Mendakwahkan As Sunnah, mengkikis kesesatan dan melawan paham radikal. Contact: WA 081378517454, skusyudhanto@gmail.com - please donate for blog development, Indonesia Bank Account: Bank Syariah Mandiri no:7114465962
Thursday, March 2, 2017
Buku "Sikap Ahlussunnah wal Jama’ah Terhadap Ahli Bid’ah" set 2 jilid", Penulis: Dr. Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili
Buku "Sikap Ahlussunnah wal Jama’ah Terhadap Ahli Bid’ah" set 2 jilid", Penulis: Dr. Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili
Penerbit: Darul Falah
Buku ini adalah salah satu buku terjemah Kitab Mauqif Ahl As-Sunnah Wa Al Jamaah min Ahl Al-Hawa’ wa Al-Bida’, Dalam buku ini merupakan panduan berinteraksi kaum muslimin di zaman sekarang terhadap para ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu. Menjelaskan tentang sikap-sikap para salaf terhadap para ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu dengan bersandar kepada nash-nash dari kitabullah, As-Sunnah dan Atsar-Atsar dari para Salaf.
Bagaimanakah sikap Ahlussunnah wal jamaah dari tindakan pengafiran, pemfasikan, laknat, dan penerimaan amal ahli bid’ah di sisi Allah serta ketentuan tobat mereka?
Bagaimanakah sikap Ahlussunnah wal jamaah terhadap hukum shalat di belakang ahli bid’ah, mengadakan pernikahan terhadap mereka, membesuk mereka yang sakit, menyelenggarakan jenazah mereka, dan hukum waris mereka?
Bagaimana sikap Ahlussunnah wal jamaah dalam membenci, menceritakan keburukan, mengucapkan salam, duduk bersama, tidak menghormati, berdebat, dan menghukum para pelaku bid’ah?
Bagaimana sikap Ahlussunnah wal jamaah dalam menerima kesaksian dan riwayat ahli bid’ah serta hukum memberdayakan mereka dalam bidang pendidikan dan jihad?
Semoga bermanfaat.
Harga Jilid satu 95 ribu
Harga jilid dua 81 ribu.
Harga belum termasuk ongkos kirim, bagi teman yang berminat silahkan inbox atau WA 081378517454, semoga menjadi info manfaat, syukron.
Dakwah setan salah satunya yakni menanamkan syubhat dalam diri manusia.
Dakwah setan salah satunya yakni membuat sebuah perkara menjadi samar, kabur, remang2 sehingga perkara yang semulanya terang dan jelas menjadi sulit dilihat kebenaran dan kesalahan didalamnya. Akibatnya manusia sulit membedakan mana kesesatan dan mana hidayah, mana sunnah dan mana bid'ah, mana ketaatan dan kemaksiatan, mana halal dan haram dan seterusnya.
Dan gejala menyamarkan sebuah perkara banyak terjadi dijaman ini, dalam salah satu kajian Ustadz Firanda Adirja menjelaskan bagaimana usaha manusia yang tertipu dakwah setan ini mengkaburkan sebuah perkara, "misal dijaman dahulu sekitar tahun 80an wanita nakal dijaman itu disebut Wanita Tuna Susila(WTS), maka pada saat itu seorang wanita yang mendapat gelar WTS akan sangat malu dan menutupi jika dia bekerja menjajakan cinta, di akan menutupi rapat2 pekerjaannya itu. Bandingkan dengan jaman sekarang, profesi yang sama disebut dengan Pekerja Sex Komersial(PSK), maka gara2 memperhalus istilah ini dampaknya sangat luas, derajat pekerjaan yang berhubungan dengan zina ini menjadi agak " mulia" dimata masyarakat. Makanya jangan heran jika pada suatu saat seseorang bertanya, "pekerjaannya apa mbak?", dia akan menjawab dengan percaya diri menjawab " PSK mas". Sama halnya dengan penamaan riba yang diganti dengan bunga, kalau saja setiap istilah bunga dikembalikan ke istilah asalnya yakni riba, niscaya orang tidak akan mau menabung di bank, mengambil kredit rumah, mengambil kredit motor dan seterusnya, karena mereka akan takut terjebak riba. Bagaimana tidak takut kalau kita nabung dibank kemudian costumer servicenya bilang, "pak ini ribanya sekian ya pak", atau " pak jumlah riba dalam kredit rumah bapak sekian", jika demikian mungkin transaksi yang berkaitan riba akan tutup karena konsumennya takut terlibat riba. Maka untuk memperhalusnya mereka ganti dengan bunga, agar terkesan indah, siapa yang gak mau dikasih bunga?".
