syâthiby dalam Al-I’tishâm 1/149 (Tahqîq Masyhûr Hasan), dan Al-Absyîhy dalam Al-Mustathraf 2/329.]
Dikutip dari dzulkarnain.nt

Friday, April 5, 2019

KENAPA SERING KALI ORANG YANG RAJIN BERAMAL IBADAH MUNCUL SIKAP SOMBONG ?




Oleh Siswo Kusyudhanto
Kadang ketemu teman yang sudah sangat rajin beramal ibadah dan berhasil menjauhi segala larangan Allah dan RasulNya seperti maksiat, bid'ah dan kesyirikan namun muncul sikap sombong pada dirinya, jika dulu sebelum hijrah dia sangat ramah kepada setiap orang maka sekarang setelah hijrah kepada ketaatan dan rajin beramal ibadah justru hanya orang tertentu saja dia bersikap ramah.
Dalam sebuah kajian seorang ustadz menyebutkan, jika setan menjebak orang awam, yakni orang-orang yang jauh dari ilmu agama dengan cara menjebak mereka kepada perbuatan maksiat, bid'ah dan kesyirikan, maka setan melakukan jebakan yang berbeda kepada orang yang sudah hijrah, sudah memahami ilmu agama dan dalam kesehariannya taat beramal ibadah, untuk kelompok ini setan menjebak mereka kepada dosa dengan perbuatan riya'(ingin dipuji orang lain atas amal ibadahnya) dan ujub(sombong dengan amal ibadahnya).
Maka perlu kita yakinkan kepada diri sendiri bahwa kemampuan kita dalam melakukan amal ibadah, kemudian rasa takut berbuat maksiat, bid'ah dan kesyirikan semata-mata hanya karena rahmat Allah Ta'ala, bukan karena kemampuan diri kita. Dan disyariatkan kepada kita selalu meminta hidayah kepada Allah setiap saat, minimal 17 kali sehari dalam shalat kita ketika membaca Surat Al Fatihah, " Tunjukkan kami jalan yang lurus".
Dengan pemahaman bahwa amal ibadah serta ketatatan kita murni atas Rahmat Allah Ta'ala, insyaAllah kita dijauhkan dari sikap riya' dan ujub, waallahua'lam.

ADA YANG LEBIH BURUK, TAPI MEREKA MAU MEMPERBAIKI DIRI


Oleh Siswo Kusyudhanto
Kalau ada seorang teman mengeluh akan perbuatan dosanya dimasa lalu kemudian dia berputus asa, karenanya dia sangat yakin masuk neraka dan mustahil ada peluang masuk surga, saya lalu katakan, "saya tidak lebih baik dari antum, dosa saya dimasa lalu juga bukan sedikit, namun saya yakin selalu ada Rahmat Allah Ta'ala atas diri kita jika ada keinginan untuk memperbaiki diri, InsyaAllah."
Juga saya memberikan contoh beberapa teman lain yang mungkin perbuatan dosanya dimasa lalu sangat buruk dimata banyak orang pada umumnya namun mereka bertaubat dan punya semangat untuk memperbaiki diri.
Saya pernah bertemu teman yang sudah belasan tahun berzina dengan pasangan kumpul kebo nya, memakai narkoba dan segala kejahatan pernah dia lakukan, namun sekarang sudah taubat, saat ini dia sangat taat dalam beramal ibadah dan menjauhi segala maksiat, dan dalam doanya selalu memohon ampunan Allah Ta'ala atas dosanya dimasa lalu. Dia juga sangat suka duduk di kajian para ustadz, selain itu juga membaca buku-buku berbasis Sunnah untuk menjadi bekalnya dalam beramal.
Ada juga pernah bertemu seorang akhwat yang dimasa lalu tenggelam dalam kehidupan malam, free sex dan alkohol jadi kebiasaan dimasa lalu, namun saat ini dia juga bertaubat, menjaga diri berinteraksi dengan lawan jenis, memakai hijab lebar dan bercadar, sering datang kajian dan juga memperbaiki bacaan Al-Qur'an nya, dan dia selalu berdoa mengharapkan ampunan Allah Ta'ala.
Tato di salah satu bagian tubuhnya menjadi pengingat akan dosanya dimasa lalu dan membuat dirinya makin semangat memperbaiki diri jika melihatnya..
Dan mungkin banyak contoh orang yang demikian buruk tenggelam dalam kemaksiatan kemudian mereka bangkit lalu berusaha sekuat tenaga memperbaiki diri dan bersandar kepada Allah Ta'ala untuk kehidupan dimasa depan.
Seperti dituturkan seorang ustadz, manusia selain nabi dan rasul pasti berdosa, maka karena setiap manusia pasti berdosa tinggal sikap kita dalam menghadapi hal ini, dan berputus asa terhadap Rahmat Allah Ta'ala hukumnya terlarang, kita wajib mengharapkan Rahmat Allah Ta'ala sebesarnya apapun dosa yang pernah kita lakukan, dengan demikian kita punya semangat memperbaiki diri dan terus bertaubat atas dosa dimasa lalu.
Waalahua'lam.
Allah Ta'ala berfirman :
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).”
(QS. Az Zumar: 53-54).
Sumber Referensi rumoysho.c

LIHAT DARIMANA ENGKAU MENGAMBIL ILMU !


