Monday, October 3, 2016

Ingat pasanganmu adalah pakaian bagimu.


Seorang suami ketika pergi dari rumah selama perjalanan ke tempat kerja dia bertemu banyak wanita, dan banyak diantaranya yang berpenampilan menarik, mereka mempercantik diri ketika berada diluar rumah, demikian juga ketika si suami berada ditempat kerja, disekelilingnya banyak wanita bersolek cantik, ketika sisuami pulang menuju rumah, dijalan ditemuinya banyak wanita berpenampilan menarik, dia bertemu spg yang berpakaian minim dan bersolek se cantik mungkin, tentu bikin suami makin pengen cepat sampai di rumah, berharap dapat bertemu sang istri menjadi tempat pelampiasan keinginannya. Namun dia kecewa ketika disampai dirumah yang ditemui istrinya berpenampilan buruk, si istri memakai daster yang buruk, dan bau minyak, bau kompor karena baru selesai di dapur, lalu si suami mengurungkan niatnya mendekati istrinya dan berusaha berfikir positif, mungkin istrinya baru saja selesai memasak, dan si suami berharap mungkin nanti malam si istri berpenampilan lebih baik, lebih cantik dari saat itu. Namun ketika malam menjelang penampilan istrinya justru bikin makin kecewa, istrinya malah mirip monster, si istri memakai masker putih di wajahnya, dan bagian matanya ditutup dengan dua irisan mentimun, SubhanAllah. Semoga ini sebagai pengingat agar suami dan istri saling memperindah diri untuk pasangan nya, karena fungsi pakaian salah satunya adalah memperindah.
Allah berfirman :
“Mereka (para istri) itu adalah pakaian bagi kalian dan kalian adalah pakaian bagi mereka.” (Al-Baqarah: 187)
QS. Al-A’raaf ayat 26 yang berbunyi: “Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan, pakaian takwa itu yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”
Dalam ayat tersebut terdapat kalimat "yuwaarii sau'aatikum." Sau'at yang dalam ayat tersebut bermakna aurat. Sau'at berasal dari kata sa'a – yasu'u yang berarti buruk atau tidak menyenangkan. Kata sau'at mempunyai makna yang sama dengan kata aurat. Sedangkan kata aurat sendiri berasal dari kata 'ar yang mempunyai arti onar, aib, atau tercela.
Dikutip dr Ustadz Abdullah Zein MA.

Sangat sedikit manusia menyadari nikmat air asalnya dari Allah.


Ketika seseorang meminum air dalam gengamannya kebanyakan hanya hal biasa, banyak orang menyadari dengan sadar bahwa air menopang hidupnya, dengan sadar dia mengakui bahwa manusia tidak akan dapat hidup tampa air, karen bagian tubuhnya 70% adalah air, maka dia sangat tergantung kepada air. Namun sangat sedikit manusia ketika meminum segelas air dengan sadar mengakui yang diminumnya sampai kepadanya atas berlakunya hukum-hukum yang ditetapkan oleh Allah.
Allah Ta’ala berfirman,
أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ (68) أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ (69)
”Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?” (QS. Al Waqi’ah [56] : 68-69)
Begitu juga firman Allah Ta’ala,
وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا (14)
”Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah.” (QS. An Naba’ [78] : 14)
Allah Ta’ala juga berfirman,
فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ
”Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya.” (QS. An Nur [24] : 43) yaitu dari celah-celah awan.[1]
Dikutip dr Ustadz Maududi Abdullah Lc.

Sunday, October 2, 2016

Yang menilai kita sombong diri kita atau Allah?.


