Sunday, June 4, 2017

Tidak ada perintah menegakkan khilafah tapi yang ada menegakkan Aqidah Tauhid.


Kalau lihat ada teman bersemangat memposting tentang kewajiban setiap muslim menegakkan khilafah, jadi ingat kajian Ustadz Maududi Abdullah, kata beliau, " tidak ada satupun Nabi atau Rasul diperintahkan oleh Allah untuk menegakkan pemerintahan atau kesultanan, semua Nabi dan Rasul diperintahkan oleh Allah Azza Wa Jalla untuk menegakkan Aqidah Tauhid. Karena dengan Aqidah Tauhid maka hal lain seperti syariat yang sesuai tauhid akan tegak dengan sendirinya, seperti juga khilafah(kekuasaan yang sesuai syariat Islam) akan mengikuti dengan sendirinya, itu janji Allah, dan janji Allah adalah pasti benar."
Alloh Azza wa Jalla berfirman:
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Alloh (saja), dan jauhilah Thaghut itu’, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Alloh dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-Nahl: 36)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku” [An-Nur : 55]
Istikhlaf dan Tamkin (kekuasaan dan kemenangan) adalah sebuah janji dari Allah bagi orang-orang beriman yang berusaha.
Sumber referensi "Kejayaan milik Islam", oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin Id Al-Hilali di web almanhaj.or.id.co

Akibat beragama ikut-ikutan.


Ada sebuah Masjid disebuah desa berencana mengadakan kajian ilmu agama, mereka berencana menghadirkan pembicara seorang ustadz dari kota, maka takmir masjid membuat undangan dan disebarkan kepada warga desa setempat agar dapat ikut hadir dan mendapat ilmu agama dari kajian ini.
Pada jam dan hari yang ditentukan warga bergantian datang ke masjid itu, namun karena kebanyakan diantara mereka ingin hadir karena motivasinya ikut-ikutan bukan karena mencari ridho Allah dan ilmu maka ketika ditengoknya kedalam masjid nampak sepi dan tidak ada temannya hadir didalamnya diapun segera membalikkan badan dan menaiki motornya pulang kerumah. Hal ini terjadi sampai kepada orang ke 100, setiap diantara mereka melihat masjid sepi dia segera balik badan dan pulang, akhirnya sampai satu jam terlambat dari jadwal diadakannya kajian ilmu agama masjid itupun tetap sepi, padahal seandainya mereka hadir ke kajian ilmu dimotivasi karena mencari ridho Allah dan keinginan menimba ilmu sehingga mau tinggal di dalam masjid mau ada temannya ataupun tidak mungkin dalam waktu sekejap masjid itu sudah penuh oleh jamaah.
Semoga cerita ini dapat menjadi pelajaran bagi kita pentingnya beragama dengan didasari keikhlasan mendapatkan ridho Allah, sementara beragama ikut-ikutan akan menjerumuskan kita kepada keterpurukan dan kebodohan, waallahua'lam.
Cerita dikutip dr Ustadz Ali Ahmad

Jangan jadi fans orang munafik !