Oleh Siswo Kusyudhanto
Saya bingung lihat majelisnya seorang dokter Muslimah, padahal setau saya dia belum pernah diketahui belajar akademis dalam ilmu agama seperti para ustadz lulusan Universitas Islam Madinah, Al Azhar Mesir, atau Darul Hadits Yaman atau lainnya, namun kajiannya dihadiri ribuan orang, itu yang disampaikan apa yaa?.
Jadi ingat nasehat seorang ustadz, bahwa kepandaian seseorang beretorika, pintar dalam argumentasi dan sejenisnya belum menjadi jaminan dia orang yang berilmu dan layak diambil ilmunya. Karenanya ulama terdahulu (salaf) selalu meneliti orang yang akan diambil ilmunya, karena sembarangan mengambil ilmu dapat menggadaikan amal ibadah kita, atau juga bahkan Aqidah kita.
Waalahua'lam.
Imam kota Madinah di jamannya, Imam Malik bin Anas rahimahullah, menjelaskan hal ini dengan lebih rinci dalam ucapan beliau, “Tidak boleh mengambil ilmu (agama) dari empat (type manusia) dan boleh mengambil ilmu dari selain mereka; Tidak boleh mengambil ilmu dari mubtadi’ (ahli bid’ah) yang mengajak (orang lain) kepada bid’ahnya; Tidak boleh mengambil ilmu dari orang dungu yang menampakkan kedunguannya terang-terangan; Tidak boleh mengambil ilmu dari orang yang selalu berdusta ketika berbicara dengan orang lain, meskipun dia jujur dalam (menyampaikan) hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ; Dan tidak boleh mengambil ilmu dari orang yang tidak mengetahui (ahli dalam) ilmu agama.”
Imam Ibnu Sirin –rohimahulloh-:
“Dahulu para ulama salaf tidak menanyakan tentang sanad, lalu ketika terjadi fitnah, mereka pun mengatakan: ‘sebutkan kepada kami orang-orang (sumber ilmu) kalian!’, maka jika dilihat orang tersebut ahlussunnah; haditsnya diterima, dan jika dilihat orang tersebut ahli bid’ah; haditsnya tidak diterima”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/15).
Beliau juga mengatakan dalam pesannya yang masyhur:
“Sungguh ilmu ini adalah agama kalian, maka lihatlah darimana kalian mengambil agama kalian”. (Muqoddimah Shahih Muslim 1/14).
Allah Ta'ala berfirman :
يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا﴿٦٦﴾وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا﴿٦٧﴾رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا
Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya, andaikata kami dulu taat kepada Allâh dan taat (pula) kepada Rasul.’
Dan mereka berkata, ‘Ya Rabb kami! Sesungguhnya kami dulu telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).
Wahai Rabb kami! Timpakanlah kepada mereka dua kali lipat dari adzab dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.’ [Al-Ahzab/33:66-68]
Sumber "Referensi Ekstra Hati-Hati Dalam Menjadikan Seseorang Sebagai Rujukan Beragama"
Dr. Musyaffa Addariny, Lc., M.A. di web muslim.or