Saya pernah bertanya kepada salah seorang kyai, " Maaf pak kyai kok sarung sampeyan isbal, bukankah isbal dilarang secara syariat, bahkan dalam Kitab Riyadush Shalihin Imam Nawawi berdasarkan sebuah hadist menyebut shalat seseorang yang isbal tidak diterima amalannya, meskipun hadist ini di dhaifkan oleh Syaikh Al Albani, namun 11 hadist lainnya sanadnya bagus, dan wajib kita terima", lalu dia menjawab, "sampeyan itu salah memahami hadist, isbal itu dilarang jika yang melakukan berlaku sombong, jika gak sombong ya gak apa2". Jawaban ini bikin penasaran, lalu saya bertanya lagi, " Bukankah yang menilai diri kita sombong atau tidak adalah Allah pak kyai?, lalu bagaimana caranya kita tau sombong atau tidak??", kyai langsung diam, sambil berguman, "dasar wahabi". SubhanaAllah.
Imam Syafii dan Imam Nanwawi mengatakan:
Tidak boleh isbal di bawah mata kaki jika sombong, jika tidak sombong maka makruh (dibenci). Secara zhahir hadits-hadits yang ada memiliki pembatasan (taqyid) jika menjulurkan dengan sombong, itu menunjukkan bahwa pengharaman hanya khusus bagi yang sombong
(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim karya Imam An Nawawi)
Bahkan dalam Riyadhusshalihin Imam Nawawi sengaja membuat bab yang berjudul “Bab Sifat Panjangnya Gamis, Kain Sarung, dan Ujung Sorban, dan haramnya isbal (memanjangkan) hal tersebut karena sombong, dan makruh jika tidak sombong”, yaitu bab ke-119.
"Apa saja yang melebihi dua mata kaki dari kain sarung, maka tempatnya di neraka"
(HR. Bukhari no. 5787)
waallahua'alam

Ikhlas kunci seseorang masuk surga


Beberapa waktu yang lalu tampa sengaja saya masuk sebuah lorong, dan nampak dari kejauhan seorang pemuda berjenggot dan bercelana cingkrang menaruh sebungkus makanan di emperan sebuah ruko, diletakkan di tumpukan karton dimana biasanya disitu seorang wanita gila tidur. Pemuda itu menaruh makanan ketika si wanita gila tidak ada ditempat itu, SubhanAllah, tiba-tiba saya jadi terharu bercampur iri, inilah keikhlasan tertinggi, karena dia tidak berharap sesuatu dari yang dia berikan, bahkan ucapan terima kasih dari wanita gila itu, saya iri karena belum mampu melakukan demikian, terlalu banyak tujuan dan alasan duniawi sementara sedikit yang hanya berharap ridho Allah ketika melakukan sesuatu. Beberapa minggu kemudian saya bertemu dia di kajian ilmu Ustadz Erwandi Tarmidzi, MasyaAllah, pemuda yang baik. Jadi ingat kisah hadist dimana ada lelaki dan wanita pelacur yang masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing, keduanya melakukan itu tidak berharap sesuatu apapun atas tindakannya, beberapa ulama ketika membahas hadist ini menyebut inilah keikhlasan tertinggi yang menghantarkan dia ke surga, karena tidak berharap apa2, bahkan tidak juga ucapan terima kasih dari seekor anjing.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِى بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِى كَانَ بَلَغَ مِنِّى. فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ حَتَّى رَقِىَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِى هَذِهِ الْبَهَائِمِ لأَجْرًا فَقَالَ « فِى كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ »
“Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, dia merasakan kehausan yang sangat, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, ‘Anjing ini kehausan seperti diriku.’ Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari binatang?” Beliau menjawab, “Setiap memberi minum pada hewan akan mendapatkan ganjaran.” (HR. Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 2244)
Juga dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا
“Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu menngelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.” (HR. Muslim no. 2245).
Semoga mampu menjadi insan yang ikhlas ketika melakukan sesuatu, aamiin.

Saturday, October 1, 2016

JADILAH PEMAAF


Oleh
Al Maghriby bin As Sayyid Mahmud Al Maghriby
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. [Ali Imran : 134]
Allah berfirman.
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. [Al A’raaf : 199]
Allah berfirman.
فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ
Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik. [Al Hijr : 85]
Dari Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah bersabda kepada Abdul Qais.
إنَّ فِيْكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا الله: الْحِلْمُ وَاْلأنَاة.
Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang dicintai Allah, Al Hilm (pemaaf) dan Anah (murah hati). [1]
Pemaaf dan murah hati merupakan sifat paling mulia yang harus dimiliki oleh setiap pendidik teladan karena sifat merupakan kebaikan di atas kebaikan. Dan kedua sifat itu sangat dicintai Ar Rahman. Oleh sebab itu seorang pendidik harus menjadi pemaaf dan murah hati apapun yang dilakukan oleh seorang anak. Maka hendaklah menjadi seorang pemaaf dan jangan memberi sanksi kepada anak dalam keadaan marah. Pergaulilah anakmu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Terimalah apa adanya tidak menuntut yang paling ideal. Luruskan tingkah lakunya, perbaikilah dan didiklah dengan etika dan adab yang baik.
Pemaaf merupakan sifat yang mulia yang diberikan Allah kepada para rasul dan para nabi sebagaimana dalam firman-Nya.
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ
Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah. [Huud : 75]
Dan pemaaf merupakan sifat yang paling mulia karena Allah mensifati diri-Nya dalam firman-Nya.
وَاللهُ غَنِيٌّ حَلِيمُُ
Allah Maha Kaya dan Maha Penyantun. [Al Baqarah :263 ]