Dalam banyak media akhir-akhir​ ini banyak didengung-dengungkan soal keberagaman, dan hal seperti ini banyak orang mendukung, termasuk umat muslim tampa mengetahui sebenarnya bagaimana keragaman dalam kaidah yang benar menurut agama Islam. Sehingga banyak diantara mereka terjebak hakekat keberagaman menyimpang yakni keberagaman menurut pandangan kaum liberalism, sehingga dengan mudah seorang muslim mengatakan "agama itu sama saja", atau "dalam beragama tidak boleh fanatik", atau juga "tidak ada kebenaran mutlak", subhanallah.
Jadi ingat kajian Ustadz Ali Ahmad, beliau mengatakan, " salah satu ciri yang melekat kepada pemikiran kaum liberal adalah selalu mengatakan bahwa tidak ada kebenaran mutlak, semua kebenaran adalah relatif menurut pandangan tiap orang, maka kalau menurut sebagian orang benar belum tentu benar menurut orang lain. Namun anehnya mereka sering menyanggah dan menyalahkan sebuah pendapat, semisal mengatakan, - Ustadz antum salah-, ini sebenarnya mereka Tampa sadar sudah mengakui adanya kebenaran mutlak, karena Tampa adanya ukuran kebenaran tentu tidak ada dasar sama sekali dalam menyalahkan sebuah perkara. Padahal dalam Islam kebenaran mutlak adalah Al-Quran dan As Sunnah, sudah ditegaskan Allah sendiri diBanyak ayat, dan Allah jamin dengan berpegang kepada keduanya pasti selamat di dunia dan akhirat, waallahua'lam."
Namun anehnya gaya pemikiran liberal selalu jadi idola baik di media televisi atau media online lainnya, menunjukkan kecenderungan umat muslim kita berfikir condong ke arah liberal, lihat bagaimana tingginya ratting acara diskusi atau talk show dengan gaya liberal, atau karya tulis soal keragaman dengan pandangan liberal dan seterusnya.
Semoga selamat dari fitnah kaum liberalism, aamiin.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” [Al-Ahzaab: 36]
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
“Dan Allah telah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur-an) dan Hikmah (As-Sunnah) kepadamu.” [An-Nisaa’: 113]
وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
“Dan Allah telah mengajarkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur-an) dan Hikmah (As-Sunnah).” [Al-Baqarah: 129]
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur-an, agar engkau menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” [An-Nahl: 44]
Pada firman-Nya yang lain:
وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ ۙ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur-an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” [An-Nahl: 64]
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“Dan apa yang diperintahkan Rasul kepadamu, maka ambillah. Dan apa yang dilarang, maka jauhilah.” [Al-Hasyr: 7]
Sumber referensi almanhaj.or.id.co

Thursday, June 1, 2017

Hati-hati praktek judi di Bulan Ramadhan.!!!



Dalam sebuah kajian Ustadz Maududi Abdullah membahas tentang sebuah perbuatan maksiat yang dibungkus-bungkus sedemikian rupa sehingga nampak seakan bukan maksiat, kata beliau, " Membungkus kemaksiatan dengan bungkus dengan nama-nama indah, memberi nama yang bukan maksiat padahal sangat nyata adalah maksiat, adalah jelas pekerjaan iblis. Semisal ketika Bulan Ramadhan sering muncul undian atau kupon hadiah, atau apapun namanya dengan iming-iming hadiah harian ataupun mingguan, mereka memberi nama indah dengan memberi nama undian berhadiah di Bulan Ramadhan dan semacamnya, dan akibatnya banyak umat muslim di negri kita ini tertarik dan ingin mengikutinya, andai mereka memberi nama aslinya yakni JUDI DI BULAN RAMADHAN, mungkin banyak diantara kita enggan untuk mengikutinya. Ini sebenarnya permainan judi, lihat misal setiap sms premium atau setiap keikutan sertaan, setiap orang harus mendaftar dengan sejumlah uang sebesar 100-2000 rupiah dengan hadiah harian semisal sebuah sepeda motor, jika sebagian saja penduduk di negri ini mengikuti undian tersebut katakanlah 1,5 juta orang ( penduduk Indonesia sudah sekitar 300 jutaan), maka keuntungan operator judi adalah 1000 rupiah x 1, 5 juta orang, dan keuntungan yang didapat adalah 1,5 milyar rupiah, dengan keuntungan sebesar itu untuk mengeluarkan sebagian dana membeli sepeda motor bagi pemenang harian tidaklah terlalu berat. Maka berhati-hatilah terhadap judi dibulan Ramadhan !!!.