MEREKA ASING DENGAN PERKATAAN NABINYA SENDIRI




Oleh Siswo Kusyudhanto
Di sampaikan seorang ustadz tentang kejadian yang pernah dialaminya, pada suatu saat ketika diminta mengisi khutbah Jum'at disebuah Masjid beliau di minta oleh pengurus masjid itu untuk ketika menyampaikan khutbah diawal materi jangan menyebutkan hadits larangan berbuat bid'ah yakni "Kullu bidatin Dhollah", mereka meminta ustadz untuk menghilangkan lafadz ini dengan alasan dapat meresahkan warga setempat, SubhanaAllah.
Miris mendengar hal tersebut, bagaimana tidak? Dalam amalan khutbah Jum'at sebenarnya disunnahkan untuk mengingatkan bahaya berbuat bid'ah kepada umat Islam dengan menyampaikan hadits tersebut, namun Umat Islam sendiri yang mengingkari hal tersebut.
Padahal hadits "Kullu bidatin Dhollah" itu adalah perkataan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam yang mulia, ini bukan karangan ustadz, Syaikh atau manusia lainnya, beliau Shalallahu alaihi wa Sallam memperingatkan umat Islam karena didasarkan kasih sayang kepada pengikutnya agar umat Islam tidak melakukan amalan-amalan bid'ah dan juga mengancam mereka kepada kesesatan yang juga ujungnya kepada azab neraka.
Sungguh miris melihat keadaan umat Islam dijaman ini, mereka mengaku Cinta Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam, juga membutuhkan syafa'at beliau kelak di Padang Mahsyar, namun disisi lain ingkar kepada perkataan beliau bahkan terkesan memusuhinya. Ini umat model apaan?.
Bahkan banyak persepsi dikalangan masyarakat awam, yang namanya dakwah santun dan beradab adalah tidak membicarakan perkara2 yang berkaitan dengan syirik dan bid'ah, ini sungguh hasil tipuan setan dan disebarkan oleh orang munafik agar orang banyak bodoh dalam pengetahuan bahaya syirik dan bid'ah, dengan kebodohan umat ini, Tampa sadar akhirnya mereka Istiqomah dalam kesyirikan dan kebid'ahan, dan seperti kita ketahui keduanya adalah tiket seseorang menuju neraka, waalahua'lam.
Padahal seperti disebutkan seorang ustadz, jika Syirik dan Bid'ah mengancam Syahadat seorang Muslim, karena syahadat memuat Tauhid dan Sunnah, sementara lawannya adalah Syirik dan Bid'ah.
Ketika seorang ustadz menjelaskan hadits larangan berbuat bid'ah, beliau mengatakan, sudah menjadi kelebihan yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam bahwa beliau memiliki pengetahuan akan datangnya jaman penuh fitnah, juga terjadi amalan-amalan bid'ah dikalangan umatnya sendiri dikemudian hari, dan dalam menghadapi hal ini pesan beliau adalah untuk selalu menggigit Sunnah beliau juga Khulafaur Rasyidin dengan "gigi geraham" kita jika ingin selamat, kenapa gigi geraham?, Kenapa tidak gigi seri atau gigi taring?, Beliau menganalogikan gigi geraham untuk menggigit Sunnah beliau dan juga Khulafaur Rasyidin, seperti kita ketahui gigi geraham letaknya paling belakang didalam ruang mulut kita, jika seseorang menggigit sesuatu dengan gigi geraham maka tentu sangat sulit ditarik keluar, jika sesuatu itu dipaksa ditarik maka nyawa pemilik gigi sebagai taruhannya. 
Sebaiknya jika seseorang menggigit sesuatu dengan gigi taring maka menarik keluar sangat mudah dan tidak mengancam nyawa si pemilik gigi.
Semoga kita termasuk orang-orang yang kuat dalam menggigit Sunnah Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam dan Khulafaur Rasyidin dengan gigi geraham kita, hanya dengan demikian kita selamat dari fitnah yang banyak tersebar disekeliling kita, waalahua'lam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ ، وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَ فًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اْلمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِي، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla, dan untuk mendengar serta taat (kepada pimpinan) meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Sesungguhnya, barangsiapa yang berumur panjang di antara kalian (para sahabat), niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafa’ur Rasyidun –orang-orang yang mendapat petunjuk- sepeninggalku. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian, jangan sekali-kali mengada-adakan perkara-perkara baru dalam agama, karena sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat”. [HR Abu Dawud dan Tirmidzi]

JANGAN HIJABMU JADI KORBAN YAA UKTHI



Oleh Siswo Kusyudhanto

Ada seorang ibu penjual kue yang saya kenal mengeluh atas salah satu pelanggannya, kata-kata yang tidak enak didengar ketika beliau mengatakan, "padahal hijabnya sudah lebar, tapi kalau soal hitungan uang sering tidak jujur", atau pernah juga ada orang lain mengeluh soal temannya, " Padahal sudah berhijab dan bercadar, namun giliran ditagih hutangnya selalu mundur dan mundur", atau mungkin kita temui seorang Muslimah sudah berhijab lebar dan bercadar namun suka bergaul bebas dengan bukan mahram baginya, dan mungkin banyak contoh kejadian seperti ini, SubhanaAllah.

Dalam sebuah kajian seorang ustadz mengatakan, ketika seorang muslimah mulai menggunakan hijab lebar atau mungkin diikuti denga bercadar maka seharusnya dia juga mengikuti dengan memperbaiki akhlaknya, jangan secara fisik dia berubah menjadi lebih baik dengan menutup aurat sesuai syariat namun disisi lain soal akhlak masih sama dengan sebelumnya yakni masih suka ghibah(gosip), suka namimah(adu domba) atau keburukan akhlak lainnya.

Karena jika seseorang Muslimah memperbaiki penampilan dirinya dengan hijab lebar dan bercadar kemudian dia tidak mengikuti dengan memperbaiki akhlaknya maka kemungkinan besar hijabnya malah menjadi fitnah baginya. Oleh sebabnya Islam mengatur sesuatu secara luar(fisik) dan dalam(batin/akhlak) bukan salah satu saja diperbaiki.
Waalahua'lam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1941. Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 2201.)

Referensi web Muslim.or