Syubhat artinya samar, kabur, atau tidak jelas. Penyakit syubhat yang menimpa hati seseorang akan merusakkan ilmu dan keyakinannya. Sehingga jadilah “perkara ma’ruf menjadi samar dengan kemungkaran, maka orang tersebut tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari kemungkaran. Bahkan kemungkinan penyakit ini menguasainya sampai dia menyakini yang ma’ruf sebagai kemungkaran, yang mungkar sebagai yang ma’ruf, yang sunnah sebagai bid’ah, yang bid’ah sebagai sunnah, al-haq sebagai kebatilan, dan yang batil sebagai al-haq”. [Tazkiyatun Nufus, hal: 31, DR. Ahmad Farid]
firman Allah Azza wa Jalla.
فِي قُلُوبِهِم مَّرَضُُ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذّابٌ أَلِيمُ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ {10} وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفسِدُوا فِي اْلأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ {11}
Dalam hati mereka (orang-orang munafik) ada penyakit (syubhat; keraguan), lalu Allah menambah penyakit itu; dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” [Al Baqarah : 10-11]
Referensi artikel *syubhat dan syahwat", karya Ustadz Muhammad Atsari di muslim.or.id.co
Ulama bukan Nabi dan Rasul.
Dalam sebuah kajian seorang jamaah bertanya kepada Ustadz Firanda Adirja tentang kebenaran umur umat ini hanya 1500 tahun, "apakah ini benar ustadz?", kata beliau, " yang menyampaikan bahwa umur umat ini hanya 1500 tahun hijriyah adalah Imam Suyuti dalam kitab karya beliau, meskipum beliau dikenal sebagai ulama besar dijamannya namun beliau manusia biasa yang dapat saja melakukan kesalahan, sesungguhnya ini tidak benar. Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam yang jauh lebih tinggi derajat keimanan dan ketakwaannya, serta manusia ma'shum dimuka bumi pernah ditanya oleh seorang badui tentang kapan datangnya hari kiamat, namun beliau juga tidak tau kapan datangnya secara tepat, hal ini menunjukkan bahwa mengetahui kapan datangnya kiamat adalah sebuah kesalahan. Ini menunjukkan bahwa seorang ulama bukan manusia yang ma'shum, bersih dari dosa dan kesalahan. Sebenarnya ada ulama yang lebih besar dari Imam Suyuti yang juga berpendapat salah soal ini, yakni Imam Thabari, seorang ulama besar, perawi hadist yang dipercaya semua ulama berbagai madhzab berpendapat bahwa umur umat ini cuma 500 tahun hijriyah, dan terbukti pendapat beliau salah karena ternyata umat ini masih ada hingga 1400 tahun lebih.
Kalau pendapat Imam Suyuti itu benar tentu kita sudah masuk fase kiamat, karena jarak tahun hijriyah saat ini yakni 1438 tahun ke tahun 1500 tahun hanya beberapa puluh tahun lagi, waallahua'lam. "
Mencintai ustadz boleh, berlebihan adalah jalan sesat.
Waktu beberapa teman mendengar bahwa Tabligh Akbar Ustadz Syafiq Reza Basalamah akan diadakan di Masjid Ibnu Katsir dan Masjid Imam Syafii di Pekanbaru beberapa waktu yang lalu, mereka bertanya-tanya, "gak salah nih?", karena kedua masjid itu kecil, mungkin kapasitas 1000 orang saja, padahal kalau Ustadz Syafiq Reza Basalamah bikin kajian di Pekanbaru pasti dihadiri ribuan orang, bahkan pernah diadakan di Masjid An Nur yang merupakan masjid terbesar di Provinsi Riau dengan kapasitas lebih 5000 orang itupun gak sanggup menampung jamaah yang hadir. Ditengah pembicaraan kami akhirnya disela seorang ustadz, beliau berkata, " jangan berlebihan membesarkan beliau, semua ustadz sama saja gak berbeda. Justru dengan membesarkan Ustadz Syafiq Reza Basalamah secara berlebihan jadi beban bagi beliau, itu merupakan ujian baginya, dan tidak mudah bagi seseorang menerima pujian dan sanjungan secara terus menerus. Dan paling bahaya dari hal ini dapat menjerumuskan kita pada sikap ghuluw yang tercela", subhanaallah, nasehat yang sangat kami perlukan karena jadi mengingatkan kami agar menjauhi ghuluw yang dicela oleh para ulama bahkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam sendiri. Karena ghuluw(berlebihan dalam agama) dapat menjerumuskan seorang ulama menjadi ujub dan bagi jamaah yang mengikutinya dapat terjerumus dalam kesalahan berjamaah jika ulama yang diikuti berpendapat menyalahi syariat Allah dan RasulNya.