Allah Azza Wa Jalla berfirman :

ﻭَﻻَ ﺗَﻠْﺒِﺴُﻮﺍْ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﺑِﺎﻟْﺒَﺎﻃِﻞِ ﻭَﺗَﻜْﺘُﻤُﻮﺍْ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ

Artinya:


“ Janganlah kamu campur-adukkan antara kebenaran dan kebatilan, dan kamu sembunyikan yang benar padahal kamu mengetahuinya. “ ( Qs Al -Baqarah : 42 )

Level malu paling tinggi, malunya orang beriman.


Dalam sebuah kajian Ustadz Abu Haidar As Sundawy mengatakan, " jika seseorang ada seseorang takut melakukan sebuah perbuatan maksiat karena mengetahui dosa dan azab kelak yang akan dia terima di akhirat, maka dalam tingkatan yang lebih tinggi adalah seseorang malu ketika melakukan perbuatan maksiat. Seseorang yang malu berbuat maksiat karena dia sudah merasa diberikan banyak nikmat, namun malu baginya untuk menggunakan nikmat itu dalam bermaksiat kepada Allah Azza Wa Jalla. Dia merasa diawasi terus menerus oleh Allah Azza Wa Jalla dimana pun dia berada, baik ada orang atau tidak, baik ada cctv ataupun tidak cctv, baginya berbuat maksiat wajib dia hindari. Sama hal misal yang sering saya contohnya, kita punya tetangga yang baik banget, sering memberi makanan dan menolong kita, jika kita pinjam mobil kepadanya maka dia beri sopir, bensin full, uang toll sampai uang untuk pak ogah juga dikasih, tentu kita menjaga diri kepada tetangga itu agar tidak membuatnya kecewa, kita akan berbuat sebaik mungkin kepadanya agar jangan sampai membuat dia kecewa. Jika kepada seseorang yang berbuat baik kepada kita wajib menjaga hubungan baik kepadanya maka hukumnya wajib berbuat baik kepada zat yang super baik dan Maha baik yakni Allah, karena Allah memberikan banyak hal kebaikan kepada kita, mulai dari dalam tubuh kita seperti paru-paru yang berjalan normal, jantung yang berjalan normal, limpa, hati, ginjal dan seterusnya. Jika salah satu saja dalam tubuh kita gagal berfungsi itu jadi masalah besar buat kita, namun Alhamdulillah itu berjalan normal, kebaikan bagi kita yang tidak terkira, dan masih banyak hal baik yang diberikan Allah kepada kita yang tidak terhitung jumlahnya."
Allah Azza Wa Jalla berfirman :
"Kalian sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulit kalian terhadap kalian, tetapi kalian mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kalian kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangka kalian yang telah kalian sangka terhadap Rabb kalian, prasangka itu telah membinasakan kalian, maka jadilah kalian termasuk orang-orang yang merugi”. [Fushshilat/41 : 22-23].
Ibnul-A’rabi berkata: “Orang yang paling merugi, ialah yang menunjukkan amal-amal shalihnya kepada manusia dan menunjukkan keburukannya kepada Allah yang lebih dekat kepadanya dari urat lehernya”
Sumber referensi,"MENGAWASI DIRI SENDIRI"
OlehDr. ‘Abdul-Qayyum as-Suhaiban, diweb almanhaj.or.id
_________________________
"Diawasi terus menerus"
Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah di edisi Majalah Atsyariah
Muraqabah, ( Merasa diawasi oleh Allah secara terus menerus).
Muraqabah memiliki dua sisi:
Engkau selalu menghadirkan perasaan diawasi oleh Allah subhanahu wa ta’ala, engkau selalu mawas diri, memerhatikan dirimu yang engkau sadar dirimu senantiasa diawasi oleh-Nya.