Kenapa kebaikan selalu jadi bahan olokan?


Di masyarakat kita sering ada olok-olokan dan ejekan, namun anehnya yang diolokkan selalu berkaitan dengan kebaikan, semisal sok alim, sok syar'i, sok nyunnah, sok tau, sok baik dst., kenapa gak soal keburukan misal sok porno, sok nyopet, sok syirik, sok bid'ah dan sok keburukan lainnya. Mungkin itu kerjaan setan yaa? Yang berhasil membisiki manusia agar terhalang ke pada kebaikan, Waallahua'lam.

Banyaknya orang bukan ukuran kebenaran.



Warung sebelah selalu membanggakan jumlah jamaah mereka yang besar, memang benar jumlah mereka besar, konon sekitar 30juta. Masalahnya ukuran kebenaran bukan dari banyaknya jamaah, tapi dari kebenaran yang dia bawa. Menurut Ustadz Maududi Abdullah Lc., Allah ketika menyebutkan banyaknya orang selalu berkaitan dengan dengan kesesatan dan azab, sementara ketika Allah menyebut sedikitnya orang Dia sedang membicarakan Hidayah dan kebaikan.
1. Kebanyakan manusia menyesatkan :
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ
“Seandainya kalian mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, sungguh mereka akan menyesatkan kalian dari jalan Allah (Qs:al An’aam:116)
2. Kebanyakan manusia tidak bersyukur:
إِنَّ اللّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَشْكُرُونَ
“..akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur” (Qs Al Baqoroh:243)
3. Kebanyakan manusia tidak mengetahui kebenaran:
وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ
“…akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Qs.Al A’raf:187)
4. Kebanyakan manusia lalai mengingat Allah:
وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ
“.. dan sesungguhnya kebanyakan manusia itu lengah terhadap tanda tanda kekuasan Kami” (Qs.Yunus:92)
5. Kebanyakan manusia itu fasik:
وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
“..dan sesungguhnya kebanyakan manusia itu benar benar fasiq” (Qs.Al Maa’idah:49)
6. Kebanyakan manusia mengingkari Al Quran:
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِي هَـذَا الْقُرْآنِ مِن كُلِّ مَثَلٍ فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلاَّ كُفُوراً
“ dan sesungguhnya Kami telah mengulang ulang kepada manusia didalam Al-Quran ini setiap macam perumpamaan, tetapi kebanyakan manusia tidak menyukai selain mengingkari”. (Qs.Al Isra’:89)
7. Kebanyakan manusia mengingkari berjumpa dengan Allah:
وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ بِلِقَاء رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ
“ Dan sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar benar ingkar akan pertemuan dengan rabb-nya. (Qs.Ar Ruum:8)
8. Kebanyakan manusia tidak beriman:
وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يُؤْمِنُونَ
“ ..akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman”. (Qs.Hud:17)
Saudaraku yang dirahmati oleh Allah, tahukah engkau, bahwa:
1. Sedikit sekali manusia yang bersyukur:
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“ Sedikit sekali dari hamba-Ku yang bersyukur.” (Qs.Saba’:13)
2. Sedikit sekali manusia yang beriman:
وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ قَلِيلاً مَا تُؤْمِنُونَ
“ ..Sedikit sekali kalian beriman kepadanya. (Qs.Al Haaqqah:41)
3. Sedikit sekali manusia menginggat Allah:
مَّعَ اللَّهِ قَلِيلاً مَّا
“ Sangatlah sedikit kalian-Nya.” (Qs.An Naml:62)
4. Sedikit sekali manusia yang mau mengambil pelajaran.
مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء قَلِيلاً مَّا تَذَكَّرُونَ
“..Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran” (Qs.Al A’raf:3)