Seperti yang terjadi pada kaum nasrani sebegitu ghuluwnya mereka kepada Isa Al Masih sampai memjadikannya Tuhan, sehingga pemahaman nasrani itu berlangsung sampai hari ini, subhanaallah.
Dalam hadits yang diriwayatkan dari `Abdullah bin Abbâs Radhiyallahu anhu, dia berkata: “Pada pagi hari di Jumratul Aqabah ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di atas kendaraan, beliau berkata kepadaku: “Ambillah beberapa buah batu untukku!” Maka aku pun mengambil tujuh buah batu untuk beliau yang akan digunakan melontar jumrah. Kemudian beliau berkata:
أَمْثَالَ هَؤُلاَءِ فَارْمُوْا ثُمَّ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ
“Lemparlah dengan batu seperti ini!” kemudian beliau melanjutkan:
“Wahai sekalian manusia, jauhilah sikap ghuluw (melampaui batas) dalam agama. Sesungguhnya perkara yang membinasakan umat sebelum kalian adalah sikap ghuluw mereka dalam agama.”[Tafsîrul-Qur’ân al-Azhîm, Ibnu Katsîr.]
Allah Azza wa Jalla berfirman:
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. [al-Mâ`idah/5:77]
Sumber referensi: //almanhaj.or.id-fenomena-ghuluw-melampaui-batas, oleh Ustadz Abu Ihsan Atsari.
Imam Bukhary rela memakan rumput demi mendapatkan ilmu, kita bagaimana?
Waktu Ustadz Abu Zubair Haawary membahas sejarah perjuangan para ulama besar dalam menuntut ilmu dimasa lalu, hati ini jadi sangat malu, kita yang mudah menjangkau tempat kajian dengan kendaraan bermotor pun masih dihinggapi rasa malas, membaca kitab para ulama sering dihinggapi kejenuhan, dan banyak kemalasan lainnya.
Salah satu kisah paling memukau diantaranya yakni ketika Imam Bukhary pada suatu saat sempat memakan rumput karena sebegitu laparnya, hal itu disebabkan beliau sibuk mencari ilmu, terutama mengambil hadist dari banyak ulama yang tersebar di jazirah Arab, masyaAllah.
IMAM AL BUKHARI menyampaikan, ”Suatu saat aku melakukan perjalanan
menuju tempat tinggal Adam bin Abi Iyas. Saat itu seluruh bekalku sudah
habis, hingga aku makan rerumputan dan aku tidak memberitahukan perihal
itu kepada siapa pun.
Imam Al Bukhari pun melanjutkan kisahnya,”Di hari ke tiga datanglah seseorang yang sama sekali tidak aku kenal, dia membawa kantong berisi dinar dan menyamapikan kepadaku,’gunakanlah ini untuk nafkahmu.”. (Siyar A’lam An Nubala, 12/448)*
Imam Al Bukhari pun melanjutkan kisahnya,”Di hari ke tiga datanglah seseorang yang sama sekali tidak aku kenal, dia membawa kantong berisi dinar dan menyamapikan kepadaku,’gunakanlah ini untuk nafkahmu.”. (Siyar A’lam An Nubala, 12/448)*
Bagi tugas
Berdasarkan cerita seseorang ustadz menyebutkan Ustadz Syafiq Reza Basalamah pernah ditanya jamaah, "kenapa ustadz tidak pernah membahas tentang bid'ah dan semacamnya?, bukankah mendakwahkan bid'ah termasuk dalam dakwah Sunnah?". Jawaban Ustadz Syafiq kira2 seperti ini, " kenapa saya jarang menyampaikan soal ini, karena jika seseorang sudah mengenal Sunnah insyaAllah dengan sendirinya dia akan meninggalkan amalan bid'ah nya, tampa diperingatkan lagi".