Engkau percaya bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengawasimu, sebagaimana firman-Nya,
وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ رَّقِيبٗا ٥٢
“Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.” (al-Ahzab: 52)
Dengan muraqabah ini, engkau yakin bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui segala tindak tandukmu, apakah itu ucapanmu, perbuatanmu, ataupun keyakinan yang tersembunyi dalam kalbumu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ٢١٧ ٱلَّذِي يَرَىٰكَ حِينَ تَقُومُ ٢١٨ وَتَقَلُّبَكَ فِي ٱلسَّٰجِدِينَ ٢١٩
“Bertawakallah engkau kepada Dzat Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Yang Dia melihatmu ketika engkau berdiri (melakukan ibadah). Dan Dia melihat gerak-gerikmu di antara orang-orang yang sujud.” (asy-Syu’ara: 217—219)
Allah subhanahu wa ta’ala melihat apa yang engkau lakukan di tengah malam yang gulita saat tidak ada seorang pun melihat dirimu. Saat engkau berdiri untuk ibadah kepada-Nya, Dia tahu. Saat engkau sujud, Dia pun tahu.
Dengan muraqabah, engkau yakin Allah subhanahu wa ta’ala mendengar semua yang terucap oleh lisanmu. Karena itu, engkau jaga lisanmu agar tidak berucap kecuali kebenaran atau diam, sebagaimana bimbingan agung sang Rasul yang agung shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau hendaknya dia diam.”
Dengan muraqabah, engkau jaga pandangan matamu agar tidak melihat sesuatu yang diharamkan walau sembunyi-sembunyi. Sebab, engkau yakin dengan firman-Nya,
يَعۡلَمُ خَآئِنَةَ ٱلۡأَعۡيُنِ وَمَا تُخۡفِي ٱلصُّدُورُ ١٩
“Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang tersimpan dalam dada.” (Ghafir: 19)
Dengan muraqabah, engkau selalu memerhatikan kalbumu. Adakah di dalamnya penyakit yang harus dibasmi seperti syirik, riya, penyimpangan, iri dengki, benci, amarah, loyal kepada orang kafir, dan semisalnya, yang tidak Allah subhanahu wa ta’ala ridhai?
Engkau selalu memerhatikan kalbumu dan berusaha memperbaikinya. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ وَنَعۡلَمُ مَا تُوَسۡوِسُ بِهِۦ نَفۡسُهُۥۖ
“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya.” (Qaf: 16)
Bagaimana pun rapatnya engkau menyimpannya, di sudut hatimu yang paling dalam, Allah subhanahu wa ta’ala pasti mengetahuinya. Jangankan yang ada di kalbu, semua yang di bumi dan di langit, tidak ada yang tersembunyi bagi Allah subhanahu wa ta’ala.
Dia Yang Mahaagung berfirman,
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَخۡفَىٰ عَلَيۡهِ شَيۡءٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ ٥
“Sesungguhnya bagi Allah, tidak ada sesuatu pun di bumi dan tidak pula di langit yang tersembunyi bagi-Nya.” (Ali Imran: 5)
Segala sesuatu yang di bumi dan di langit itu ada yang dirinci-Nya sebagaimana dalam ayat berikut,
وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۚ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةٖ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبٖ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ ٥٩
“Di sisi-Nyalah kunci-kunci perbendaharaan yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan. Tidak ada selembar daun pun yang jatuh kecuali Dia mengetahuinya, tidak pula biji dalam kegelapan bumi, tidak pula yang basah dan tidak pula yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (al-An’am: 59)

Mau dapat "like" dari Allah Azza Wa Jalla?, Berbuatlah ikhlas.


Sering kita bikin postingan yang mendapat banyak like dari teman atau orang lain, dan kita senang karena posting kita artinya diperhatikan dan ada manfaat bagi yang membaca atau melihatnya, namun tahukah anda bahwa "like" yang paling berharga jika yang men"like"nya adalah Allah Azza Wa Jalla, karena jika "like" datangnya dari Allah Azza Wa Jalla pasti bernilai pahala yang sangat bernilai.
Betapa bahagianya seseorang yang melakukan sesuatu mendapatkan"like" dari Allah Azza Wa Jalla, Tuhan yang menciptakan dan memiliki diri kita.
Dalam sebuah kajian Ustadz Abu Haidar As Sundawy mengatakan, " berbuat ikhlas dalam beramal ibadah pasti mendapatkan apresiasi dari Allah Azza Wa Jalla, dapat berupa like dan pahala dariNya, karena ikhlas adalah amalan hati yang paling tinggi dimata Allah Azza Wa Jalla. Seseorang yang yang mampu berbuat ikhlas dalam amal ibadahnya dia akan tetap Istiqomah dalam melakukan amal ibadahnya meskipun ada orang yang melihatnya ataupun ketika sendirian, mau ada cctv ataupun tidak cctv dia sama bagusnya dalam melakukan amal ibadah. Namun mendasari ikhlas dalam amal ibadah bukan hal mudah, karena hati manusia sering dibolak balikkan, yang semula mungkin ikhlas melakukan sesuatu kemudian karena sebab tertentu dia menjadi riya', berharap disukai dan dipuji orang disekelilingnya dan sebaliknya."
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berpendapat, arti ikhlas karena Allah ialah, apabila seseorang melaksanakan ibadah yang tujuannya untuk taqarrub kepada Allah dan mencapai tempat kemuliaanNya.
Masalah ikhlas merupakan masalah yang sulit, sehingga sedikit sekali perbuatan yang dikatakan murni ikhlas karena Allah. Dan sedikit sekali orang yang memperhatikannya, kecuali orang yang mendapatkan taufiq (pertolongan dan kemudahan) dari Allah. Adapun orang yang lalai dalam masalah ikhlas ini, ia akan senantiasa melihat pada nilai kebaikan yang pernah dilakukannya, padahal pada hari kiamat kelak, perbuatannya itu justru menjadi keburukan. Merekalah yang dimaksudkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَبَدَا لَهُم مِّنَ اللهِ مَالَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ وَبَدَا لَهُمْ سَيِّئَاتُ مَاكَسَبُوا وَحَاقَ بِهِم مَّاكَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِءُونَ
Dan jelaslah bagi mereka adzab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.Dan jelaslah bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat … [Az Zumar : 47-48]
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِاْلأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
Katakanlah:”Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. [Al Kahfi : 103-104].
Referensi Dr "Pengertian Ikhlas" oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas di web almanhaj.or.id.co

Sudah kaya tapi merasa miskin terus.


Dalam sebuah kajian seorang jamaah bertanya kepada Ustadz Maududi Abdullah tentang dimana batas seseorang dikatakan kaya, ustadz menjawab, " secara syariat batas seseorang dikatakan kaya adalah kebutuhan makan sehari dirinya, antum tau berapa kebutuhan makan seseorang dalam sehari?, Coba tanyakan kepada ahli kesehatan, menurut mereka kebutuhan makanan agar seseorang dapat hidup hanya satu setengah piring makanan, maka melewati satu setengah piring makanan adalah orang kaya. Dan dengan demikian antum yang makan tiga kali sehari masuk dalam kelompok orang kaya. Namun karena syahwat dan cinta dunia banyak orang yang sudah makan sehari tiga kali merasa dirinya termasuk orang miskin, sejatinya dia termasuk orang kaya. Padahal sekaya apapun makanan yang masuk kedalam perutnya juga tidak lebih dari tiga piring makanan, jika dia mau nambah mungkin satu atau dua piring setelah itu, tidak lebih. Apakah kalau sudah kaya sekali makan 20 bungkus nasi dan ayam goreng hanya sekali makan?, Tentu tidak dapat dia lakukan. Maka sudah cukup makan buat antum dalam sehari, saat itulah antum sudah masuk orang kaya, waallahua'lam."
Ukuran kecukupan menurut Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut,
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
“Barangsiapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya.” (HR. Tirmidzi; dinilai hasan oleh Al-Albani)