Kalau ini benar mungkin inilah yang terbaik, harus ada yang berdakwah dengan cara lembut semacam Ustadz Syafiq Reza Basalamah atau Ustadz Abdullah Zein, dan juga harus ada yang tegas dalam menyampaikan semacam Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas atau Ustadz Maududi Abdullah. Alasannya simpel, karena inilah dakwah Sunnah, Amar ma'ruf Nahi Munkar, harus ada yang bagian Amar ma'ruf dan dibagian lain ada yang Nahi Munkar. Karena jika semua ustadz lemah lembut maka jadi dakwah gaul kalau semuanya ustadz tegas maka jadi ekstrem, waallahua'lam.
Kebanyakan diantara kita berjiwa miskin.
Kalau lihat antrean orang mendapat raskin(beras bantuan untuk orang miskin), atau dulu ada bantuan tunai sering dibikin heran, maklum dimana diantara yang antri menurut saya bukan termasuk orang miskin namun ngaku sebagai orang miskin, hal ini terlihat orang yang masuk antrean ada yang datang membawa hp android mahal, ada juga yang datang menggunakan taksi, ada diantara antrean wanita yang menggunakan perhiasan emas berjejer di tangannya dst., subhanaAllah. Melihat hal ini jadi ingat kajian Ustadz Muhammad Arifin Badri, dalam kajian tersebut beliau membandingkan keimanan umat di jaman Umar bin Khatab Radhliyaa Anhuu menjadi Khalifah dengan kualitas keimanan umat dijaman ini. Dikisahkan saat Umar bin Khatab Radhliyaa Anhuu menjadi khalifah menyebarkan edaran kepada seluruh Gubernur diberbagai daerah yang ada diwilayah kekuasaannya, dalam isi edarannya itu beliau memerintahkan setiap gubernur untuk membiayai dengan uang negara(baitul mal) bagi siapa saja yang kurang mampu namun punya keinginan pergi berhaji, alias pergi haji gratis. Padahal wilayah kekuasaan kekhalifahan dijaman itu sangat luas yakni mencakup sebagian Afrika, sebagian Eropa sampai mendekati India, kalau semua dikumpulkan semua penduduk saat itu akan berjumlah jutaan orang. Namun seruan ini tidak laku, hampir semua orang di wilayah kekhalifahan Umar bin Khatab Radhliyaa Anhuu saat itu tidak mau ibadah hajinya dibiayai negara yang diambil dari baitul mal, kebanyakan mereka merasa bangga jika biaya ibadah hajinya dibiayai sendiri, dan merasa malu jika dalam urusan ibadahnya kepada Allah Azza Wajalla dibayari dari baitul mal yang diperuntukkan bagi fakir miskin dan penyelenggaraan pemerintahan, masyaAllah.
Perintah untuk membiayai ibadah haji dari sudah dipahami sejak awal akan demikian hasilnya, tawaran haji gratis itu gak laku karena Umar bin Khatab Radhliyaa Anhuu sangat paham keadaan rakyatnya yang saat itu punya kualitas keimanan dan ketaatan kepada Allah Azza Wajalla yang luar biasa sehingga menganggap pengorbananya dengan membiayai sendiri ibadah hajinya adalah salah satu upaya mencari ridho Allah Azza Wajalla semata, sehingga dijaman itu aset baitul mal sangat melimpah.
Bandingkan umat saat ini?, misalkan saja suatu saat Pak Jokowi menyampaikan ke rakyat Indonesia bahwa pemerintah akan membiayai siapa saja yang ingin pergi haji namun kurang mampu dari dana APBN, maka pasti hampir semua orang di negri ini tiba-tiba akan mengaku miskin, dan akibatnya pasti APBN akan ludes dan minus, mungkin malah berhutang gara2 hal ini, subhanaAllah.
Dari ilustrasi diatas dapat kita lihat betapa kualitas keimanan dan ketaatan umat dijaman Shalafus Shaleh jauh diatas ketaatan dan keimanan umat dijaman ini, sungguh benar Allah Azza Wajalla memerintahkan agar kita mengikuti mereka(At Taubah 100), waallahua'lam.
Subscribe to:
Posts (Atom)






